260 Murid SMPN 5 Karanganyar Diajak Ubah Sampah Plastik Jadi Produktif

banner 468x60

Portalika.com [KARANGANYAR] — Anggota Pusat Pengembangan Kewirausahaan (PPKwu) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret (UNS) mengadakan pengabdian kepada masyarakat di SMP Negeri 5 Karanganyar, pada 21–24 September 2026.

Kegiatan difokuskan mengubah sampah plastik menjadi produk bermanfaat sekaligus menumbuhkan jiwa kewirausahaan sejak dini.

banner 300x250

Mengusung tema “Projek Ecopreneurship: Dari Bahan Bekas Menjadi Kebun Sayur Wirausaha”, program ini melibatkan siswa dalam serangkaian kegiatan praktik pengolahan galon dan botol plastik bekas menjadi pot tanaman, pembuatan rak tanaman dari kayu dan bambu bekas, penanaman sayuran, hingga pengenalan potensi ekonomi dari hasil budidaya.

Kegiatan diikuti 260 siswa dan diawali dengan sambutan Kepala SMPN 5 Karanganyar, Darmawan Sugiharso, SPd, MPd dilanjutkan penjelasan program oleh Ketua PPKwu LPPM UNS, Dr Tutik Susilowati, SSos, MSi.

Pelatihan pengolahan galon dan botol bekas menjadi pot tanaman disampaikan Dr Dyah Yuni Kurniawati, SSn, MSn, dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) UNS, Jurusan Seni Rupa.

Pada hari kedua, siswa mempraktikkan pembuatan pot dengan pendampingan guru. Kegiatan dilanjutkan pada hari ketiga dengan pembuatan rak tanaman menggunakan kayu dan bambu bekas.

Pada hari keempat, siswa belajar menanam sayuran pada pot yang telah dibuat dengan pendampingan Dimar Hantari, SP, MP, dosen Program Studi D3 Agribisnis Sekolah Vokasi UNS.

Ketua PPKwu LPPM UNS, Dr Tutik menjelaskan bahwa projek ini dirancang untuk memperkenalkan kewirausahaan melalui pengalaman belajar yang nyata dan dekat dengan kehidupan siswa.

“Inti dari Projek Ecopreneurship ini adalah membangun pola pikir kewirausahaan sejak dini melalui pembelajaran yang nyata. Kami ingin siswa memahami bahwa kreativitas dapat mengubah bahan bekas menjadi produk bernilai manfaat dan ekonomi, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan. Harapannya, kebun produktif yang dibangun bersama ini tidak berhenti sebagai hasil kegiatan pengabdian, tetapi menjadi laboratorium pembelajaran dan kewirausahaan yang terus hidup di sekolah,” katanya.

BACA JUGA  Peduli Lingkungan, Mangkunegara X Dan Iwan Fals Tanam Sawo Kecik. Apa Filosofinya?

Menurutnya, pengolahan bahan bekas yang dipadukan dengan kegiatan budidaya tanaman memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengenal proses penciptaan produk sekaligus memahami potensi nilai ekonominya.

Sedangkan Dr Dyah Yuni Kurniawati, yang saat ini menekuni bidang Green Art, menyampaikan bahwa kegiatan pengolahan galon dan botol plastik bekas merupakan praktik kreativitas yang dapat mengubah cara pandang siswa terhadap sampah.

“Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, kami ingin mengajak siswa SMPN 5 Karanganyar untuk mengubah cara pandang terhadap sampah plastik. Galon dan botol plastik bekas yang selama ini dianggap tidak berguna sebenarnya masih memiliki potensi untuk diolah menjadi produk yang bermanfaat dan memiliki nilai estetis,” ungkap Dyah.

Dalam perspektif seni rupa, lanjutnya, proses tersebut merupakan bentuk kreativitas, yakni kemampuan melihat kemungkinan baru dari material yang sudah tidak digunakan.

Transformasi galon dan botol plastik menjadi pot tanaman tidak hanya menghasilkan benda fungsional, tetapi juga menghadirkan nilai keindahan dan pesan kepedulian terhadap lingkungan.

“Hal ini sejalan dengan semangat Green Art, yaitu pendekatan berkesenian yang mengintegrasikan kreativitas, estetika, dan kesadaran ekologis. Kami ingin menanamkan pemahaman kepada siswa bahwa seni tidak hanya menghasilkan karya yang indah, tetapi juga dapat menjadi sarana edukasi dan solusi kreatif terhadap persoalan lingkungan,” jelasnya.

