Mahasiswa PPG BK Unisri Kenalkan PERMEN, Media Seru Belajar Pertemanan Sehat

banner 468x60

Portalika.com [KARANGANYAR] – Belajar tentang pertemanan tidak selalu harus dilakukan dengan duduk diam dan mendengarkan nasihat. Bagi anak-anak, bermain justru bisa menjadi cara menyenangkan untuk belajar memahami orang lain, bekerja sama, dan mengenal bagaimana menjadi teman yang baik.

Hal inilah yang coba dilakukan mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Bimbingan dan Konseling Universitas Slamet Riyadi melalui PERMEN (Permainan Berteman Keren) di TPQ Al Mujahidin, Desa Gawanan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar.

banner 300x250

PERMEN merupakan media permainan berupa game board yang dikembangkan dari permainan ular tangga. Namun, papan permainan ini tidak hanya berisi kotak-kotak untuk dilalui.

Di dalamnya terdapat kartu pertanyaan, situasi sederhana, hingga tantangan yang berkaitan dengan kehidupan pertemanan anak.

Melalui permainan tersebut, anak-anak diajak untuk berbicara, menjawab pertanyaan, menceritakan pengalaman, sekaligus melakukan tantangan bersama teman.

Dengan cara ini, pembahasan tentang pertemanan tidak terasa seperti sedang menerima materi, tetapi menjadi bagian dari permainan yang mereka jalani.

Ketika Permainan Menjadi Ruang Belajar

Kegiatan PERMEN dilaksanakan pada Jumat, 21 Agustus 2026. Sebelum permainan dimulai, anak-anak terlebih dahulu mengikuti pembukaan dan kegiatan awal. Mahasiswa kemudian mengenalkan permainan serta menjelaskan aturan yang perlu diikuti.

Anak-anak dibagi ke dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok mendapatkan papan permainan yang telah disiapkan. Secara bergantian, mereka memainkan permainan dan mengikuti instruksi sesuai kotak yang diperoleh.

Ada anak yang harus menjawab pertanyaan tentang arti teman yang baik. Ada pula yang diminta menceritakan apa yang akan dilakukan ketika melihat temannya sedang sedih.

BACA JUGA  Kloter Terakhir Haji Mendarat, Penyelenggaraan Haji Di Bandara Adi Soemarmo Usai

Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut membuat anak memiliki kesempatan untuk menyampaikan pendapat berdasarkan pengalaman mereka sendiri.

Misalnya, anak diajak memikirkan apa yang sebaiknya dilakukan ketika memiliki pendapat berbeda dengan teman. Dari pertanyaan sederhana seperti itu, mereka belajar bahwa perbedaan tidak selalu harus berakhir dengan pertengkaran.

Kegiatan juga tidak berhenti pada menjawab pertanyaan. Beberapa tantangan membuat anak harus berinteraksi dan bekerja sama dengan anggota kelompoknya.

Portalika.com/Ist

Mahasiswa yang mendampingi kemudian memberikan penguatan terhadap jawaban dan perilaku positif yang muncul selama permainan.

Aspek yang diperhatikan selama kegiatan meliputi keaktifan bermain, kemampuan bekerja sama, komunikasi, kepedulian, serta sikap menghargai teman. Setelah permainan selesai, anak-anak juga diajak melakukan refleksi mengenai hal yang mereka pelajari dan pengalaman yang paling berkesan selama mengikuti PERMEN.

Belajar Menjadi Teman yang Baik dari Hal-Hal Sederhana

Pertemanan merupakan bagian yang dekat dengan kehidupan anak. Setiap hari mereka bertemu, bermain, berbicara, bekerja sama, dan terkadang juga mengalami perbedaan pendapat dengan teman.

Karena itu, mengenalkan nilai-nilai pertemanan melalui pengalaman langsung menjadi salah satu cara yang dipilih dalam kegiatan ini. Anak tidak hanya diberi tahu bahwa mereka harus menghargai teman, tetapi diberi kesempatan untuk membicarakan dan mempraktikkannya melalui aktivitas bersama.

