Perundungan Verbal Guru SD ke Murid Terjadi di Eromoko

banner 468x60

Portalika.com [WONOGIRI] – Peristiwa dugaan perundungan verbal oleh guru sekolah dasar (SD) ke murid terjadi di salah satu SD negeri di Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri. Dampaknya murid korban diduga mengalami beban psikologis.

Informasi yang dihimpun tim Persatuan Jurnalis Wonogiri (PJW) yang dipimpin Bramantyo, Minggu, 2 Agustus 2026 menyebutkan korban murid bernama DES, kelas IV sekolah tersebut.

banner 300x250

Diceritakan peristiwa berawal saat pembelajaran berlangsung. Wali kelas, Mar membahas fenomena ayah tiri yang diposisikan sebagai sosok yang tidak baik terhadap anak tirinya.

Saat itu, guru tersebut menunjuk DES dan mengajukan pertanyaan “Punya ayah berapa?” Murid DES menjawab polos “dua”. Pertanyaan dilanjutkan, “Lah mas Aji?” Jawaban polos kembali muncul: “Oh ya tiga.”

Bram mengatakan, dari investigasi diperoleh informasi retorika serupa diulang keesokan harinya. Dia menegaskan suasana kelas yang seharusnya menjadi ruang aman berubah menjadi arena yang membebani.

“Teman-teman sekelas mendengar, dan beban psikologis pun bertambah dengan potensi ejekan serta perundungan. Saya mendapatkan pengakuan dari DES, kalau dia belum memahami sepenuhnya apa yang dimaksud dengan konflik atau fenomena rumah tangga orang tuanya,” jelasnya.

Lebih lanjut dijelaskannya, anak usia sekolah dasar masih berada pada tahap perkembangan di mana identitas diri dan rasa aman sangat bergantung pada lingkungan yang stabil.

“Ketika guru membuka sisi abnormal kehidupan keluarga di ruang publik kelas, yang terjadi bukan pembelajaran empati, melainkan pelanggaran terhadap prinsip do no harm dalam pendidikan. Psikologi perkembangan anak menekankan bahwa pengalaman negatif yang melibatkan aib keluarga dapat mengganggu pembentukan konsep diri, menurunkan rasa percaya diri, serta meningkatkan risiko kecemasan sosial di kemudian hari,” tegasnya.

Kepala SDN 1 di Eromoko, Sri, saat mengonfirmasi membenarkan peristiwa tersebut. Pihak sekolah menyampaikan permintaan maaf dan menyatakan kejadian ini akan menjadi bahan evaluasi bagi seluruh guru.

Diinformasikan DES dikenal sebagai murid berprestasi yang sering mewakili sekolah dalam berbagai lomba. Orang tua DES, Les, menekankan pentingnya tindakan tegas. Ia meminta pihak terkait memperingatkan guru-guru yang membuka aib atau sisi negatif keluarga murid.

Guru bukan hanya pengajar, melainkan juga penjaga batas-batas psikologis yang harus dijaga ketat. Pendidikan yang beretika menuntut kesadaran bahwa setiap kata yang diucapkan di depan anak memiliki bobot yang tidak ringan. (*)

Editor: Triantotus

Komentar