Portalika.com [SURAKARTA] – Wakil Walikota Surakarta, Astrid Widayani, meninjau 10 besar finalis Lomba Gapura Weldon 2026, Jumat (7/8/2026). Peninjauan dilakukan untuk melihat secara langsung kreativitas warga sekaligus menilai hasil karya terbaik dari ratusan peserta yang mengikuti lomba dalam rangka menyemarakkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Lomba Gapura Pitoelasan 2026 merupakan kolaborasi Pemerintah Kota Surakarta dengan PT Citra Warna Abadi melalui produk Weldon. Mengusung tema Nyawiji ing Warna, Memayu Hayuning Gapura, lomba tersebut tidak hanya mendorong masyarakat mempercantik gapura, tetapi juga menampilkan identitas budaya dan karakter masing-masing kampung.
Astrid mengapresiasi antusiasme masyarakat yang mengikuti lomba. Dari peserta yang mencapai sekitar 200-an, telah dipilih 10 gapura terbaik untuk masuk tahap penilaian akhir dan menentukan juara.
“Pesertanya mencapai 200-an, kemudian sudah dipilih 10 besar terbaik. Hari ini kami meninjau 10 besar ini untuk nanti dipilih siapa yang menjadi juara. Tetapi sebenarnya ini bukan hanya tentang menang atau kalah,” kata Astrid di sela peninjauan, Jumat.
Menurut Astrid, nilai utama dari lomba tersebut justru terlihat dari bagaimana masyarakat bergotong royong menghias lingkungan masing-masing menjelang peringatan Hari Kemerdekaan.
“Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat bergotong royong menghias gapura menjelang Hari Kemerdekaan. Kemudian mereka menunjukkan seni-seni dan kearifan lokal yang ada di masing-masing wilayah,” ujarnya.
Astrid menilai kreativitas yang ditampilkan warga dalam lomba menunjukkan setiap kampung memiliki karakter dan potensi budaya yang dapat diangkat melalui desain gapura. Bahkan, dari proses tersebut terlihat adanya talenta seni yang tumbuh di tengah masyarakat.
“Dari lomba ini ternyata banyak seniman-seniman lokal yang bertalenta yang bisa kita lihat. Ada kreativitas yang luar biasa dari masyarakat, termasuk bagaimana mereka mengangkat identitas dan kearifan lokal masing-masing,” kata Astrid.
Keberagaman konsep tersebut terlihat dari 10 finalis yang terpilih. Para peserta tidak hanya mengandalkan permainan warna, tetapi juga menghadirkan karakter lingkungan dan identitas masyarakat, termasuk unsur budaya dan etnis seperti Tionghoa hingga Banjar.
Menurut Astrid, hal tersebut menjadi kekuatan tersendiri bagi Kota Surakarta yang memiliki keberagaman masyarakat dan kekayaan budaya.
“Ini menunjukkan bahwa masyarakat Solo punya kreativitas yang luar biasa. Tidak hanya mempercantik gapura, tetapi juga mampu mengangkat seni, budaya dan kearifan lokal yang ada di lingkungan masing-masing,” tuturnya.
Ia berharap kegiatan tersebut memberikan dampak lebih jauh terhadap penataan lingkungan di Kota Surakarta.
“Harapan kami Solo semakin estetik, semakin tertata, tetapi tetap memiliki karakter. Jadi bukan sekadar bagus secara visual, tetapi juga ada cerita, ada identitas, ada kebersamaan masyarakat di dalamnya,” ungkap Astrid.
Dalam peninjauan tersebut, Astrid juga melihat langsung proses pemaparan konsep dari masing-masing warga, mulai dari filosofi desain, pemilihan warna, hingga proses pengerjaan gapura yang dilakukan secara gotong royong.
Lomba tersebut sebelumnya memang dirancang untuk menilai tidak hanya aspek visual, tetapi juga semangat gotong royong, kreativitas, kebersihan lingkungan, serta kemampuan menampilkan identitas budaya dalam desain gapura.
Ke-10 finalis yakni RT 003/RW 003 Kelurahan Sangkrah, Kecamatan Pasar Kliwon; RT 002/RW 009 Kelurahan Jayengan, Kecamatan Serengan; RT 006/RW 003 Kelurahan Panularan, Kecamatan Laweyan; RT 002/RW 019 Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Banjarsari; RT 001/RW 006 Kelurahan Mangkubumen, Kecamatan Banjarsari; RT 004/RW 005 Kelurahan Mangkubumen, Kecamatan Banjarsari; RT 005/RW 001 Kelurahan Punggawan, Kecamatan Banjarsari; RT 000/RW 001 Kelurahan Sondakan, Kecamatan Laweyan; RT 003/RW 009 Kelurahan Tipes, Kecamatan Serengan; serta RT 002/RW 001 Kelurahan Gandekan, Kecamatan Jebres.
Rangkaian Lomba Gapura Pitoelasan dimulai dari pendaftaran pada 27–30 Juni 2026, dilanjutkan pengecatan gapura pada 1–31 Juli, penjurian pada 1–7 Agustus, dan pengumuman pemenang dijadwalkan pada 13 Agustus 2026.
Untuk mendukung partisipasi masyarakat, PT Citra Warna Abadi juga menyediakan cat gratis bagi peserta. Sementara hadiah yang disiapkan mencapai puluhan juta rupiah, dengan juara pertama memperoleh Rp15 juta, juara kedua Rp13 juta, dan juara ketiga Rp10 juta, selain hadiah bagi juara harapan.
Astrid menegaskan, terlepas dari hasil akhir kompetisi, semangat kebersamaan yang tumbuh selama proses lomba merupakan capaian penting yang perlu dipertahankan.
“Semoga semangat ini tidak berhenti setelah lomba selesai. Gotong royong, kreativitas, dan kepedulian terhadap lingkungan harus terus menjadi budaya masyarakat. Solo tidak hanya indah dan estetik tapi semakin guyub,” ujarnya. (Ariyanto)












Komentar