Portalika.com [SUKOHARJO] – Gerakan peduli lingkungan terus digalakkan masyarakat Sukoharjo melalui kegiatan bernilai nyata. Festival Bunga Raya digelar secara meriah Minggu, 13 September 2026 dengan mengusung semangat pengelolaan sampah berbasis masyarakat demi mewujudkan Kampung Iklim.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi Bank Sampah Bunga Raya, Baznas Sukoharjo, Puskesmas, serta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sukoharjo. Festival ini tak sekadar seremonial, melainkan ajakan nyata bagi warga untuk memilah, memanfaatkan, dan memberi nilai guna pada sampah rumah tangga.
Maria Nanik, Ketua Panitia sekaligus pengurus Bank Sampah Bunga Raya, menyebut kegiatan ini telah menjadi agenda tahunan. Tujuannya sederhana namun luas dampaknya: mengubah pandang warga terhadap sampah.
“Setiap tahun kita laksanakan. Ini bentuk kepedulian bank sampah agar masyarakat semakin peduli lingkungan. Sampah dari rumah masing-masing bisa dimanfaatkan sesuai jenisnya,” ujar Maria di lokasi kegiatan.
Festival ini sarat manfaat bagi warga. Beragam kegiatan digelar, mulai pembagian sembako hasil kerja sama dengan Baznas Sukoharjo, pemeriksaan kesehatan gratis bersama Puskesmas, hingga pembagian bibit tanaman dan pupuk cuma-cuma dari DLH Sukoharjo.
Tak kalah menarik, ditampilkan pula Aksi Dalang Kreasi Daur Ulang. Warga dapat melihat langsung berbagai produk hasil olahan sampah seperti sabun, eco enzyme, dan barang kerajinan yang siap pakai.
Hadir pula Pasar Dodolan Second — tempat jual beli barang bekas layak pakai dengan harga terjangkau, mulai dari nol hingga Rp10.000.
“Barang yang sudah tak terpakai di rumah tak harus dibuang. Masih bisa berguna dan bernilai ekonomi,” ujar Maria.
Penyuluh Lingkungan Hidup DLH Sukoharjo, Victor, memberikan apresiasi tinggi atas konsistensi kegiatan ini yang telah berlangsung empat hingga lima tahun terakhir. Menurutnya, kolaborasi ini istimewa karena menggabungkan pelestarian lingkungan dengan kepedulian sosial.
“Kami selalu mendukung kegiatan di Bunga Raya. Ini bukan sekadar soal sampah, tapi juga bakti sosial, kesehatan, dan bantuan bagi yang membutuhkan,” ungkap Victor.
Lebih jauh, Victor menekankan keterlibatan warga dalam pengelolaan sampah melalui Bank Sampah dan Program Kampung Iklim (ProKlim) menjadi kunci keberhasilan. DLH berharap model pengelolaan lingkungan di Bunga Raya dapat menular ke lingkungan lain di Sukoharjo.
“Sudah cukup solid. Kami harap contoh ini diikuti RT dan RW lainnya. Bahkan kini sudah ada wilayah lain yang terinspirasi membentuk bank sampah serupa,” tambahnya.
Melalui Festival Bunga Raya, pesan sederhana disampaikan: menjaga lingkungan bukan beban sendirian. Bersama warga, pemerintah, lembaga sosial, dan pelaku usaha, sampah yang tadinya dianggap kotoran bisa berubah menjadi berkah dan langkah nyata menuju kampung yang sehat, bersih, dan berkelanjutan. (Naharudin)












Komentar