Portalika.com [SURAKARTA] – Penanganan kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Putri Cempo, Kota Surakarta, mencapai 95 persen hingga Minggu, 13 September 2026 sore. Tim gabungan masih melakukan penyisiran dan pendinginan terhadap sejumlah titik panas untuk mencegah munculnya api baru.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Surakbaru, Ari Dwi Daryatmo mengatakan, pemadaman di Blok B telah mencapai 95 persen. Sementara sebagian besar area Blok C dan Blok D1 juga telah berhasil dikendalikan.
Pernyataan itu disampaikan Ari dalam konferensi pers Update Penanganan Kebakaran TPA Putri Cempo di Media Centre Putri Cempo, Minggu sore. Konferensi pers turut dihadiri Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surakarta Herwin Tri Nugroho Adi dan perwakilan Dinas Pemadam Kebakaran Kota Surakarta, Muhammad Usman.
Berdasarkan pemantauan citra termal pada Minggu pagi, suhu di lapangan mengalami penurunan cukup signifikan. Namun, drone termal masih mendeteksi sejumlah titik dengan suhu tinggi yang menjadi fokus penanganan tim gabungan.
Titik yang masih menjadi perhatian berada di lereng sebelah timur Blok B. Kondisi medan membuat sejumlah titik api di kawasan tersebut lebih sulit dijangkau petugas.
“Dari sekitar 5 persen area yang masih tersisa, memang masih ada beberapa titik asap dan titik api yang muncul dan terus dilakukan pengendalian oleh teman-teman di lapangan,” kata Ari.
Infrastruktur vital berupa jalur Sutet di sekitar lokasi juga terpantau aman. Sementara itu, berdasarkan pemantauan visual di wilayah Plesungan hingga Desa Sulurejo, kondisi asap dinilai tidak lagi mengganggu aktivitas masyarakat.
Damkar Fokus Pendinginan
Seiring penanganan kebakaran memasuki tahap akhir, Damkar memfokuskan personel pada penyisiran dan pendinginan titik-titik yang masih panas.
Perwakilan Damkar Kota Surakarta, Muhammad Usman mengatakan mobil suplai air tidak lagi diperlukan untuk mendukung proses pendinginan karena sumber air tersedia di sekitar TPA Putri Cempo.
“Untuk pendinginan tidak banyak karena sumber air ada di sekitar Putri Cempo. Sehingga untuk mobil suplai saya kira sudah tidak dibutuhkan,” kata Usman.
Damkar akan menempatkan dua unit mobil untuk mendukung proses pendinginan. Satu unit ditempatkan di pertigaan antara Zona B dan D, sedangkan satu unit lainnya di Zona C.
Saat ini sekitar dua pleton atau kurang lebih 60 personel masih dikerahkan di lokasi. Jumlah tersebut akan dikurangi secara bertahap menjadi sekitar satu pleton jika kondisi kebakaran semakin normal.
Meski demikian, pengawasan tetap dilakukan setelah masa tanggap darurat berakhir. Damkar akan menempatkan personel di lokasi selama 24 jam dengan sistem dua shift selama sekitar tiga hingga lima hari.
Setelah itu, pengawasan dilanjutkan melalui patroli setiap dua hingga tiga jam untuk memastikan kondisi api tetap dalam pantauan.
“Setelah itu nanti tetap kami lakukan patroli. Paling tidak setiap dua sampai tiga jam akan ada regu yang berpatroli di sini, sehingga kondisi api tetap dalam pantauan Dinas Pemadam Kebakaran,” ujar Usman.
Selama proses penanganan, penggunaan air telah mendekati 5 juta liter. Hingga 11 September 2026, penggunaan air tercatat sekitar 4 juta liter dan terus bertambah selama proses pemadaman.
Air diperoleh dari sejumlah sumber, antara lain PT LHA, sumber air Damkar, PT AIM Provinsi di Plesungan, serta sungai yang dimanfaatkan dengan membuat bendungan. Debit air dari sungai tersebut belum masuk dalam penghitungan karena volumenya belum dihitung.
Penerimaan Sampah Masih Diatur
Sementara itu, aktivitas penerimaan sampah di TPA Putri Cempo masih dilakukan dengan pengaturan.
Kepala DLH Kota Surakarta, Herwin Tri Nugroho Adi mengatakan, pengaturan penerimaan sampah akan disesuaikan dengan kondisi penanganan kebakaran dan pengurangan personel Damkar di lokasi.
“Setelah nanti ada pengurangan personel, mungkin akan ada pengaturan baru lagi terkait penerimaan sampah di TPA Putri Cempo,” kata Herwin.
Herwin berharap penanganan kebakaran segera selesai sehingga aktivitas penerimaan sampah di TPA Putri Cempo dapat kembali normal.
Ia juga meminta masyarakat Kota Surakarta memperkuat pemilahan dan pengolahan sampah sejak dari sumbernya, terutama sampah organik.
“Kami berharap gerakan warga Solo untuk memilah dan mengolah sampah terus dimasifkan. Terutama untuk sampah-sampah organik, kami harapkan sudah dapat diselesaikan sejak dari sumbernya,” ujarnya.
Herwin mengapresiasi para lurah di Kota Surakarta yang mulai menyiapkan fasilitas pengolahan sampah untuk menangani sampah organik dari tingkat hulu. (Ariyanto)












Komentar