Lapak Sepeda Hadir Kuatkan Budaya Literasi di Surakarta

banner 468x60

Portalika.com [SURAKARTA] – Wakil Walikota Surakarta, Astrid Widayani mendorong penguatan budaya literasi melalui berbagai inovasi yang memudahkan masyarakat mengakses bahan bacaan. Salah satunya melalui perpustakaan keliling berbasis sepeda yang menghadirkan lapak baca gratis di ruang publik, sehingga masyarakat dapat membaca di sela aktivitas sehari-hari.

Astrid meninjau langsung kegiatan tersebut di kawasan Sriwedari, Solo, Sabtu, 17 Oktober 2026. Ia melihat bagaimana ruang publik dapat dimanfaatkan sebagai tempat belajar alternatif yang terbuka bagi masyarakat, sekaligus menjadi cara kreatif untuk menumbuhkan minat baca di luar lingkungan sekolah maupun perpustakaan konvensional.

banner 300x250

Menurut Astrid, penguatan literasi tidak cukup hanya dengan menyediakan buku dan fasilitas perpustakaan. Akses terhadap bacaan perlu dibuat lebih dekat, menarik, dan sesuai dengan kebiasaan masyarakat agar membaca dapat tumbuh menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Literasi harus kita hadirkan sedekat mungkin dengan masyarakat. Jangan sampai buku hanya tersedia di tempat tertentu, tetapi belum menjadi bagian dari keseharian warga. Melalui perpustakaan keliling seperti ini, masyarakat bisa menemukan bacaan di ruang publik, membaca dengan santai, dan mulai membangun kebiasaan membaca dari hal sederhana,” ujar Astrid.

BACA JUGA  Mahasiswa KKN Unisri Surakarta Memberi Rumus Jitu Agar Balita Tidak Menjadi Stunting

Ia menilai, inovasi perpustakaan keliling memiliki nilai strategis karena mampu menjangkau masyarakat melalui pendekatan yang lebih fleksibel.

Dengan memanfaatkan sepeda sebagai sarana membawa buku, kegiatan membaca dapat hadir di tengah ruang aktivitas warga tanpa harus menunggu masyarakat datang ke gedung perpustakaan.

Dalam peninjauan tersebut, Astrid melihat lapak baca yang menyediakan puluhan judul buku dari koleksi pribadi penggagasnya, Destyn Ayu Safitri.

Buku-buku tersebut dibawa menggunakan sepeda dan disediakan secara gratis bagi masyarakat yang ingin membaca di kawasan Sriwedari.

Bagi Astrid, kegiatan semacam ini menunjukkan bahwa penguatan literasi dapat dilakukan melalui kolaborasi dan partisipasi masyarakat. Ruang publik yang selama ini identik dengan aktivitas rekreasi dan olahraga juga berpotensi menjadi ruang pertukaran pengetahuan yang inklusif.

BACA JUGA  Pengerjaan Proyek Galian Tanah di Purwantoro Abaikan K3, Papan Nama Kosong

“Ruang publik tidak hanya bisa menjadi tempat berkumpul dan beraktivitas, tetapi juga ruang untuk belajar. Kita perlu terus mendorong munculnya kegiatan kreatif yang membuat masyarakat semakin dekat dengan buku. Ketika aksesnya mudah dan suasananya menyenangkan, membaca bisa menjadi kebiasaan yang tumbuh secara alami,” katanya.

Astrid juga menekankan pentingnya literasi di tengah derasnya arus informasi digital. Menurutnya, masyarakat tidak cukup hanya mampu mengakses informasi, tetapi juga perlu memiliki kemampuan memahami, memilah, dan memeriksa kebenaran informasi secara kritis.

Budaya membaca menjadi salah satu fondasi untuk memperluas wawasan, membangun daya pikir, serta meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menyikapi berbagai persoalan.

Karena itu, penguatan literasi perlu dilakukan melalui berbagai pendekatan, mulai dari keluarga dan sekolah hingga komunitas serta ruang publik.

BACA JUGA  Tingkatkan Kompetensi, Puluhan Penghulu ikuti Bimbingan Teknis dan Simulasi Akad Nikah

Ia berharap kegiatan seperti perpustakaan keliling dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk berkontribusi dalam memperluas akses bacaan di Kota Solo.

Dukungan komunitas, sekolah, pengelola perpustakaan, dan masyarakat diperlukan agar gerakan literasi dapat berkembang secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak kalangan.

“Yang ingin kita bangun adalah ekosistem literasi yang hidup. Pemerintah, komunitas, sekolah, keluarga, dan masyarakat perlu bergerak bersama. Ukurannya bukan hanya berapa banyak buku yang tersedia, tetapi bagaimana buku itu bisa diakses, dibaca, dipahami, dan memberi manfaat bagi masyarakat,” tegas Astrid.

Melalui penguatan literasi yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, Pemerintah Kota Surakarta berharap tumbuh lingkungan yang mendorong warga untuk terus belajar, memperluas pengetahuan, dan berpikir kritis.

Kehadiran perpustakaan keliling di ruang publik menjadi salah satu contoh bahwa upaya tersebut dapat dimulai dari langkah sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. (Ariyanto)

Komentar