Ketua Komjak RI Prof Pujiyono Ingatkan Tak Terjebak di Dunia Maya, Bupati Setyo Sukarno Sebut Anak Muda Punya Peran Penting Bangun Daerah

banner 468x60

Portalika.com [WONOGIRI] — Siklus anak muda lekat dengan kegelisahan, terlebih dalam meraih mimpi dan jati diri. Tetapi di tengah itu, jangan sampai terjebak dalam dunia maya yang membawa pesona.

Ketua Komisi Kejaksaan (Komjak) RI, Prof Dr Pujiono Suwadi mengaitkan persoalan tersebut dengan tujuan Gerakan Solusi Indonesia (GSI), yakni membantu anak muda membedah pola pikir dan menyadari bahwa kehidupan nyata tidak selalu sesuai dengan gambaran yang ditampilkan di dunia maya.

banner 300x250

“Dunia nyata itu ya kadang senang, kadang jelek, dan harus kita nikmati,” papar dia dalam Ngobrol Inspiratif Bareng Anak Muda yang digelar Gerakan Solusi Indonesia (GSI), Pemkab Wonogiri, Kejaksaan Negeri Wonogiri dan Bank Jateng Cabang Wonogiri di Pendopo Kabupaten Wonogiri, Jumat, 18 September 2026.

Dewan Pakar GSI itu berharap anak-anak muda diingatkan agar tidak terjebak oleh pesona dunia maya di tengah kehidupan nyata yang sejatinya selalu ada solusinya.

“Jangan terjebak alam dunia maya. Akibatnya kesusahan kompas [kehidupan],” harap dia.

Menurut Pujiono, persoalan yang dihadapi anak muda bukan hanya kebimbangan menentukan masa depan setelah lulus sekolah atau kuliah, tetapi juga bagaimana membangun cara berpikir dan mengambil keputusan di tengah derasnya informasi digital.

Dia mengaitkan persoalan itu dengan pembentukan GSI, yang diarahkan untuk mendorong anak muda tidak sekadar mengkritik keadaan, tetapi turut menjadi bagian dari solusi. Terlebih pembentukan GSI berangkat dari kegelisahan terhadap kondisi generasi muda.

“Banyak anak-anak muda ini setelah SMA lulus bingung. Lulus bingung mau kerja apa, mau seperti apa, mau menjadi apa, segala macam,” kata Pujiono.

Ia melanjutkan, persoalan serupa juga dapat dialami seseorang setelah menyelesaikan pendidikan tinggi. Menurutnya, kebingungan tersebut kemudian beriringan dengan kondisi anak muda yang hidup dalam dua ruang, yakni dunia nyata dan dunia maya.

“Kegelisahan yang kedua adalah banyak anak muda sekarang yang hidupnya ini sebenarnya kita dua alam tetapi terjebak pada alam dunia maya,” ujarnya.

Guru Besar Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta itu menjelaskan, dunia maya menghadirkan berbagai pesona yang dapat memengaruhi cara seseorang melihat kehidupan.

Anak muda dapat melihat kesuksesan orang lain dan memiliki keinginan untuk mencapainya. Mereka juga dapat melihat kesalahan seseorang maupun pemerintah, kemudian terdorong untuk memberikan kritik.

Namun, ia mengingatkan bahwa keinginan tersebut perlu diikuti tindakan nyata. “Jadi pengin sukses, habis itu ngapain, bingung,” kata Pujiono.

Dalam kesempatan tersebut, Pujiono menyebut pendidikan sebagai salah satu cara yang dapat ditempuh untuk meningkatkan derajat keluarga.

Portalika.com/Rowi

Ia tidak mempersoalkan kritik sebagai bentuk perhatian terhadap kondisi sosial. Akan tetapi, Pujiono mengingatkan agar kritik tidak berhenti pada hujatan tanpa upaya untuk terlibat dalam penyelesaian persoalan.

