Portalika.com [SURAKARTA] – Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Bimbingan dan Konseling Universitas Slamet Riyadi Surakarta menunjukkan kepedulian terhadap perkembangan sosial dan emosional penyandang disabilitas fisik dan kelompok rentan melalui Projek Kepemimpinan dan Pengabdian kepada Masyarakat di Sentra Terpadu Prof Dr Soeharso Surakarta.
Kegiatan yang mengusung tema Edukasi Strategi Regulasi Emosi (Serasi) kepada Penyandang Disabilitas Fisik dan Kelompok Rentan itu berlangsung, Kamis, 3 September 2026.
Kegiatan menyasar penerima manfaat layanan di Sentra Terpadu Prof Dr Soeharso Surakarta. Program ini dirancang untuk membantu peserta mengenali emosi, memahami penyebab munculnya emosi, serta mempelajari berbagai strategi yang dapat digunakan untuk mengelola dan mengekspresikan emosi secara lebih tepat dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Sentra Terpadu Prof Dr Soeharso Surakarta, Wahyu Dewanto, SPsi, MPsi. Dalam kesempatan tersebut, kepala sentra memberikan sambutan sekaligus membuka secara resmi kegiatan edukasi Serasi.
Kehadiran dan dukungan langsung dari pihak Sentra menjadi bentuk apresiasi terhadap inisiatif mahasiswa PPG Universitas Slamet Riyadi dalam menghadirkan kegiatan yang mendukung pengembangan sosial dan emosional para penerima manfaat.
Wahyu Dewanto menyampaikan pentingnya kegiatan yang memberikan ruang bagi penerima manfaat untuk mengembangkan kemampuan diri, termasuk dalam mengenali dan mengelola emosi.
Kegiatan edukasi seperti Serasi diharapkan dapat memberikan pengalaman positif yang tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ketua pelaksana kegiatan, Partini Widy Astuti, SSos, mengatakan regulasi emosi merupakan keterampilan yang penting bagi penyandang disabilitas fisik dan kelompok rentan.
Kemampuan mengelola emosi dapat membantu seseorang menghadapi berbagai situasi kehidupan dengan lebih tenang, mengenali perasaan yang muncul, serta menentukan respons yang tepat ketika menghadapi tekanan, kekecewaan, maupun permasalahan sehari-hari.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan pengalaman belajar yang sederhana, menyenangkan, dan mudah diterapkan. Penerima manfaat tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai emosi, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mencoba berbagai strategi dalam mengelola emosi melalui kegiatan yang interaktif,” ujar Astuti.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa PPG untuk belajar secara langsung dari pengalaman para penerima manfaat. Sentra Terpadu Prof Dr Soeharso Surakarta dipandang memiliki peran penting dalam memberikan ruang pelayanan, pendampingan, dan pengembangan potensi bagi para penerima manfaat.
“Kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada Sentra Terpadu Prof Dr Soeharso Surakarta yang telah memberikan ruang dan kesempatan kepada kami untuk melaksanakan kegiatan ini. Bagi kami, Sentra bukan hanya menjadi tempat pelaksanaan kegiatan, tetapi juga menjadi ruang belajar bagi mahasiswa untuk memahami keberagaman kebutuhan, pengalaman, dan potensi setiap individu,” jelasnya.
Kegiatan Serasi dikemas dengan pendekatan yang melibatkan peserta secara langsung. Rangkaian kegiatan meliputi asesmen awal atau pre-test, ice breaking, penyampaian materi mengenai pengenalan emosi, penyebab munculnya emosi, pentingnya regulasi emosi, serta latihan strategi regulasi emosi melalui media Sanggar Rasa dan mindfulness.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi, tanya jawab, refleksi, dan aktivitas art therapy. Sanggar Rasa menjadi salah satu media utama dalam kegiatan tersebut. Media ini dirancang secara interaktif dengan memperhatikan prinsip aksesibilitas agar peserta dapat mengikuti kegiatan sesuai dengan kondisi dan kemampuan masing-masing.
Di dalam Sanggar Rasa terdapat beberapa bagian, antara lain Zona Emosi, Kartu Strategi Regulasi Emosi, dan Panggung Role Play Boneka. Melalui media tersebut, peserta diajak mengenali berbagai emosi yang muncul dalam kehidupan sehari-hari dan memahami bahwa setiap emosi merupakan bagian yang wajar dari pengalaman manusia.
Peserta juga dikenalkan pada berbagai pilihan respons ketika menghadapi emosi, seperti menenangkan diri, mengalihkan perhatian, mengubah cara pandang terhadap situasi, serta memilih respons yang lebih positif dan sesuai dengan kondisi.
