Transid Aktivasi Perpustakaan Kampung dan Taman Cerdas, Walijota Respati Dorong Volunteer Turun Langsung ke Warga

banner 468x60

Portalika.com [SURAKARTA] – Komunitas Transid mengaktivasi perpustakaan kampung dan taman cerdas se-Kota Surakarta melalui program literasi yang melibatkan ratusan volunteer.

Kegiatan Urun Rembug #7 bertajuk “Pentingnya Aktivasi Perpustakaan Kampung dan Taman Cerdas se-Kota Surakarta” tersebut dihadiri Walikota Surakarta, Respati Ardianto, anggota Komisi IV DPRD Kota Surakarta, Sekar Tandjung, serta Founder Transid Mohammad Taufiq Hasan di Pendopo Lodji Gandrung, Sabtu, 12 September 2026.

banner 300x250

Kegiatan tersebut diikuti 220 volunteer dan 35 peserta magang dari berbagai perguruan tinggi. Dalam kesempatan itu, Respati menyerahkan naskah nota kesepahaman (MoU) secara simbolis kepada Mohammad Taufiq Hasan sebagai penanda kerja sama antara Pemerintah Kota Surakarta dan Transid dalam mengoptimalkan perpustakaan kampung dan taman cerdas sebagai ruang literasi masyarakat.

Kerja sama tersebut menjadi payung kolaborasi untuk menghidupkan ruang-ruang literasi warga secara berkelanjutan sekaligus mendorong keterlibatan anak muda dalam kegiatan literasi di tingkat kampung.

Dalam sambutannya, Respati menekankan agar para volunteer tidak hanya menjalankan kegiatan di perpustakaan, tetapi turun langsung dan berbaur dengan masyarakat.

“Teman-teman yang mengikuti pelatihan ini bisa turun ke kampung-kampung, ngobrol dengan warga yang ada di masyarakat, memahami serta merasakan langsung kondisi mereka,” kata Respati.

Menurut Respati, keterlibatan volunteer di kampung harus memberikan dampak lebih dari sekadar menjalankan sebuah kegiatan. Mereka diharapkan ikut membangun kesadaran dan menumbuhkan minat membaca, terutama bagi anak-anak.

“Bukan hanya sekadar mengaktivasi sebuah kegiatan, tetapi juga bagaimana menyadarkan dan menumbuhkan minat baca anak-anak di kampung-kampung,” ujarnya.

Respati menilai kampung memiliki potensi besar dalam melahirkan generasi muda dengan kapasitas dan kemampuan yang luar biasa. Karena itu, anak muda yang terlibat dalam program tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya membangun kembali budaya literasi masyarakat.

“Saya yakin, generasi yang tumbuh dan memiliki kapasitas luar biasa itu banyak muncul dari kampung-kampung. Anak-anak muda dari kampung memiliki potensi yang besar,” katanya.

Transid Siapkan Ruang Bercerita

Dalam pelaksanaan program, Transid menyiapkan 35 peserta magang yang berasal dari sejumlah perguruan tinggi, di antaranya UIN Raden Mas Said Surakarta, Universitas Sebelas Maret (UNS), dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Para peserta magang tersebut nantinya ditempatkan di 10 perpustakaan kampung yang tersebar di Kota Surakarta. Mereka akan berkolaborasi dengan pengurus perpustakaan kampung dan volunteer untuk menjalankan aktivitas literasi secara langsung di tengah masyarakat.

Salah satu program utama yang diperkenalkan Transid dalam kegiatan tersebut adalah Ruang Bercerita. Program ini menjadi ruang interaksi dengan anak-anak melalui aktivitas literasi yang tidak hanya berorientasi pada membaca buku, tetapi juga memberikan ruang bagi anak untuk bercerita dan mengekspresikan gagasan.

Program Ruang Bercerita juga didukung dengan kegiatan pameran karya dan voluntrip. Program-program tersebut menjadi bagian dari pendekatan Transid dalam menghidupkan perpustakaan kampung agar tidak hanya menjadi tempat menyimpan dan meminjam buku, tetapi juga menjadi ruang aktivitas warga dan anak-anak.

Founder Transid, Mohammad Taufiq Hasan mengatakan Transid lahir secara organik dari keresahan bersama sebagai warga Kota Surakarta. Komunitas tersebut dibentuk sebagai wadah bagi setiap orang untuk bertumbuh sesuai dengan potensi masing-masing.

Melalui kerja sama dengan Pemkot Surakarta, Transid berharap program-program yang telah disiapkan dapat berjalan lebih berkelanjutan sekaligus memperluas kolaborasi dengan berbagai pihak.

Setelah sesi sambutan dan penyerahan MoU, kegiatan Urun Rembug #7 dilanjutkan dengan pengenalan program Ruang Bercerita kepada para volunteer. Forum berlangsung interaktif dengan peserta yang mendapatkan penjelasan mengenai alur kerja dan sistem pelaksanaan program ketika terjun langsung ke masyarakat dan mendampingi anak-anak.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan focus group discussion (FGD). Para volunteer dikelompokkan berdasarkan perpustakaan kampung yang telah dipilih, kemudian berdiskusi bersama pengurus perpustakaan masing-masing.

Dalam FGD tersebut, volunteer dan pengurus perpustakaan mendalami modul Ruang Bercerita yang telah disiapkan untuk masing-masing lokasi. Tahapan ini sekaligus menjadi proses awal bagi volunteer untuk mengenali karakteristik lingkungan dan kebutuhan masyarakat di kampung yang akan mereka dampingi.

Kolaborasi Pemkot Surakarta dan Transid diharapkan menjadi langkah awal untuk menghidupkan kembali perpustakaan kampung dan taman cerdas sebagai ruang belajar, berinteraksi, berkarya sekaligus menumbuhkan budaya membaca di masyarakat. (Ariyanto)

Komentar