Portalika.com [WONOGIRI] — Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Staimas Wonogiri menggandeng Institut Daarul Qur’an (Idaqu) Jakarta menggelar Webinar Nasional bertema Remaja Digital: Menjaga Jati Diri, Meraih Mimpi, dan Menghadang Laju Pernikahan Dini, Rabu kemarin, secara daring melalui zoom meeting.
Kegiatan ini menghadirkan para akademisi yang menyoroti langsung perubahan besar yang dialami remaja akibat perkembangan dunia digital.
Ketua Staimas Wonogiri, Atik Nurfatmawati, MIKom, menyambut baik terselenggaranya webinar ini sebagai tindak lanjut kerja sama akademik antar lembaga. Ia berharap sinergi ini tidak berhenti pada satu agenda saja.
“Kerja sama yang sudah terjalin perlu kita lanjutkan dalam berbagai program nyata, terutama yang memberi dampak langsung pada generasi muda,” ujarnya.
Dalam paparannya, Ulfah Zakiyah, MAg, dari Idaqu Jakarta mengungkapkan remaja masa kini hidup dalam dua ruang sekaligus—dunia nyata dan dunia digital.
“Media sosial bukan lagi sekadar hiburan, tetapi ikut membentuk cara berpikir, mengambil keputusan, bahkan menentukan arah masa depan remaja,” kata Ulfah.
Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa pengguna aktif media sosial di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 180 juta orang atau ±62,9 persen populasi pada akhir 2025.
Rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan lebih dari tiga jam per hari di media sosial. Dominasi platform seperti YouTube, Facebook, TikTok, dan Instagram menjadikan ruang digital sebagai arena utama interaksi remaja.
Hal ini berpengaruh langsung pada cara remaja memandang hubungan, cinta, hingga pernikahan.
Ulfah menambahkan salah satu poin penting adalah romantisasi pernikahan dini di media sosial. Konten bertema nikah muda bahagia kerap hanya menampilkan sisi manis tanpa realita. Di sisi lain, fenomena FOMO (Fear of Missing Out) membuat remaja merasa tertinggal jika tidak segera mengikuti tren tersebut.
Dampaknya tidak sederhana. Pernikahan usia dini sering membuat remaja kehilangan kesempatan sekolah, menghadapi tekanan ekonomi, hingga mengalami masalah psikologis karena belum matang secara fisik maupun emosional.
Dr Ruslina Dwi Wahyuni, SSos, MSP, CPM dari PSGA Staimas Wonogiri menekankan bahwa remaja tetap bisa menjaga jati diri dan meraih mimpi di tengah derasnya arus digital dengan bekal literasi yang tepat. Edukasi mengenai identitas digital, keamanan online, kesehatan mental, hingga keterampilan memfilter informasi menjadi fondasi penting.
PSGA juga mendorong pendampingan remaja, kegiatan edukatif berbasis komunitas, kolaborasi lintas Lembaga untuk mencegah pengambilan keputusan besar secara terburu-buru, termasuk pernikahan dini.
Ketua PSGA Staimas Wonogiri, Windari, SH, MH menyampaikan terima kasih kepada seluruh mitra dan peserta.
“Webinar ini adalah bentuk kepedulian PSGA terhadap masa depan remaja. Kami ingin mereka tumbuh utuh, punya mimpi besar, dan tidak terjebak pada keputusan yang diambil sebelum waktunya,” tuturnya.
Webinar yang digelar secara daring ini sekaligus menjadi ruang aman bagi peserta untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman mengenai tantangan kehidupan remaja pada era digital.
Melalui agenda ini, PSGA Staimas Wonogiri berharap semakin banyak pihak yang terlibat dalam pendidikan literasi digital, penguatan karakter remaja, dan pencegahan pernikahan usia dini. Sebab, masa depan Indonesia berada di tangan generasi muda yang mampu berpikir kritis, bijak, dan berdaya. (Nadhiroh)












Komentar