Di tengah banjir informasi dan politik pencitraan, masyarakat mudah menemukan tokoh terkenal. Namun menemukan pemimpin yang benar-benar berwibawa menjadi perkara berbeda.
Popularitas dapat dibangun dalam hitungan hari, tetapi karisma membutuhkan proses panjang. Pengikut dapat dikumpulkan melalui algoritma, tetapi kepercayaan tidak lahir dari jumlah followers. Pertanyaannya, mungkinkah pemimpin karismatik lahir pada zaman sekarang? Ya. Sangat mungkin.
Munculnya pemimpin kharismatik di jaman sekarang memiliki tantangan jauh lebih berat. Karisma tidak cukup dibangun melalui kemampuan berbicara, penampilan meyakinkan, atau kepiawaian mengelola media sosial.
Karisma lahir dari perpaduan karakter, kapasitas, visi, empati, keberanian, dan konsistensi antara ucapan dengan tindakan.
Dalam perspektif psikologi kepemimpinan, pemimpin karismatik umumnya memiliki kepercayaan diri, kemampuan komunikasi, keberanian mengambil risiko, dan visi yang kuat.
Ia mampu menginspirasi orang lain karena menghadirkan masa depan yang diyakini lebih baik. Tradisi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, mengenal dimensi yang lebih dalam, yaitu tirakat atau laku.
Menurut budaya Jawa, pemimpin masa lalu tidak hanya dinilai dari jabatan dan kemampuan politik. Wibawa seorang pemimpin juga dikaitkan dengan kualitas batin. Karena itu, tirakat, tapa brata, prihatin, dan pengendalian hawa nafsu menjadi bagian dari konstruksi kepemimpinan tradisional.
Kekuasaan dalam pandangan Jawa klasik tidak semata-mata dipahami sebagai hasil perebutan politik. Ada keyakinan mengenai wahyu atau pulung sebagai legitimasi spiritual. Seorang pemimpin ideal diyakini harus mampu menata dirinya sebelum menata orang lain.
Tirakat dalam pengertian ini bukan sekadar menahan makan, mengurangi tidur, berpuasa, atau menyepi. Substansinya adalah pengendalian diri. Kekuasaan yang besar membutuhkan kemampuan menahan keinginan pribadi.
Pemimpin yang tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya akan mudah menjadikan kekuasaan sebagai alat memenuhi kepentingan diri.
Berangkat dari tirakat itulah lahir konsep prabawa atau wibawa. Orang yang mampu menguasai dirinya cenderung tampil tenang, tidak mudah panik, tidak reaktif, dan tidak haus pengakuan. Ketenangan itu memancar menjadi daya pengaruh.
Dalam bahasa kepemimpinan modern, sebagian substansi tersebut dapat dibaca sebagai presence, power, dan warmth. Presence adalah kemampuan hadir sepenuhnya dan mendengarkan. Power merupakan kapasitas, kompetensi, keberanian, dan ketegasan. Warmth adalah empati, kepedulian, dan itikad baik.
Menariknya, ketiga unsur itu memiliki titik temu dengan kearifan lama. Tirakat membentuk kemampuan mengendalikan diri. Pengendalian diri melahirkan ketenangan. Ketenangan membangun kepercayaan. Kepercayaan melahirkan wibawa.
Sejarah Indonesia menyimpan banyak kisah mengenai pemimpin yang dikaitkan dengan laku spiritual dan keprihatinan. Pangeran Diponegoro, misalnya, dikenal menjalani kehidupan spiritual dan melakukan pengasingan diri sebelum memimpin Perang Jawa.
Tradisi tentang Sultan Agung juga lekat dengan kisah laku batin dan pencarian petunjuk spiritual. Dalam masa perjuangan kemerdekaan, Soekarno dan Jenderal Soedirman pun sering ditempatkan dalam narasi kepemimpinan yang memiliki dimensi spiritual.
Tentu, kisah-kisah tersebut perlu dibaca secara kritis dan ditempatkan dalam konteks sejarahnya. Tirakat tidak dapat dibuktikan secara sederhana sebagai penyebab lahirnya karisma.
Namun, secara sosiologis, kepercayaan terhadap laku spiritual telah membentuk cara masyarakat Nusantara memahami kewibawaan pemimpin. Di sinilah persoalan kepemimpinan modern menjadi menarik.
Pemimpin sekarang menghadapi godaan yang berbeda. Dahulu pemimpin dituntut memiliki laku. Kini ia sering dituntut memiliki branding. Dahulu reputasi dibangun melalui perjalanan panjang.
Kini citra dapat dipoles dalam hitungan menit. Dahulu kesunyian menjadi ruang pembentukan karakter. Kini hampir setiap aktivitas dapat dipertontonkan kepada publik. Akibatnya, seseorang dapat terlihat karismatik tanpa benar-benar memiliki karakter.
Ia bisa pandai berbicara tetapi miskin keteladanan. Bisa memiliki jutaan pengikut tetapi tidak memiliki visi. Bisa tampil sederhana di depan kamera tetapi berbeda ketika berhadapan dengan kekuasaan. Inilah tantangan terbesar pemimpin era digital: jangan sampai karisma berubah menjadi pertunjukan.
Pemimpin karismatik sejati tidak membutuhkan pencitraan berlebihan. Ia memperoleh pengaruh karena integritasnya teruji. Perkataannya dipercaya karena tindakannya konsisten. Ia berani mengambil keputusan, tetapi tidak alergi terhadap kritik. Ia memiliki visi, tetapi tidak kehilangan empati. Ia mampu menggunakan kekuasaan, tetapi tidak diperbudak kekuasaan.
Karena itu, tirakat mungkin tidak perlu dipahami secara sempit sebagai praktik ritual tertentu. Bagi pemimpin modern, tirakat dapat dimaknai sebagai laku pengendalian diri. (**)
*) Yuliantoro, tinggal di Yogyakarta











Komentar