Portalika.com [NAGOYA, JEPANG] — Upacara pembukaan Asian Para Games 2026 digelar secara meriah dan sarat makna di Stadiom Paloma Mizuho, Prefektur Aichi, Nagoya, Minggu, 18 Oktober 2026 malam.
Acara ini mengusung konsep utama “We Are Beautiful Individuals”, yang memiliki makna bahwa keunikan setiap orang melampaui batas disabilitas, kebangsaan, dan budaya.
Ajang multievent olahraga internasional untuk penyandang disabilitas ini menjadi momen bersejarah karena untuk pertama kalinya diselenggarakan di Jepang.
Disaksikan langsung Yang Mulia Kaisar Jepang Naruhito, antusiasme masyarakat sudah tampak sejak pukul 16.00 waktu setempat, saat mereka berbondong-bondong memadati setiap sudut tribun stadion.
Menjelang detik-detik pembukaan, penonton di stadion diajak berlatih yel-yel sambutan bersama maskot resmi ‘Uzumin’ dan mantan atlet seluncur indah profesional, Murakami Kanako. Penonton dipandu untuk meneriakkan sorakan “Hee-hee!” guna menyambut kedatangan para pahlawan olahraga Asia.
Suasana berubah khidmat saat Kaisar Naruhito, Yang Mulia Pangeran dan Putri Mahkota Akishino, serta Presiden Asian Paralympic Committee (APC) Majid Rashed memasuki Presidential Box pada pukul 18.00.
Bendera nasional Jepang kemudian dibawa masuk oleh enam tokoh olahraga disabilitas, termasuk ahli prostetik Fumio Usui dan mantan kapten tim bola basket kursi roda Shinji Negi, sebelum dikibarkan oleh anggota pasukan bela diri Jepang.
Segmen artistik pembuka menampilkan karakter boneka burung hantu ‘Konoha’ yang menantikan selesainya gerbang penyambutan.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan parade atlet. Sebanyak 45 kontingen negara, termasuk Indonesia berjalan melewati ‘Welcome Gate’.
Indonesia yang diwakili 47 peserta dari unsur atlet, pelatih dan tim chef de mission (CdM), tampil elegan dengan balutan busana yang dirancang oleh desainer kenamaan, Ivan Gunawan. Sementara kontingen tuan rumah Jepang mendapat kehormatan untuk berjalan di barisan paling akhir.
Pertunjukan seni bertajuk ‘The Festival of Flame’ yang disutradarai oleh Kaiji Moriyama berhasil memompa gairah penonton. Tarian Gaku oleh kelompok penari Nekko-tai serta penampilan penari utama Ha-re semakin menghidupkan gairah di stadion.
Suasana terasa kian magis ketika para Oni (makhluk mitologi tradisional Jepang) dari Festival Oni Toyohashi, Kuil Takisanji, serta Festival Hana muncul dari berbagai penjuru stadion.
Diiringi tabuhan genderang dan hamburan tepung putih suci, para Oni menyucikan serta mempersiapkan bumi tempat para atlet bertanding demi mewujudkan kedamaian dan hasil yang berlimpah.
Presiden Aichi Nagoya Asian Games Organizing Committee (AINAGOC), Hideaki Ohmura, mengungkapkan bahwa penyelenggaraan ajang ini memiliki arti tersendiri pascapandemi Covid-19.
Setelah Paralimpiade Tokyo 2020 sebelumnya terpaksa digelar tanpa penonton, Aichi-Nagoya 2026, baik Asian Games maupun Asian Para Games, menjadi panggung berharga bagi para atlet untuk kembali merasakan sorak-sorai dan dukungan langsung dari publik di dalam arena.
“Pada Asian Para Games, kami mengusung slogan ‘Imagine One Heart’. Slogan ini mengemban cita-cita dan harapan agar kita dapat merasakan atau mencoba membayangkan perasaan penuh semangat dari setiap para atlet yang berdiri di arena pertandingan, sehingga pada akhirnya semua orang dapat menyatukan hati,” ujar Hideaki Ohmura.
Sementara itu, Presiden APC Majid Rashed mengatakan bahwa kembalinya pesta olahraga disabilitas di Jepang menjadi momen bersejarah tersendiri.
Sejarah gerakan Paralimpiade di Asia tidak lepas dari peran Jepang yang dimulai 51 tahun lalu, saat Kota Oita menjadi tuan rumah ajang multievent disabilitas regional Asia pertama pada tahun 1975 di bawah visi Dr. Yutaka Nakamura. Saat itu, ajang tersebut diikuti oleh 973 atlet dari 18 negara.
“Selain itu, dedikasi Jepang kembali teruji saat menyelenggarakan Paralimpiade Tokyo 2020 di tengah tantangan pandemi global. Komitmen yang ditunjukkan pemerintah dan masyarakat Jepang kala itu menjadi simbol ketangguhan dan persatuan dunia melalui olahraga,” kata Rashed.
Rashed menuturkan, penyelenggaraan Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026 diharapkan tidak hanya berfokus pada perebutan medali, tetapi juga membawa dampak sosial yang lebih luas.
”Melalui penampilan para atlet, ajang ini diharapkan mampu menginspirasi generasi muda dan mendorong terciptanya masyarakat yang inklusif, setara, dan saling menghormati. Bertandinglah dengan keberanian, bertandinglah dengan kebanggaan. Tunjukkan kepada Asia dan dunia kekuatan tanpa batas Anda. Buat kenangan, buat sejarah, dan yang terpenting, inspirasilah perubahan,” ujarnya.
Kaisar Jepang Naruhito kemudian secara resmi membuka gelaran Asian Para Games 2026.
“Saya menyatakan bahwa Asian Para Games 2026 resmi dibuka,” ujar Kaisar Naruhito. (Ariyanto/*)











Komentar