Dr Ariyanto: Potensi Wisata DIY Harus Didorong ke Pasar Internasional

banner 468x60

Portalika.com [BANTUL] — Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) perlu menggenjot kunjungan wisatawan mancanegara untuk memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata internasional. Tingginya kunjungan wisatawan domestik dinilai belum cukup menjadi ukuran keberhasilan pengembangan pariwisata Yogyakarta.

Pandangan tersebut disampaikan Dr Ariyanto, SE, MM, lulusan Program Doktor (S3) Pariwisata Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo (STIPRAM) Yogyakarta.

banner 300x250

Menurutnya, wisatawan asing masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian dalam pengembangan pariwisata DIY.

“Kalau selama ini mungkin pemerintah daerah sudah merasa cukup untuk tingkat kunjungan domestik wisata Nusantara. Bahkan tahun 2025 kemarin menempati tingkat pertama. Jadi sudah sangat cukup dengan kuantitas yang didapatkan. Tamu asing inilah yang menjadi PR,” ujar Ariyanto di sela Doctoral Appreciation & Academic Gathering di Auditorium Ayodya, Kampus STIPRAM Yogyakarta, Banguntapan, Bantul, Jumat, 18 September 2026.

Ariyanto menilai pengembangan wisatawan mancanegara membutuhkan lebih dari sekadar promosi destinasi. Salah satu aspek yang perlu dikaji adalah akses masuk wisatawan asing ke Yogyakarta.

Selain jalur udara, ia melihat peluang membuka akses melalui jalur laut. Potensi kawasan pesisir selatan Yogyakarta, menurutnya, dapat menjadi bagian dari kajian untuk mendukung konektivitas wisatawan internasional.

“Rencana kami ke depan adalah mengadakan penelitian bagaimana wisatawan asing bisa masuk ke Yogyakarta melalui pintu laut. Selama ini kita belum memiliki pelabuhan yang standar untuk kapal pesiar,” katanya.

Menurut Ariyanto, gagasan tersebut membutuhkan kajian komprehensif. Karakteristik pantai selatan Yogyakarta yang memiliki gelombang relatif besar menjadi salah satu aspek yang harus diperhitungkan.

Karena itu, pengembangan akses laut tidak dapat hanya dilihat dari kepentingan pariwisata, tetapi juga harus mempertimbangkan aspek keselamatan dan keamanan pelayaran.

“Penelitian kami fokus pada bagaimana secara khusus keuntungan sektor pariwisata Jogja bisa ditingkatkan dari sisi wisatawan asing melalui jalur laut. Ini akan menjadi kajian yang sangat menyeluruh, mulai dari kebijakan, infrastruktur, hingga keamanan laut,” ujarnya.

Ariyanto mengatakan Yogyakarta sebenarnya memiliki modal destinasi yang kuat untuk menjadi tujuan wisata internasional. Kekayaan budaya dan seni, sejarah, kuliner, kawasan perkotaan, pegunungan, hingga pesisir memberikan pilihan pengalaman wisata yang relatif lengkap.

Persoalannya, menurut dia, adalah bagaimana potensi tersebut dikemas dan didukung dengan akses yang mampu menarik lebih banyak wisatawan asing.

“Bagaimana wisatawan asing bisa masuk ke Yogyakarta, tinggal lebih lama, dan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat. Itu yang perlu kita pikirkan,” katanya.

Gagasan tersebut disampaikan Ariyanto setelah menyelesaikan pendidikan doktoral yang ditempuh sekitar empat tahun. Ia menegaskan, gelar doktor bukan akhir perjalanan akademik, melainkan harus dilanjutkan dengan penelitian yang menjawab persoalan aktual di bidang pariwisata.

Sementara itu, Ketua STIPRAM Yogyakarta Dr Suhendroyono, SH, MM, MPar, CHE, CGSP, mengatakan pendidikan di STIPRAM menekankan nilai Catur Karsa, yakni To See (melihat), To Hear (mendengar), To Think (berpikir), dan To Do (melakukan).

“STIPRAM terus memegang teguh nilai dasar Catur Karsa, yaitu To See, To Hear, To Think, dan To Do. Nilai-nilai inilah yang menjadi landasan bagi para doktor baru dalam berkontribusi nyata,” ujar Suhendroyono.

Doctoral Appreciation & Academic Gathering sekaligus menjadi momentum apresiasi terhadap 12 lulusan Program Doktor Pariwisata STIPRAM serta pengukuhan pengurus Ikatan Alumni Doktor Pariwisata (Ikadapari) STIPRAM Yogyakarta periode 2026–2030. (Yuliantoro)

Komentar