Menenun Sejarah, Merawat Bahari: Menguji Model Ekowisata Mandiri Berbasis Pendekatan SAT di Desa Punjulharjo

Oleh: Fuad Muhammad*)

banner 468x60

Pariwisata berbasis alam dan budaya kerap kali dihadapkan pada paradoks klasik: di satu sisi ia menjadi motor penggerak ekonomi lokal, namun di sisi lain ia sering meninggalkan jejak ekologis berupa timbunan sampah, beban energi yang tinggi, serta komersialisasi budaya yang kehilangan akar autentisitasnya.

Pertanyaan mendasarnya adalah, bagaimana sebuah kawasan pedesaan pesisir yang kaya akan warisan sejarah dapat bertransformasi menjadi destinasi mandiri tanpa harus mengorbankan kelestarian lingkungan dan jati diri budayanya?

banner 300x250

Pertanyaan inilah yang coba dijawab melalui implementasi Program Desa Binaan (PDB)—yang diusulkan melalui Skema Pengabdian Masyarakat: Pemberdayaan Berbasis Wilayah Ruang Lingkup Desa Binaan—di Desa Punjulharjo, Kabupaten Rembang.

Mengusung konsep Eco-Green Tourism, desa yang menyimpan kekayaan Cagar Budaya Situs Perahu Kuno abad ke-7 dan pesona Pantai Karang Jahe ini menjadi laboratorium sosial bagi penerapan model pemberdayaan terpadu bertajuk SAT (Strategi, Aksi, dan Teknologi).

Dekonstruksi Masalah: Dari Beban Operasional hingga Hilirisasi Limbah

Desa Punjulharjo memiliki daya tarik yang unik. Ia memadukan arkeologi bahari masa lampau dengan lanskap pesisir utara Jawa. Namun, dalam siklus pengembangannya selama tiga tahun terakhir, tim akademisi dari Universitas Diponegoro dan Universitas Ivet menemukan sejumlah hambatan struktural yang kerap dialami oleh pengelola desa wisata (BUMDesa “Abimantrana”) dan pelaku budaya (Sanggar Seni “Kusuma Wicitra”).

Pertama, tingginya beban beaya operasional (OPEX) akibat ketergantungan pada jaringan listrik konvensional untuk fasilitas museum dan kawasan edupark. Kedua, melimpahnya limbah organik sabut kelapa di kawasan pantai yang selama ini belum terkelola secara produktif.

Ketiga, ketergantungan sanggar seni pada penyewaan infrastruktur eksternal setiap kali mementaskan kesenian tradisional. Melalui pendekatan riset aksi partisipatif (Participatory Action Research), intervensi tidak dilakukan dengan cara “meneror” masyarakat dengan teknologi asing, melainkan merajut solusi yang lahir dari rahim kebutuhan lokal itu sendiri.

Pendekatan SAT: Sinergi Strategi, Aksi, dan Teknologi

Transformasi yang terjadi di Punjulharjo digerakkan melalui tiga pilar utama pendekatan SAT:

1. Strategi (Pemberdayaan Kelembagaan & Legalitas):

Kemandirian tidak akan tercapai tanpa tata kelola yang otonom. BUMDesa didorong untuk memperkuat manajemen pemasaran digital melalui pemetaan Local SEO (Google Business Profile) dan pengelolaan website desa (desawisatapunjulharjo.com).

Di sisi lain, pelindungan hukum atas kekayaan intelektual (HKI) digalakkan—mulai dari merek produk lokal hingga pencatatan ciptaan seni tari kreasi—guna memastikan kedaulatan ekonomi dan budaya warga desa terlindungi secara legal di bawah payung hukum Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI).

Website desawisatapunjulharjo.com.

2. Aksi (Transformasi Budaya & Ekonomi Kerakyatan):

Sektor kesenian direvitalisasi bukan sekadar sebagai tontonan pelengkap, melainkan sebagai magnet utama ekonomi pariwisata. Melalui kolaborasi strategis, Sanggar Seni Kusuma Wicitra bertransformasi menjadi Event Organizer mandiri.

Lahirnya repertoar tarian kreasi baru seperti Tari “Selaras Senja” dan Tari “Prajurit Satrio Punjulharjo” membuktikan bahwa tradisi lokal mampu berdialog secara dinamis dengan zaman tanpa kehilangan akarnya.

