Lestarikan Pusaka Nusantara, YEIB Buka Layanan Sertifikasi dan Kajian Kuratorial Keris Berbasis Digital

banner 468x60

Portalika.com [SURAKARTA] – Bermula dari pengalaman panjang sebagai kolektor pusaka serta perjalanan memperoleh kompetensi kuratorial, KRA Rivo Cahyono menghadirkan inovasi baru dalam dunia pelestarian tosan aji.

Melalui Yayasan Ethnic Indonesia Berbagi (YEIB), dia resmi membuka layanan sertifikasi dan kajian kuratorial keris serta Tosan Aji bagi masyarakat maupun kolektor di Indonesia.

banner 300x250

Berdasar siaran pers yang diterbitkan belum lama ini, layanan kajian kuratorial keris ini dirancang secara inklusif, tidak hanya menyasar kolektor senior tetapi juga para pemula yang baru mulai mengenal dan mengoleksi benda pusaka.

Dalam proses pengujiannya, setiap keris maupun tosan aji yang diajukan akan diamati dan dikaji secara komprehensif berdasarkan berbagai indikator mendalam.

Unsur-unsur yang didokumentasikan meliputi dhapur, pamor, ricikan, tangguh (estimasi periodisasi pembuatan), kondisi fisik, perabot, hingga informasi pendukung lainnya.

“Keunggulan dan perbedaannya, kajian kuratorial yang dikembangkan oleh Ethnic Indonesia tidak bertumpu pada opini subjektif satu orang saja,” papar Rivo.

Menurut dia sertifikat kuratorial Ethnic Indonesia ditandatangani oleh tiga kurator keris profesional yang seluruhnya telah mengantongi sertifikat kompetensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), yaitu Ilham Triadi, Harjo Herlambang, dan KRA Rivo Cahyono.

Rivo menegaskan dokumen sertifikat ini merupakan hasil kajian komprehensif terhadap kondisi objektif pusaka saat diperiksa.

Sertifikasi BNSP melekat pada kualifikasi dan kompetensi kurator yang menguji, bukan berarti lembaga BNSP menerbitkan sertifikat keaslian langsung atas suatu keris.

Integrasi QR Code: Menjaga Pengetahuan Pusaka Antargenerasi

Bagi Rivo, tantangan terbesar dalam pelestarian tosan aji terletak pada keberlanjutan ilmu pengetahuan yang melekat pada pusaka tersebut.

“Sebuah keris dapat berpindah tangan, dari seorang kolektor kepada anaknya, cucunya, atau pemilik berikutnya. Dalam proses perpindahan itu, ada risiko besar informasi mengenai pusaka ikut terputus atau hilang,” ungkap dia.

Guna mengantisipasi hal tersebut, Ethnic Indonesia menghadirkan terobosan dengan melengkapi setiap sertifikat fisik menggunakan QR Code. Ketika kode tersebut dipindai, pemilik dapat mengakses dokumen digital berisi identitas lengkap pusaka, penjelasan rinci dhapur dan pamor, analisis tangguh, dokumentasi foto visual beresolusi tinggi, hingga catatan sejarah terkait.

“Saya membayangkan suatu hari keris ini berpindah kepada anak, cucu, atau kolektor berikutnya. Kerisnya mungkin masih ada, tetapi jangan sampai pengetahuan tentang keris tersebut hilang. Karena itu kami mencoba menghubungkan sertifikat fisik dengan jejak dokumentasi digital,” tegas dia.

Melalui integrasi teknologi ini, Yayasan Ethnic Indonesia Berbagi berharap dapat membangun ekosistem dokumentasi pusaka Nusantara yang transparan, teruji secara ilmiah, serta relevan bagi generasi mendatang. (Iskandar)

Komentar