BACA JUGA  Voice of Ramadan Sesi IV Bahas Jurnalisme di Era AI, Tekankan Akurasi, Etika dan Kepercayaan Publik

Ia berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan generasi muda yang kreatif, inovatif, dan memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan, dimulai dari lingkungan sekolah dan kehidupan sehari-hari.

Kepala SMPN 5 Karanganyar, Darmawan Sugiharso, mengapresiasi kegiatan pengabdian masyarakat yang dinilai memberikan pengalaman kontekstual bagi siswa.

Menurutnya, program ini sejalan dengan upaya sekolah dalam membekali peserta didik dengan keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kegiatan ini sangat bagus untuk mengubah mindset anak-anak menjadi ecopreneur. Mereka tidak hanya diajak membuat pot dari galon dan botol bekas, tetapi juga belajar menanam dan dikenalkan sampai pada bagaimana hasilnya dapat dijual,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa kegiatan tersebut memberikan bekal keterampilan nonakademik atau soft skill, sekaligus mengintegrasikan substansi pembelajaran dan literasi.

“Program ini sesuai dengan program sekolah, yaitu memberikan bekal kepada siswa melalui pengalaman kontekstual yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ini menjadi bekal soft skill yang bermanfaat bagi mereka. Ada substansi pembelajaran dan literasi yang dapat kita petik dari kegiatan pengabdian ini,” lanjutnya.

Darmawan berharap program tersebut tidak berhenti setelah kegiatan pengabdian selesai, tetapi dapat terus dikembangkan dan diaplikasikan di lingkungan masyarakat.

“Harapan kami, program ini tidak berhenti sampai di sini. Semoga dapat terus berlanjut dan diterapkan di masyarakat sehingga manfaatnya semakin luas,” tambahnya.

Kebun sayur yang dibangun melalui projek ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran lintas mata pelajaran. Dalam pembelajaran IPA, siswa dapat mengamati pertumbuhan tanaman dan lingkungan.

Pada Matematika, kegiatan pengukuran, pencatatan data pertumbuhan, serta penghitungan hasil panen dapat menjadi bahan praktik. Sementara itu, pembelajaran Bahasa Indonesia dapat diperkuat melalui kegiatan membaca, menulis, mengamati, dan menyampaikan informasi.

BACA JUGA  Wapres dan Gubernur Luthfi Cek MBG di Salatiga, 6,3 Juta Orang di Jateng Sudah Terlayani

Proses merawat tanaman juga menjadi sarana pembentukan karakter, seperti disiplin, tanggung jawab, kerja keras, konsistensi, kreativitas, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Melalui kegiatan mengukur, mencatat, membaca informasi, menghitung kebutuhan, dan mengomunikasikan hasil pengamatan, siswa memperoleh pengalaman yang mendukung penguatan literasi dan numerasi.

Dengan demikian, kebun sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat menanam sayuran, tetapi juga berpotensi menjadi ruang belajar kontekstual yang menghubungkan pengetahuan, keterampilan, karakter, lingkungan, dan kewirausahaan.

Antusiasme peserta terlihat dari pengalaman langsung siswa dalam membuat pot dan menanam sayuran. Sherly, salah satu siswa SMPN 5 Karanganyar, mengaku senang mengikuti kegiatan yang diberikan oleh tim UNS.

“Saya senang diberikan materi dari UNS. Dosen pematerinya keren dan mudah ditangkap. Semoga kami bisa menjaga tanaman-tanaman yang sudah kami tanam dan menjualnya, karena ini keren. Pot kami juga keren-keren,” ujar Sherly.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana pembelajaran berbasis praktik dapat mempertemukan kreativitas, keterampilan, kepedulian lingkungan, dan pengenalan kewirausahaan dalam satu kegiatan.

Melalui Projek Ecopreneurship, PPKwu LPPM UNS mendorong siswa untuk melihat bahwa bahan bekas dapat diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat, lingkungan dapat menjadi sumber belajar, dan kegiatan sederhana seperti merawat tanaman dapat menjadi awal tumbuhnya jiwa kewirausahaan.

Program ini diharapkan menjadi langkah awal bagi SMPN 5 Karanganyar untuk mengembangkan kebun produktif yang berkelanjutan sekaligus menanamkan kreativitas, kepedulian ekologis, dan semangat kewirausahaan sejak dini. (DY/*)

Editor: Triantotus

Komentar