Pujiono menyebut, seseorang yang hanya mengkritik tanpa berupaya menjadi bagian dari solusi berisiko terus berada pada posisi sebagai pengkritik. Sebaliknya, kritik dapat diarahkan untuk mempersoalkan kondisi sekaligus mendorong keterlibatan dalam penyelesaian masalah.

“Kalau kita kemudian mengkritik terus kemudian kita berupaya ke depan kita harus jadi bagian dari solusi, maka kemudian setidaknya kritik kita itu tidak kemudian arahnya menghujat,” jelasnya.

Lebih Percaya Influencer daripada Ahli

Pujiono kemudian mengangkat fenomena yang ia sebut sebagai the death of expertise atau kematian keahlian.

Ia menjelaskan, guru di sekolah, termasuk guru agama dan guru PPKn, memiliki pengetahuan sesuai bidangnya. Namun, dalam praktiknya, sebagian anak muda lebih mempercayai informasi yang beredar di media sosial.

“Faktanya, kalian lebih percaya pada apa yang media sosial katakan, daripada apa yang guru katakan,” ungkap Pujiono.

Ia menilai, jumlah pengikut di media sosial tidak otomatis menjadi ukuran kebenaran informasi yang disampaikan seseorang.

Pujiono memberikan ilustrasi melalui bidang hukum yang menjadi latar belakang keilmuannya.

Ia menyebut, seseorang dengan latar belakang pendidikan berbeda tetapi memiliki jumlah pengikut besar dapat lebih dipercaya ketika menyampaikan informasi hukum dibandingkan dirinya yang memiliki latar belakang pendidikan hukum.

Pujiono mengingatkan bahwa jumlah pengikut tidak menjamin informasi yang disampaikan benar.

“Saya itu kuliah di Hukum, sampai S1, S2, S3 dan doktor. Tetapi ketika saya ngomong soal hukum di media sosial, bisa jadi Anda lebih percaya pada orang yang lulusan teknik yang follower-nya banyak dibanding saya yang follower-nya tidak begitu banyak,” ujarnya.

Ia mendorong anak muda untuk tidak berhenti pada keluhan terhadap keadaan, tetapi berusaha membangun kemampuan dan menentukan langkah untuk masa depan.

Selain membahas orientasi hidup dan pengaruh dunia maya, Pujiono mengingatkan anak muda mengenali sejumlah persoalan yang dapat mengganggu masa depan, termasuk judi online, narkotika, perkelahian kelompok, serta penggunaan media sosial.

Ia mengajak generasi muda tidak terjebak pada kesenangan sesaat yang dapat menimbulkan persoalan lebih panjang. Pujiono mencontohkan judi online yang dapat membuat seseorang kesulitan keluar ketika sudah terjerat.

Ia juga mengingatkan bahwa persoalan hukum dapat muncul dari tindakan di media sosial, seperti penghinaan, ancaman, maupun penyebaran konten tertentu.

“Makanya kita harus juga bijak bermedia sosial. Sebelum ngetik-ngetik, sebelum ngeshare itu dipikir dulu,” pesannya.

Pujiono menekankan pentingnya anak muda memiliki mimpi dan berupaya mewujudkannya melalui proses yang tidak selalu mudah.

Menurutnya, kesediaan menghadapi kesulitan dan bertahan dalam proses menjadi bagian dari upaya mencapai kesuksesan.

Ia juga mendorong generasi muda memanfaatkan kesempatan pendidikan, termasuk program beasiswa yang disediakan Pemerintah Kabupaten Wonogiri.

Peran Penting Anak Muda

Kepala Kejaksaan Negeri Wonogiri, Hery Somantry turut menyoroti pentingnya kesadaran hukum di kalangan generasi muda.

Ia menyampaikan bahwa kejaksaan telah melakukan berbagai kegiatan sosialisasi hukum, termasuk program Jaksa Masuk Sekolah, sebagai upaya pencegahan tindak pidana. Dikatakan, sebagian besar perkara yang telah ditangani melalui penuntutan di persidangan berkaitan dengan perlindungan anak.

“Hampir 70 persen tindak pidana yang ada di Wonogiri ini yang sudah kita lakukan penuntutan di persidangan ya, itu hampir rata-rata perkara perlindungan anak,” ungkap dia.

