P3TGAI di Wonogiri Langkah Nyata Kolaborasi Pemerintah dan Masyarakat Merawat Saluran Air untuk Pengamanan Ketahanan Pangan

banner 468x60

Portalika.com [WONOGIRI] – Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) diluncurkan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) tahun 2026 sebagai langkah nyata mempertahankan ketahanan pangan.

Kepala BBWS Bengawan Solo, Dr Ir Gatut Bayuadji, SSi, MT, di awal Agustus 2026 mengatakan P3TGAI merupakan program padat karya tunai untuk memperbaiki, merehabilitasi, atau meningkatkan fungsionalitas jaringan irigasi dengan melibatkan peran serta masyarakat petani.

banner 300x250

Jaringan irigasi tersebut mengairi lahan pertanian di enam kabupaten, yakni Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, Klaten, dan Ngawi, sehingga keberadaannya memiliki peran vital dalam mendukung produktivitas pertanian serta program swasembada pangan nasional.

Gatut Bayuadji menjelaskan BBWS Bengawan Solo secara konsisten melakukan rehabilitasi dan pemeliharaan jaringan irigasi melalui berbagai program pemerintah, di antaranya pelaksanaan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 serta Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3TGAI) di masing-masing kecamatan.

Di Wonogiri, P3TGAI diinformasikan dikerjakan di 93 titik tersebar di beberapa kecamatan. “Kami berharap Gerakan Irigasi Bersih ini semakin mempererat kolaborasi antara pemerintah, petani, kelompok tani, P3A, penyuluh pertanian, dan seluruh masyarakat sehingga cita-cita mewujudkan pertanian yang maju, mandiri, dan berkelanjutan dapat tercapai bersama,” tuturnya.

‎Menurutnya, Daerah Irigasi Colo merupakan salah satu daerah irigasi strategis yang menjadi kewenangan pemerintah pusat melalui BBWS Bengawan Solo. Kawasan tersebut memiliki luas layanan mencapai 25.056 hektare, terdiri atas jaringan Colo Timur seluas 20.054 hektare dan Colo Barat 5.002 hektare, dengan sumber air berasal dari Bendung Colo.

Seperti di Desa Jatipurwo, Kecamatan Jatipurno, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, masyarakat masih menghadapi keterbatasan akses air irigasi, terutama akibat musim kemarau dan jaringan irigasi yang kurang efisien.

Kondisi ini menyebabkan penurunan produktivitas pertanian. Melalui program P3-TGAI, pemerintah berupaya melibatkan masyarakat petani sebagai penerima manfaat untuk berpartisipasi dalam pengelolaan dan pemeliharaan jaringan irigasi.

Ketua Kelompok Tani Maju Sempurna dan juga Tim Pengelola Kegiatan (TPK), Kadiyo menjelaskan P3TGAI dilaksanakan secara swakelola dengan pendekatan padat karya. Selain membantu petani dalam meningkatkan produktivitas pertanian, ujarnya, program ini juga memberikan dampak positif dengan menambah pendapatan ekonomi masyarakat setempat.

Dia berharap program P3TGAI dapat kembali direalisasikan di desanya, karena mayoritas warga Desa Jatipurwo masih mengandalkan sektor pertanian, seperti padi, palawija, dan hortikultura, sebagai sumber penghasilan utama.

Terpisah, ‎Kepala Desa Jatipurwo, Sukiyo SH, menyampaikan bahwa tujuan program P3TGAI untuk meningkatkan produksi pertanian, menstabilkan harga pangan, meningkatkan kesejahteraan petani, dan memperkuat kemandirian pangan.

“Kelompok Tani [kelomtan] Dusun Garon mendapatkan P3TGAI. Program ini memungkinkan penambahan jaringan irigasi tersier, sehingga luas tanam yang semula kurang dari 10 hektare diharapkan meningkat menjadi 15- 20 hektare” jelasnya.

Dikatakannya, dengan peningkatan luasan lahan, petani dapat panen padi hingga tiga kali setahun, bahkan pada musim kemarau. Peningkatan luas tanam ini diharapkan dapat meningkatkan hasil panen dan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani sebagai penerima manfaat langsung.

‎“P3TGAI dilaksanakan untuk mendukung kedaulatan pangan, khususnya bagi warga Desa Jatipurwo, Kecamatan Jatipurno, sebagai wujud kemandirian ekonomi melalui pemberdayaan masyarakat petani dalam perbaikan dan rehabilitasi jaringan irigasi secara partisipatif di wilayah pedesaan,” ujarnya. (Triantotus)

Komentar