Selain edukasi, peserta mengikuti kegiatan art therapy melalui aktivitas mewarnai Kipas Emosi. Kegiatan ini memberikan ruang bagi peserta untuk menuangkan perasaan, pengalaman, harapan, maupun pesan positif melalui karya seni.
Fokus kegiatan bukan pada bagus atau tidaknya hasil karya, melainkan pada kesempatan bagi peserta untuk mengekspresikan dan memahami pengalaman emosionalnya. Dosen pembimbing kegiatan, Ema Butsi Prihastari, SPd, MPd, memberikan arahan dan bimbingan dalam proses perencanaan, persiapan, pelaksanaan, monitoring, evaluasi, hingga penyusunan laporan Projek Kepemimpinan dan Pengabdian kepada Masyarakat.
Bagi mahasiswa PPG, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi bentuk pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga menjadi pengalaman nyata dalam mengembangkan kemampuan kepemimpinan, komunikasi, kolaborasi, tanggung jawab, pengelolaan kegiatan, serta pemecahan masalah.
Sementara bagi penerima manfaat, kegiatan diharapkan dapat memberikan pengalaman dan bekal dalam mengenali serta mengelola emosi secara lebih adaptif, sekaligus mendukung terbentuknya interaksi sosial yang sehat dan lingkungan yang saling menghargai.
Lahirkan Komunitas Serasi Sejiwa
Upaya pengembangan regulasi emosi tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan di Sentra Terpadu Prof Dr Soeharso Surakarta. Sebagai bentuk keberlanjutan, mahasiswa PPG Bimbingan dan Konseling Universitas Slamet Riyadi menggagas komunitas sosial Serasi Sejiwa.
Komunitas tersebut dirancang sebagai ruang bersama untuk berbagi informasi, edukasi, pengalaman, dan pesan-pesan positif yang berkaitan dengan regulasi emosi serta pengembangan diri. Komunitas akan hadir melalui saluran WhatsApp yang terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung.
“Kami berharap Serasi Sejiwa tidak hanya menjadi bagian dari kegiatan pengabdian, tetapi dapat menjadi ruang yang terus memberikan manfaat. Siapa saja boleh bergabung, baik yang ingin belajar mengenai regulasi emosi, berbagi pengalaman, maupun mendapatkan informasi dan konten positif,” kata Astuti.
Kehadiran Serasi Sejiwa diharapkan dapat memperluas jangkauan edukasi mengenai regulasi emosi. Jika kegiatan Serasi memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada penerima manfaat di Sentra, maka Serasi Sejiwa menjadi wadah untuk menjaga semangat belajar, berbagi, dan saling mendukung setelah kegiatan berakhir. Komunitas tersebut juga diharapkan menjadi ruang sosial yang ramah, terbuka, dan suportif bagi masyarakat.
Melalui saluran WhatsApp, anggota dapat memperoleh berbagai informasi dan edukasi yang berkaitan dengan pengelolaan emosi, pengembangan diri, serta nilai-nilai positif dalam membangun hubungan dengan orang lain.
Dengan adanya Serasi Sejiwa, mahasiswa PPG Universitas Slamet Riyadi berupaya memastikan bahwa pesan yang dibawa melalui kegiatan Serasi dapat terus berkembang dan menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Semangat yang dibangun adalah bahwa setiap orang memiliki emosi dan pengalaman yang berbeda, tetapi setiap orang juga memiliki kesempatan untuk belajar mengenali, memahami, dan memilih cara yang tepat dalam merespons emosinya.
Projek Kepemimpinan dan Pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanakan oleh sembilan mahasiswa PPG Bimbingan dan Konseling Universitas Slamet Riyadi Surakarta, yaitu Partini Widy Astuti SSos, Puspita Nurani SPd, Putri Nur Kholifah SPd, Qori Ekaningtias SSos, Radita Putra Ardiansah SPd, Rani Fitrotunnisa SPd, Ratna Wahyu Widyaningsih SPd, Reneta Mage Tania SPd, dan Riska Amelinda SPd.
Melalui kolaborasi antara kegiatan edukasi langsung bersama Sentra Terpadu Prof Dr Soeharso Surakarta dan keberlanjutan melalui komunitas Serasi Sejiwa, program ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam mendukung kemampuan regulasi emosi, kepercayaan diri, serta keterampilan sosial dan emosional masyarakat, khususnya penyandang disabilitas fisik dan kelompok rentan. (*)
Editor: Suryono












Komentar