Dia menekankan, perkara tersebut mencakup kasus pencabulan, termasuk perkara dengan pelaku yang masih berusia anak. Maka, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya peningkatan kesadaran hukum, khususnya di kalangan remaja.

“Kami beberapa program ke sekolah-sekolah telah melakukan program Jaksa Masuk Sekolah dengan harapan kami memberikan pencegahan terhadap tindak pidana terutama-terutama yang dilakukan oleh para remaja, pada anak-anak,” ujarnya.

Hery menegaskan, upaya pencegahan tidak dapat hanya dibebankan kepada kejaksaan. Ia menyebut, pemerintah, tokoh agama, dan berbagai elemen masyarakat memiliki peran dalam meminimalkan tindak pidana. Serta agar generasi muda tidak terlibat dalam tindak pidana.

“Ini bukan hanya tugas kami di kejaksaan, tapi ini tugas kita semua. Kenali hukum, jauhi hukuman,” tutur dia.

Pemuda Punya Berperan Penting

Sementara itu Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno menyampaikan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam mendorong perubahan dan pembangunan daerah.

Ia mengatakan, potensi anak muda di Wonogiri perlu diarahkan agar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

“Peran pemuda sangat sentral dan energi yang luar biasa dalam membuat perubahan, tentunya di sini membutuhkan arah yang jelas sehingga memiliki daya konstruktif yang memberikan manfaat pada masyarakat luas,” paparnya.

Ia mengaitkan peran generasi muda dengan cita-cita Indonesia Emas 2045. Menurutnya, pembangunan masa depan Indonesia dan Kabupaten Wonogiri akan bertumpu pada generasi muda yang memiliki kemampuan serta kemauan untuk berkontribusi.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati juga menyampaikan persoalan judi online di Wonogiri. Menurutnya, berdasarkan data, Wonogiri berada dalam 10 besar dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah terkait persoalan judi online.

“Wonogiri ini darurat judi online. Tiga puluh lima kabupaten/kota di Jawa Tengah, kita masuk ranking 10,” ujar Bupati.

Ia menyebut angka perputaran dana sebesar Rp128 miliar dan jumlah pengguna akun sekitar 46.600. Angka tersebut merupakan data yang disampaikan Bupati dalam kegiatan dan perlu ditelusuri lebih lanjut untuk mengetahui periode, sumber, serta metodologi pengukurannya.

Bupati kemudian mengingatkan generasi muda agar tidak menjadikan judi sebagai jalan untuk mencapai kesejahteraan. “Yakinlah judi tidak mungkin Anda menjadi kaya,” katanya.

Sebagai upaya mendukung peningkatan sumber daya manusia, Bupati juga menyampaikan program beasiswa bagi mahasiswa berprestasi di Wonogiri.

Ia menjelaskan, program tersebut telah dilaksanakan sejak 2016 hingga 2025 dengan total penyaluran Rp70,09 miliar kepada 5.604 mahasiswa.

Untuk tahun ini, pemerintah daerah menganggarkan Rp7,5 miliar dengan bantuan masing-masing Rp12 juta bagi 605 mahasiswa.

Bupati berharap kesempatan tersebut dapat mendorong anak muda untuk mengembangkan potensi, berkreasi, serta memberikan kontribusi bagi kemajuan daerah.

“Pemuda harus membangun kesejahteraan bagi masyarakat yang dilandasi cita-cita mulia untuk kemajuan bersama serta kemajuan bangsa dan negara,” jelas dia.

Dalam acara yang dihadiri 130 anak muda dari OSIS dan Pramuka, mahasiswa, organisasi kepemudaan dan karang tarun itu, juga menghadirkan pembicara lain. Seperti Co Founder GSI, Anas Syahirul, Local Hero Wonogiri, Yosep Bagus, Pegiat Literasi Digital, Niken Satyawati dan mahasiswa berprestasi Wonogiri, Ajeng Adela Selandani. (*)

Editor: Triantotus

Komentar