Pemangku Solo Bertekad Pertahankan Produk Berbasis Handmade, Berbasis Kultur Asli

banner 468x60

Portalika.com [SURAKARTA] – Wakil Walikota Surakarta, Astrid Widayani mendampingi Wakil Menteri Perdagangan RI, Dyah Roro Esti Widya Putri dalam kunjungan kerja ke sentra batik Kampung Batik Laweyan dan Kampung Batik Kauman, Jumat, 4 September 2026.

Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk melihat langsung aktivitas perajin sekaligus mendorong pengembangan batik dan produk unggulan Solo agar semakin dikenal dan mampu menembus pasar yang lebih luas hingga mancanegara.

banner 300x250

Kunjungan diawali di rumah produksi Batik Saudagaran, kawasan sentra industri Kampung Batik Laweyan. Wamendag Dyah Roro Esti tampak antusias melihat beragam koleksi batik khas Kota Solo, sekaligus mengapresiasi kekayaan makna dan filosofi yang terkandung dalam setiap motif batik.

Sebagai bentuk dukungan terhadap keberadaan perajin lokal, Wamendag turut membeli sejumlah koleksi kain batik, salah satunya batik tulis.

Pembelian tersebut diharapkan dapat menjadi bentuk apresiasi sekaligus mendorong semangat para perajin dan menggerakkan roda ekonomi pelaku UMKM batik di Kota Surakarta.

Setelah dari Laweyan, rombongan melanjutkan kunjungan ke Kampung Batik Kauman. Di lokasi tersebut, Wamendag bersama Astrid melihat langsung aktivitas para perajin dan proses pembuatan batik.

Astrid mengatakan batik merupakan salah satu produk unggulan Kota Surakarta yang terus didorong pengembangannya. Selain memiliki nilai ekonomi, batik terutama batik tulis merupakan bagian penting dari identitas dan warisan budaya Solo yang perlu terus dilestarikan.

“Mayoritas batik karena kami juga fokus pada pelestarian batik, khususnya bagaimana batik tulis masih terus dikembangkan,” kata Astrid.

Menurut Astrid, dukungan pemerintah pusat melalui Kementerian Perdagangan menjadi peluang penting bagi pemerintah daerah dan pelaku UMKM untuk memperluas akses pasar. Salah satunya melalui Trade Expo Indonesia yang dapat mempertemukan produk lokal dengan pasar dan buyer dari berbagai negara.

“Trade Expo Indonesia ini merupakan dukungan yang luar biasa dari Kementerian Perdagangan untuk kami yang ada di pemerintah daerah,” ujarnya.

Astrid menegaskan, pengembangan produk unggulan Solo harus tetap mengedepankan kekuatan budaya dan keunikan produk lokal. Produk handmade dengan karakter budaya Solo dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan daya saing di pasar global.

“Bagaimana terus mengembangkan dan melestarikan produk-produk yang memang berbasis handmade, berbasis kultur asli atau budaya asli yang ada di Kota Solo itu sendiri,” katanya.

Sementara itu, Wamendag Dyah Roro Esti mengapresiasi proses produksi batik yang dilihatnya secara langsung di Kampung Batik Kauman. Menurutnya, melihat proses pembuatan produk secara langsung memberikan pemahaman sekaligus meningkatkan apresiasi terhadap karya para perajin.

“Tadi kita sudah melihat proses membatiknya juga bersama dengan para pengrajin. Pada intinya kita bisa mengapresiasi sebuah produk ketika kita melihat prosesnya,” ujar Dyah.

Wamendag mengatakan Kementerian Perdagangan terus berupaya memberikan fasilitasi kepada pelaku usaha agar produk-produk Indonesia dapat menjangkau pasar internasional.

Salah satu upayanya dilakukan melalui Trade Expo Indonesia yang menjadi ruang promosi sekaligus mempertemukan pelaku usaha dengan buyer dari luar negeri.

“Kami ingin hadir untuk memfasilitasi para pelaku usaha agar mereka bisa dipertemukan dengan buyer-buyer luar negeri. Nanti ada proses bisnis pitching, lalu kemudian business matching,” katanya.

Dyah menilai produk batik Solo memiliki potensi besar untuk semakin dikenal di pasar global karena tidak hanya menawarkan produk fesyen, tetapi juga membawa nilai budaya dan filosofi yang menjadi kekuatan tersendiri.

Dorongan agar produk lokal Solo mampu mendunia juga terlihat dari perhatian Wamendag terhadap berbagai produk unggulan lain yang ditemuinya selama kunjungan. Selain batik, Wamendag memberikan apresiasi terhadap inovasi kuliner lokal berupa gudeg kaleng.

Inovasi pengemasan tersebut dinilai memiliki potensi untuk menjangkau pasar yang lebih luas, meningkatkan penjualan, sekaligus menjadi salah satu pilihan oleh-oleh khas Solo bagi wisatawan.

Kunjungan di kedua sentra batik tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi pemerintah pusat dan daerah dalam mengembangkan produk unggulan berbasis budaya.

Pemerintah Kota Surakarta berharap dukungan dan fasilitasi perdagangan dapat semakin membuka peluang bagi para perajin dan pelaku UMKM untuk meningkatkan kapasitas usaha serta memperluas pasar, sehingga batik dan berbagai produk khas Solo semakin dikenal hingga tingkat internasional. (Ariyanto)

Komentar