TP PKK Trenggalek Bangun Kerjasama Dengan Daerah Lain Terkait Pengolahan Sampah Dan Ketahanan Pangan

banner 468x60

Portalika.com [TRENGGALEK, JATIM] –  Ketua Tim Penggerak PKK Trenggalek, Novita Hardini, SE, ME, kunjungan kerja ke Kabupaten Magetan, Sabtu, 4 November 2023.

Kunjungannya kali ini dalam rangka studi tiru terkait pengelolaan sampah dan ketahanan pangan di Desa Taji,  Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan, Jatim.

banner 300x250

Novita Hardini getol membangun kerjasama dengan daerah ini untuk bisa melakukan pengelolaan sampah dan membangun ketahanan pangan yang baik di Trenggalek.

Baca juga: Ketua Tim Penggerak PKK Trenggalek Lakukan Kunjungan Kerja Ke Kabupaten Ngawi

Memimpin langsung studu tiru terkait back practice yang dilakukan Desa Taji tersebut, Ketua Tim Penggerak PKK Trenggalek, Novita menuturkan, “membuka mata adalah jalan terbukanya inspirasi. Tanpa melihat, maka seluruh lapisan penggerak masyarakat tidak mampu melahirkan inovasi. Maka, kunjungan kerja kali ini di Magetan adalah dalam rangka memberikan Inspirasi bagi TP PKK Kabupaten Trenggalek, yang kemudian kami rumuskan menjadi program kerja tahun depan.” ucapnya.

Kades Taji, Kecamatan Karas, Kabupaten Mageta, Sigid Supriyadi ini mencuri perhatian pengurus Tim Penggerak PKK Kabupaten Trenggalek yang melakukan studi tiru ke tempatnya. Kepala desa yang menjadi anggota Perbakin itu berhasil mengolah sampah di daerahnya dengan baik dari hasil otak atik yang dilakukan membuat tungku pembakar sampah.

Rombongan Pemkab Trenggalek mendengarkan penjelasa n kerja alat pengolahan sampah. (Portalika.com/Rudi Sukamto)

Tungku yang dibuat, diyakini tidak hanya mengolah tapi menyelesaikan permasalahan sampah tanpa residu polusi. Apalagi pembakaran sampah yang dilakukan tanpa menggunakan listrik atau atau bahan bakar.

Sigid Supriyadi menceritakan pengelolaan sampah di Desa Taji diawali dari perintah Pengasuh Ponpes Temboro kepada Kades Taji yang meminta sampah di pondok bisa diatasi. Permintaan ini disampaikan setelah kabupaten setempat tidak mampu memberikan solusi terbaik terkait sampah di pondok ini.

Yang dilakukan bukan mengolah tapi menyelesaikan sampah. Diawali membuat tempat pembakaran sampah sampai beberapa kali sempat dibongkar terus dibangun lagi. Sebagian sampah dimanfaatkan warga, sisanya baru dilakukan pembakaran.

“Proses pembakaran tidak menggunakan bahan bakar ataupun listrik. Sampah basah atau kering tidak dipilah, kecuali logam atau kaca. Kalaupun terbawa masuk ke tungku tidak masalah namun bisa mengganggu pembakaran” tutur Sigid.

Diyakini Sigid dengan bejana atau reaktor yang menggunakan sedikit bahan kimia dalam proses pembakaran tidak menghasilkan emisi gas karbon yang mencemari lingkungan. Atas keberhasilannya Kades ini sempat memaparkan Tekhnologi Tepat Guna (TTG) yang dibuatnya di Kementrian Desa.

Sigid sendiri lebih memilih kata menyelesaikan bukan mengolah. “Kalau mengolah berarti semua sampah itu diolah. Sedangkan menyelesaikan sampah itu lebih kepada sisa sampah yang bisa dimanfaatkan oleh warga setempat, baru sisanya diselesaikan dengan proses pembakaran,” katanya.

Sigit juga menyampaikan panas tungku pembakaran yang digunakannya bisa mencapai panas 1.300 derajad. Sehingga sampah apapun baik basah maupun kering pasti hancur sehingga sampah ini selesai.

Katanya baja itu bisa meleleh ketika dibakar dengan suhu 1.000 derajad. Dan tungku pembakaran yang dikelolanya bisa mencapai panas 1.300 derajad. Saking panasnya, sampai 2 hari tungku pembakaran ini tidak perlu pematik untuk membakar panas. Sampah masuk otomatis lebur terbakar. Saat ini sudah banyak yang melirik hasil karya Kades Taji tersebut.

Kades Taji menyatakan dalam pembakaran memang masih terdapat residu namun perbandingannya sangat kecil dan ini bisa digunakan untuk campuran semen dan semakin keras. Kemudian karena residu nol bisa digunakan untuk pupuk dan diyakini sangat bagus untuk tumbuhan. Bahkan kalau dibakar kembali residu itu habis tak bersisa. Kemudian perbandingan residu  pembakaran semalam sampah 5 dump truck residunya cuma 2 angkong saja.

Kedepan Kades inovatif ini bercita-cita menciptakan listrik gratis kepada warganya dengan memanfaatkan panas pembakaran sampah ini sehingga menjadi listrik. Alatnya sudah selesai dan dalam waktu dekat akan di-launching.

Sedangkan untuk ketahanan pangan, Kepala Desa ini sedang mengembangkan tanaman Alfukat Siger dari Lampung. Memilih tumbuhan ini karena produktivitas tanamannya sangat produktif. (Rudi Sukamto)

Komentar