Pertanyaan seperti “Teman yang baik menurutmu itu bagaimana?” atau “Kalau temanmu sedih, apa yang kamu lakukan?” terdengar sederhana. Namun, pertanyaan tersebut dapat membuka ruang bagi anak untuk memikirkan kembali bagaimana mereka memperlakukan teman dalam kehidupan sehari-hari.

BACA JUGA  Presiden Prabowo Kembali ke Tanah Air, Dukung Papua Nugini Jadi Anggota ASEAN

Begitu pula ketika anak menghadapi tantangan permainan bersama kelompoknya. Mereka belajar bahwa permainan akan lebih menyenangkan ketika setiap anggota mau berkomunikasi, saling membantu, dan menghargai satu sama lain.

Inilah yang menjadi salah satu gagasan utama PERMEN. Permainan digunakan sebagai ruang bagi anak untuk belajar tentang empati, kerja sama, kepedulian, komunikasi, dan sikap saling menghargai.

Bukan Hanya Anak yang Belajar

Bagi mahasiswa PPG yang terlibat, kegiatan ini juga menjadi pengalaman untuk menerapkan kemampuan yang selama ini dipelajari dalam proses pendidikan calon guru.

Mulai dari menentukan kebutuhan, menyusun konsep permainan, membuat media, berkoordinasi dengan pihak TPQ, membagi tugas dalam kelompok, sampai mendampingi anak-anak ketika kegiatan berlangsung. Seluruh proses tersebut menuntut kerja sama dan komunikasi antarmahasiswa.

Proses tersebut juga menjadi bagian dari pembelajaran kepemimpinan. Mahasiswa tidak hanya merancang sebuah kegiatan, tetapi harus memastikan kegiatan tersebut dapat berjalan sesuai kondisi di lapangan.

Selama pelaksanaan, terdapat beberapa kendala kecil, terutama dalam koordinasi teknis dan pengondisian peserta. Beberapa anak juga masih terlihat malu atau kurang aktif untuk terlibat.

Untuk mengatasinya, mahasiswa memberikan kesempatan secara bergantian, memberikan dorongan, serta mengapresiasi setiap keterlibatan anak dalam permainan.

Dari proses tersebut, mahasiswa belajar bahwa kegiatan bersama anak-anak tidak cukup hanya dengan menyiapkan materi dan media. Cara berkomunikasi, kemampuan membaca situasi, serta kesiapan untuk menyesuaikan kegiatan dengan kondisi peserta juga menjadi bagian penting agar kegiatan dapat berjalan dengan baik.

BACA JUGA  Barier di Simpang Tiga Jembatan Lama Nguter Guna Antisipasi Kepadatan Arus Mudik

Harapannya Tidak Berhenti di Satu Hari

PERMEN dirancang bukan sebagai permainan yang hanya digunakan pada saat kegiatan berlangsung. Setelah kegiatan selesai, media tersebut diserahkan kepada pihak TPQ Al Mujahidin agar dapat digunakan kembali dalam kegiatan bermain dan belajar bersama anak-anak.

Permainan juga masih dapat dikembangkan. Kartu pertanyaan dan tantangan dapat ditambah atau disesuaikan dengan tema lain yang dibutuhkan.

Pengurus atau pendamping TPQ juga telah diberikan penjelasan mengenai cara penggunaan permainan sehingga media dapat dimanfaatkan secara mandiri.

Ke depan, konsep permainan seperti PERMEN dapat dikembangkan untuk mengangkat berbagai tema yang dekat dengan kehidupan anak, seperti kerja sama, komunikasi, kepedulian, karakter, maupun keterampilan sosial lainnya.

Pada akhirnya, PERMEN mungkin hanya sebuah permainan papan. Namun, dari sebuah papan permainan, anak-anak mendapatkan kesempatan untuk berbicara, mendengarkan, bekerja sama, dan melihat pertemanan dari sudut pandang yang berbeda.

Sebab, belajar menjadi teman yang baik tidak selalu membutuhkan ruang kelas dan buku. Kadang, proses itu bisa dimulai dari sebuah permainan sederhana, ketika anak belajar bahwa menang bukan satu-satunya tujuan, dan bahwa bermain bersama juga berarti belajar menghargai orang lain. (*)

Penulis: Alfi Fajar Baihaqi, Mahasiswa PPG BK Unisri Surakarta

Editor: Suryono

Komentar