Para Judo Indonesia Persembahkan Dua Medali, Junaedi Naik Kelas Raih Perak

banner 468x60

Portalika.com [NAGOYA, JEPANG] – Judoka tunanetra, Junaedi mempersembahkan medali perak untuk kontingen Indonesia dari nomor -70 kilogram putra J1 Asian Para Games 2026 di Aichi Prefectural Martial Arts Hall, Jepang, Senin, 19 Oktober 2026.

Bersama perunggu yang diraih Dheny Marsyelina di nomor putri -60 kilogram putri J1, tim para judo Indonesia menutup hari pertama dengan dua medali sekaligus memenuhi target yang dibebankan.

banner 300x250

Perak ini menjadi buah manis dari keputusan berani Junaedi naik kelas, dari -60 kilogram ke -70 kilogram. Di kelas barunya, dia langsung melaju ke partai puncak dengan dua kemenangan ippon (satu poin maksimal) yang meyakinkan.

Di perempat final, Junaedi menumbangkan wakil Uzbekistan, Ibrokhimjon Akbarov, hanya dalam 39 detik. Di semifinal, dia kembali menang ippon dalam 38 detik atas atlet India, Kapil Parmar, lawan yang sebelumnya tak pernah bisa ia kalahkan.

“Dulu sering ketemu di kelas -60 kilogram. Selama saya bertanding, saya belum pernah menang sama sekali. Tiga atau empat kali bertemu di event internasional, Grand Prix, World Games, Asian Para Games, Asia Championship, kalah semua,” ungkap Junaedi.

“Begitu saya naik kelas ke -70 kilogram, Alhamdulillah, atas arahan tim pelatih dan dukungan tim ofisial, saya bisa membuktikan kalau saya bisa dan mampu,” lanjutnya.

BACA JUGA  Jangan Ada Kepala Daerah Apatis Program MBG, SPPG Harus Terbuka Untuk Dicek

Di final, Junaedi menghadapi judoka tangguh asal Tiongkok, Zhu Shiwen. Zhu tampil agresif sejak awal dan mencuri yuko di detik kelima, menambah waza-ari di detik ke-33, lalu mengunci kemenangan lewat ippon di detik ke-45.

Meski belum berhasil merebut emas, perak ini melengkapi koleksi Junaedi setelah dia meraih perunggu di Asian Para Games 2022.

Junaedi menyebut lonjakan performanya berkat variasi teknik dan cara memegang lawan (kumikata) yang lebih matang.

“Kalau dulu tekniknya itu-itu aja. Berkat arahan tim pelatih, kumikata-nya langsung, nggak rebutan kumikata. Jadi bisa cari celah, cari posisi ambil teknik yang enak. Timing-nya lebih dapat,” beber dia.

Menurut Junaedi, timing dan mental itu terasah lewat jam terbang. “Sering bertanding keluar, kayak kemarin ke Brasil, ke Georgia, ke Kazakhstan. Akhirnya mental sama timing itu terbentuk sendiri,” tuturnya.

Sebagai atlet tunanetra, Junaedi memadukan insting dengan instruksi pelatih dari pinggir matras.

“Fokus kita itu kebagi dua, sama lawan, sama pelatih. Insting sama instruksi pelatih itu harus pas,” katanya.

Medali ini dia persembahkan untuk banyak orang yang berperan selama persiapan sebelum berangkat ke Nagoya.

BACA JUGA  Karya Dosen DKV ISI Surakarta Ikut Dipajang dalam 2025 Vidak Seoul, Korea Selatan

“Untuk rakyat Indonesia yang telah mendukung, terus keluarga, khususnya istri yang lagi hamil. Untuk ibu, untuk bapak, tim pelatih, tim ofisial, tim CdM, seluruh Indonesia,” ucap Junaedi.

Kebahagiaan Indonesia bertambah lewat Dheny Marsyelina. Di perempat final kelas J1 -60 kg putri, Dheny menaklukkan wakil Thailand, Arisaya Phajen, dengan ippon. Langkahnya ke final memang terhenti oleh judoka Tiongkok, Shi Yijie, di semifinal.

Namun Dheny bangkit di laga perebutan tempat ketiga dan menundukkan wakil Kazakhstan, Aiganym Zhanatbek, lewat ippon untuk memastikan medali perunggu.

Tim pelatih para judo Indonesia, Imam Kuncoro, menyambut hasil ini dengan rasa syukur. Target dua medali dari pemerintah terpenuhi di hari pertama.

“Sebetulnya target kami hanya dua [medali] dari NPC Indonesia. Insyaallah hari pertama ini sudah tercapai. Mudah-mudahan kita bisa menambah,” ujar Imam.

Pasang Target Internal Lebih Tinggi

Imam menilai hasil ini lahir dari persiapan panjang di tengah persaingan yang sangat ketat.

“Di Asia ini sulit, karena yang turun adalah peringkat 1, 2, 3 dunia semua. Judo ini kan pusatnya di Asia,” jelasnya.

“Hampir satu tahun kita mengadakan pemusatan latihan, dan sudah banyak mengikuti single event. Kita sudah siap mental, siap fisik,” imbuh dia.

BACA JUGA  Tragedi di Wonogiri, Anak Tega Mandau Ibu Kandung Hingga Meninggal

Kedekatan antara tim pelatih dan para atlet ikut berperan dalam kesuksesan meraih dua medali pada hari pertama.

“Sudah hampir lima tahun bersama atlet, kami sudah tahu karakter masing-masing. Ada yang harus [dengan cara] lembut, ada yang harus dikerasi. Itu trik kita untuk membangkitkan semangat adik-adik,” ungkap Imam.

Dua judoka Indonesia lainnya juga tampil penuh perjuangan hingga laga perebutan medali. Rafli Ahnaf Shidqi di kelas 70 kilogram putra klasifikasi J1 menunjukkan semangat pantang menyerah.

Setelah menang dramatis lewat golden score atas wakil Yaman di babak 16 besar, Rafli sempat kalah di perempat final dari atlet Uzbekistan, Kosim Safarkulov (Uzbekistan).

Dia bangkit di babak repechage dengan dua kemenangan ippon beruntun atas dua wakil Kazakhstan, Temirbolat Tashekenov dan Assylan Nurdaeletov. Di laga perebutan perunggu, Rafli harus mengakui keunggulan wakil India, Kapil Parmar lewat ippon.

Novia Larassati di kelas J1 -52 kg putri juga bertarung hingga laga perebutan tempat ketiga. Ia kalah tipis lewat nilai yuko dari atlet Uzbekistan, Bonu Babaeva. (Ariyanto)

Komentar