Mahasiswa KKNT 114 Undip Dorong Digitalisasi UMKM Desa Blimbing Kabupaten Klaten melalui QRIS dan Pemasaran Digital

banner 468x60

Portalika.com [KLATEN] – Sebagai bagian dari upaya mendorong transformasi ekonomi lokal, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip) melaksanakan program Digitalisasi Marketing melalui Inklusi Keuangan melalui pendampingan pemanfaatan QRIS, pemetaan titik lokasi usaha melalui Google Maps, penyusunan katalog produk digital, serta edukasi literasi perpajakan.

Program yang dilaksanakan pada 5 Agustus 2026 ini tidak hanya berfokus pada adopsi pembayaran digital, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat visibilitas dan pengelolaan usaha melalui pemanfaatan teknologi digital.

banner 300x250

Kegiatan dilakukan dengan mendatangi langsung lokasi usaha pelaku UMKM untuk memberikan sosialisasi dan pendampingan sesuai dengan kondisi masing-masing usaha.

Pendekatan door to door dipilih agar proses edukasi berlangsung lebih personal dan aplikatif, terutama bagi pelaku usaha yang masih terbiasa menggunakan transaksi tunai dan belum sepenuhnya memanfaatkan teknologi digital dalam kegiatan usahanya.

Berdasarkan hasil pengamatan selama pelaksanaan KKN, transaksi pada sejumlah UMKM di Desa Blimbing masih didominasi pembayaran tunai dengan pencatatan yang relatif sederhana.

Kondisi tersebut dapat menjadi tantangan bagi pelaku usaha dalam memantau arus transaksi dan membangun rekam jejak keuangan secara digital. Di sisi lain, pemahaman mengenai literasi keuangan digital serta kewajiban perpajakan bagi pelaku usaha juga masih perlu diperkuat.

Atas dasar tersebut, digitalisasi tidak hanya dipandang sebagai upaya menghadirkan metode pembayaran baru, tetapi sebagai langkah awal untuk mendorong pengelolaan usaha yang lebih tertib dan adaptif terhadap perkembangan ekonomi digital.

Dalam pelaksanaannya, Weyna Rizky Rahmadhani, mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip, memberikan pendampingan terkait pemanfaatan QRIS sebagai sarana pembayaran digital.

Pendampingan mencakup penjelasan mengenai fungsi dan manfaat QRIS, proses pendaftaran dan aktivasi bagi pelaku usaha yang membutuhkan, hingga simulasi transaksi.

Pendampingan dilakukan secara langsung di lokasi usaha sehingga pelaku UMKM dapat memahami penggunaan QRIS sekaligus mempraktikkannya dalam situasi transaksi yang nyata.

Pemanfaatan QRIS diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi konsumen dalam melakukan pembayaran sekaligus membantu pelaku usaha memiliki catatan transaksi yang lebih terstruktur.

Dalam jangka panjang, transaksi digital juga dapat menjadi bagian dari rekam jejak keuangan usaha yang dapat mendukung pengelolaan keuangan dan membuka peluang akses terhadap layanan keuangan formal.

Digitalisasi usaha kemudian diperluas melalui pemetaan lokasi UMKM secara daring. Dini Maeylani, mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip, membantu mendaftarkan serta memperbarui titik lokasi usaha melalui Google Maps.

Langkah ini dilakukan agar keberadaan UMKM lebih mudah ditemukan oleh masyarakat maupun calon konsumen, sekaligus meningkatkan visibilitas usaha di ruang digital.

Dengan demikian, digitalisasi tidak berhenti pada aspek pembayaran, tetapi turut menyentuh bagaimana usaha dapat ditemukan dan dijangkau oleh konsumen secara lebih luas.

Aspek pemasaran juga diperkuat melalui penyusunan katalog digital produk UMKM oleh Annisa Zahi As Zahira, mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip.

Katalog disusun untuk menampilkan informasi produk secara lebih terstruktur sehingga pelaku usaha memiliki media promosi yang dapat dibagikan secara digital kepada pelanggan.

Kehadiran katalog tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan pemasaran, tidak hanya kepada pelanggan di sekitar Desa Blimbing, tetapi juga kepada calon konsumen dari luar wilayah.

Sementara itu, untuk melengkapi aspek literasi keuangan, Justin Aragorn Sihombing, mahasiswa Akuntansi Perpajakan Sekolah Vokasi Undip, memberikan edukasi mengenai kesadaran perpajakan bagi pelaku UMKM.

Materi mencakup pentingnya memahami kewajiban perpajakan, membangun kebiasaan pencatatan transaksi yang tertib, serta memahami keterkaitan antara administrasi usaha, pelaporan pajak, dan keberlanjutan usaha.

Edukasi ini menjadi bagian penting agar transformasi digital yang dilakukan tidak hanya menghasilkan perubahan pada cara bertransaksi, tetapi juga mendorong pengelolaan usaha yang lebih tertib secara administratif.

Selama kegiatan berlangsung, pelaku UMKM menunjukkan antusiasme dengan aktif berdiskusi mengenai penggunaan QRIS, pemanfaatan Google Maps, hingga pengembangan katalog produk digital. Interaksi secara langsung juga memungkinkan mahasiswa menyesuaikan materi pendampingan dengan kebutuhan dan tingkat pemahaman masing-masing pelaku usaha.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, program KKN ini berupaya membangun ekosistem digital sederhana bagi UMKM Desa Blimbing yang mencakup pembayaran, visibilitas usaha, pemasaran, dan literasi keuangan.

QRIS menjadi pintu masuk dalam mendorong transaksi digital, Google Maps membantu meningkatkan keterjangkauan usaha secara daring, sementara katalog digital memperkuat media pemasaran.

Di sisi lain, edukasi perpajakan melengkapi proses tersebut dengan mendorong pelaku usaha untuk lebih tertib dalam mengelola aspek keuangan dan administrasi.

Dengan pendekatan yang terintegrasi, digitalisasi UMKM diharapkan tidak berhenti pada penggunaan teknologi semata, tetapi dapat menjadi bagian dari proses penguatan kapasitas usaha.

Langkah sederhana melalui pembayaran digital, pemetaan lokasi, katalog produk, dan peningkatan literasi keuangan menjadi fondasi bagi UMKM Desa Blimbing untuk beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen sekaligus meningkatkan daya saing di tengah perkembangan ekonomi digital. (*)

Editor: Triantotus

Komentar