Portalika.com [SURAKARTA] — Kementerian Kebudayaan terus berkomitmen memperkuat ekosistem seni rupa nasional agar mampu bersaing di kancah internasional. Salah satu langkah strategis yang dijalankan adalah melalui program penutupan Belajar Bersama Maestro (BBM), Empu Dr Drs I Gusti Nengah Nurata, MSn, yang digelar di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta/Solo, Jateng.
Menteri Kebudayaan RI, Prof (Hon) Dr H Fadli Zon, SS, MSi saat mengunjungi pameran lukisan di ISI Solo menyambut baik kegiatan tersebut. Acara ini dihadiri sivitas akademika ISI Solo, serta para seniman muda dan budayawan regional.
Hadir juga Ketua Senat ISI Solo, Prof Dr I Nyoman Sukerna; Dirjen Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi, Dr Restu Gunawan; Ketua Umum Asosiasi Museum, Putu Supadma Rudana, hingga jajaran direktorat terkait.
Pewarisan Nilai Substantif dan Akar Budaya
Menurut Fadli Program Belajar Bersama Maestro tahun ini melibatkan maestro seni rupa terkemuka, I Nyoman Nuarta, setelah pada periode sebelumnya diampu oleh almarhum Nasirun.
Program ini dirancang bukan sekadar memberikan pelatihan teknis, melainkan menanamkan nilai-nilai estetika, artistik, dan rasa yang substantif kepada generasi muda.
Melalui Manajemen Talenta Nasional (MTN), pemerintah menetapkan lima prioritas bidang seni, yaitu seni pertunjukan, musik, film, sastra, dan seni rupa. Seni rupa dinilai memiliki posisi tawar yang kuat serta nilai ekonomi budaya (cultural capital) yang sangat potensial di panggung global.
“Indonesia memiliki modal budaya yang sangat besar sebagai negara Mega Cultural Diversity dengan lebih dari 1.340 etnis dan 718 bahasa daerah. Kekayaan latar belakang ini membentuk keunikan DNA kreatif seniman Indonesia yang sulit ditandingi,” kata Fadli.
Kiblat Seni Rupa Tertua Ada di Nusantara
Bahkan, papar dia, riset terbaru menunjukkan bahwa kiblat seni rupa tertua di dunia berada di Nusantara, yaitu lukisan gua di Leang Metanduno, Kabupaten Muna, yang diperkirakan berumur setidaknya 67.800 tahun.
Angka ini jauh lebih tua dibandingkan situs seni gua purba di Eropa seperti Lascaux di Prancis (17.000 tahun) maupun Altamira di Spanyol (20.000 tahun).
Untuk menaikkan visibilitas perupa nasional di tingkat global, pemerintah mendorong partisipasi aktif dalam ajang seni bergengsi seperti Venice Biennale.
Selain itu, pemerintah juga tengah menyiapkan rencana revitalisasi Galeri Nasional agar lebih representatif dalam memamerkan koleksi permanen secara kronologis.
Langkah ini diharapkan mampu membangun cara pandang yang Indonesia-sentris dalam meletakkan kerangka berpikir (school of thought) seni rupa nasional, tanpa mengekor tren perupa luar negeri.
Pemajuan ini sejalan dengan amanat pasal 32 Ayat 1 UU D 1945, yaitu negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia.
Apresiasi Rektor ISI
Sementara itu Rektor ISI Solo, Dr Bondet Wrahatnala, SSos, MSn, menyampaikan apresiasi yang mendalam atas kehadiran Menteri Kebudayaan dan jajarannya. Dia menegaskan program ini merupakan bentuk dukungan nyata negara terhadap keberlanjutan ekosistem seni rupa Indonesia.
“Pameran bertema alam dan lingkungan hidup ini mengajak kita merenungkan, merawat, dan mewariskan alam melalui bahasa rupa. Seni tidak hanya merepresentasikan realitas, tetapi juga membangun kesadaran akan realitas tersebut,” ujar Bondet.
Menurut dia Program Belajar Bersama Maestro 2026 menghadirkan Empu Dr I Gusti Nengah Nurata, MSn sebagai mentor utama yang mendampingi para mahasiswa seni berprestasi dari berbagai perguruan tinggi seni di Indonesia.
Dalam pembinaannya, Empu Nengah Nurata menekankan pentingnya kedalaman konsep dan pembentukan karakter seniman sejati.
“Menjadi pelukis itu mudah, tetapi menjadi seniman seni lukis membutuhkan proses panjang. Saya menanamkan nilai agar generasi muda melahirkan karya yang kreatif, inovatif, serta berkepribadian kuat berbasis budaya bangsa—bukan sekadar mengekor pada tren seni rupa Barat,” tegas dia. (Iskandar)












Komentar