Bantu UMKM Kuliner Naik Kelas, Mahasiswa KKN Unisri Dampingi Hitung Untung hingga Desain Banner Usaha di Desa Gabugan

banner 468x60

Portalika.com [SRAGEN] — Dua pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di bidang kuliner asal Desa Gabugan, Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen, mendapat pendampingan pengelolaan usaha dan promosi dari mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) pada Kamis, 20 Agustus 2026.

Kegiatan ini merupakan program kerja individu Vilda Mutiara Lyoni, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta, yang menyasar usaha jasa katering dan usaha makanan dengan sistem antar pesanan online.

banner 300x250

Kedua usaha tersebut sudah memiliki pelanggan tetap dan berjalan cukup lama, namun selama ini masih mengandalkan insting dan kebiasaan dalam menjalankan usahanya, tanpa catatan modal maupun keuntungan yang jelas.

Untuk mendampingi kedua pelaku usaha, Vilda lebih dahulu menyiapkan lembar kerja pendampingan UMKM yang memuat perhitungan modal sekali produksi, perhitungan untung per porsi, checklist promosi media sosial, hingga kolom data untuk pembuatan banner.

“Ketika lembar kerja ini diisi bersama, hasilnya cukup mengejutkan. Setelah bahan-bahan dirinci beserta harga belinya lalu dibagi jumlah produk yang dihasilkan, barulah terlihat berapa sebenarnya modal per porsi. Misalnya pada UMKM Pentol, modal per butirnya sekitar Rp981, sementara dijual Rp1.000 per butir, sehingga keuntungannya hanya sekitar 1,9 persen. Angka itu saya bandingkan dengan harga jual selama ini, sehingga pelaku usaha bisa melihat sendiri, secara hitam di atas putih, apakah harganya sudah menguntungkan atau justru nyaris tidak menyisakan margin,” ujar Vilda.

Pendampingan juga menyasar pemanfaatan media sosial. Meski keduanya sudah memiliki akun usaha, akun tersebut jarang diperbarui dan hampir tidak pernah dipakai untuk memposting produk secara rutin.

Vilda mendampingi kedua pelaku usaha agar lebih rutin memposting produk, memberi contoh cara menuliskan keterangan produk beserta harga dan cara pemesanan, serta mengingatkan pentingnya mencantumkan nomor kontak yang jelas.

Satu hal lain yang menjadi perhatian, meski sudah berjualan cukup lama, kedua UMKM ini ternyata belum pernah memiliki banner usaha. Berbekal data yang diisi di lembar kerja, seperti nama usaha, produk unggulan, nomor kontak, dan warna yang disukai, Vilda membuatkan desain banner untuk masing-masing UMKM melalui beberapa kali diskusi dan revisi kecil, hingga akhirnya keduanya memiliki banner promosi pertama mereka.

“Dari dua kegiatan sederhana ini, mengisi lembar kerja perhitungan modal-keuntungan dan membuat banner usaha, dampaknya terasa cukup besar. Pelaku UMKM jadi lebih sadar bahwa mengelola usaha bukan sekadar berjualan, tetapi juga soal mencatat, menghitung, dan menampilkan usaha dengan lebih meyakinkan,” jelas Vilda.

Melalui program pendampingan ini, Vilda berharap kebiasaan mencatat dan mengelola usaha secara lebih terukur dapat terus dijalankan oleh kedua UMKM bahkan setelah KKN-PPM berakhir, sehingga usaha mereka terus tumbuh dan turut mendukung kemandirian ekonomi Desa Gabugan. (*)

Editor: Suryono

Komentar