Sementara itu, di sektor UMKM, standardisasi mutu melalui fortifikasi garam beriodium dan peningkatan kemasan produk terasi mendongkrak daya saing produk lokal di pasaran.

Tari “Selaras Senja” dan Tari “Prajurit Satrio Punjulharjo”. 

3. Teknologi (Hilirisasi Ekonomi Sirkular & Energi Terbarukan):

Inilah jantung intervensi tahun ketiga. Untuk mengatasi masalah energi, tim mengimplementasikan sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS Off-Grid 300 Wp) yang dilengkapi lampu pertumbuhan (grow light).

Teknologi ini menyuplai kebutuhan energi secara mandiri untuk fasilitas green house dan kawasan Edupark, sekaligus menekan biaya operasional secara signifikan.

Instalasi PLTS untuk pemenuhan listrik pada Edupark Situs Perahu Kuno.

Selain itu, konsep ekonomi sirkular diterapkan melalui optimalisasi mesin pencacah (hammer mill). Limbah sabut kelapa pantai berkapasitas ribuan kilogram per bulan disulap menjadi media tanam cocopeat berkualitas tinggi yang langsung dimanfaatkan di area green house edukatif.

Di bidang seni, penyediaan panggung modular berdimensi 6×8 meter dan seperangkat instrumen gamelan komprehensif membebaskan sanggar dari belenggu biaya sewa pertunjukan.

Menuju Otonomi Desa: Pelajaran dari Punjulharjo

Apa yang dicapai di Desa Punjulharjo memberikan pelajaran penting bagi peta jalan pengembangan desa wisata di Indonesia. Model pentahelix—yang mempertemukan akademisi, pemerintah, pelaku usaha (BUMDesa), komunitas budaya, dan media—terbukti ampuh ketika diletakkan di atas fondasi partisipasi aktif masyarakat (co-creation).

Kini, Punjulharjo tidak lagi sekadar desa dengan temuan arkeologis purbakala di dalam tanahnya, melainkan sebuah ekosistem yang hidup: mandiri energinya, produktif limbahnya, berdaulat budayanya, dan tangguh ekonominya.

Transformasi ini membuktikan bahwa sains dan teknologi, ketika berpadu dengan kearifan lokal, mampu menjadi katalisator paling ampuh untuk mewujudkan kesejahteraan yang berkelanjutan dari desa untuk Indonesia.

Tim pelaksana menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, yang telah mendanai kegiatan Program Desa Binaan melalui Skema Pengabdian Masyarakat: Pemberdayaan Berbasis Wilayah Ruang Lingkup Desa Binaan Tahun Anggaran 2026.

Pelaksanaan kegiatan ini didukung dan didanai sepenuhnya berdasarkan: Nomor Kontrak Induk: 148/C3/DT.05.00/PM/2026 dan Nomor Kontrak Pelaksanaan Program: 255-1/UN7.D2/PM/IV/2026

Ucapan terima kasih yang sama juga kami sampaikan kepada Pihak Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Diponegoro dan Universitas Ivet, Pemerintah Kabupaten Rembang, Pemerintah Desa Punjulharjo, pengurus BUMDesa “Abimantrana”, Sanggar Seni “Kusuma Wicitra”, serta seluruh masyarakat Desa Punjulharjo atas sinergi, fasilitas, dan partisipasi aktifnya sehingga seluruh rangkaian program pengabdian masyarakat ini dapat berjalan dengan sukses dan berkelanjutan.(***)

Penulis:

  • Dr Fuad Muhammad, SSi, MSi*) Universitas Diponegoro, Ketua Pengusul/Bidang Ekowisata & Ilmu Lingkungan.
  • Triyono, SH, MKn (Universitas Diponegoro) – Anggota Tim/Bidang Hukum Adat & Kebudayaan.
  • Prof Dr Ir Hadiyanto, ST, MSc, IPU (Universitas Diponegoro) – Anggota Tim/Bidang Rekayasa Proses & Teknologi.
  • Rangga Fajar Abdillah, ST, MLing (Universitas Ivet) – Anggota Tim/Bidang Pariwisata & Lingkungan.

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Komentar