Blusukan Di Kampung Gremet Manahan, Gusti Bhre Bertemu Penjual Dawet Pikulan Yang Berjalan Dari Boyolali

banner 468x60

Portalika.com [SOLO] – Disambut baik di kampung Gremet RW XI, Manahan, Solo, Sabtu kemarin, Mangkunegara X mengucapkan terima kasih karena kehadirannya diterima hangat. Tak lama usai pertemuan dengan warga, Gusti Bhre atau MN X berjalan mendekat ke seorang penjual dawet.

Pengageng Mangkunegaran itu tampak santai memesan seporsi dawet yang dinikmatinya sambil berjongkok. Di depan Mbah Ngadimin, 82, Gusti Bhre tampak berbincang akrab.

banner 300x250

Mbah Ngadimin merupakan penjual dawet pikulan dan tiap hari berjalan dari rumahnya di daerah Dibal, Ngemplak, Boyolali, dekat Bandara Adi Soemarmo. Di usianya yang sudah tidak muda, dirinya tetap kuat berjalan kaki untuk berjualan dawet mulai pukul  08.00 WIB dan baru sampai di Solo sekitar pukul 12.00 WIB.

Baca juga: Kunjungan Ke Ponpes Jamsaren, Gusti Bhre Sambangi Komunitas Jumat Berkah Yang Bagikan Ratusan Porsi Untuk Anak Yatim

BACA JUGA  Indah Palace Tawangmangu Nikmati Ragam Fasilitas Hotel di Tengah Lereng Penggunungan Lawu

Perjalanan yang panjang namun masih dijual dengan cara tradisional, menjadikan semangkuk kecil dawet seharga Rp5.000 ini bisa laku ratusan porsi.

Kepada Gusti Bhre, Mbah Ngadimin bercerita dulu dirinya sering ke Mangkunegaran saat bulan Suro, tetapi semenjak tahun 2000 sudah jarang. “Ndalem meniko sering mlebet Mangkunegaran, kegiatan njamasi pusaka. Bar njamasi pusaka airnya sami diroyok,” ujarnya sambil mengenang.

Portalika.com/Ariyanto

“Nggih, buat rayahan,” kata Gusti Bhre sambil menikmati semangkuk dawet hingga habis sambil mendengarkan cerita Mbah Ngadimin. “Yen mbonten eco nggih mboten telas,” balas Mbah Ngadimin yang membuat Gusti Bhre tertawa lepas.

Usai berbincang sesaat, Gusti Bhre mengajak Mbah Ngadimin bersalaman dan tak lupa mendoakannya. “Monggo Pak, sehat selalu selalu nggih,” ujar MN X itu sambil berpamitan.

Kala berjalan menyusuri kampung Gremet, Manahan, Gusti Bhre jadi pusat perhatian warga. Mereka tak melewatkan kesempatan bersalaman dan foto bersama.

Di tengah blusukan, Mangkoenagoro X itu juga sempat singgah di rumah Istyarso, 78, tukang servis furniature klasik ahli memodifikasi lemari biasa menjadi gaya Eropa. Gusti Bhre memuji keterampilannya.

Bertemu banyak anak-anak di kampung, Gusti Bhre membagikan buku tulis dan mentraktir sate ayam. Mereka tampak senang. (Ariyanto/*)

Komentar