Portalika.com [SURAKARTA] – Gelaran Miss Batik Indonesia Cultural Festival 2026 siap dihelat di Kota Surakarta (Solo), Jawa Tengah. Lebih dari sekadar ajang kontes kecantikan (pageant), ajang nasional ini hadir sebagai gerakan kebudayaan (cultural movement) yang mendorong partisipasi perempuan muda Indonesia dalam melestarikan sekaligus menghidupkan budaya Nusantara.
Siaran pers yang diterima belum lama ini menyebutkan, sebanyak 20 hingga 22 finalis terpilih dari berbagai daerah di Indonesia akan berkumpul di Kota Solo untuk mengikuti rangkaian karantina intensif dan agenda Cultural Summit.
Selama masa karantina, para finalis mendapatkan pembekalan komprehensif mulai dari wawasan batik dan budaya Indonesia, public speaking, personal development, leadership, modeling, talent presentation, table manner, hingga terjun langsung mengenali ekosistem batik serta seni budaya di Solo.
Rangkaian pembekalan ini dirancang agar para finalis tidak sekadar mengenakan kain batik di panggung, tetapi juga memahami cerita mendalam, filosofi, nilai sejarah, dan kehidupan pengrajin di balik selembar kain batik.
Batik Sebagai ‘Living Culture’ dan Ruang Ekonomi Kreatif
Ketua Penyelenggara Miss Batik Indonesia Cultural Festival 2026, Sendang Kusumastuti, menegaskan pentingnya pemaknaan batik sebagai living culture (budaya yang hidup). Menurutnya, pelestarian budaya bukan berarti membekukannya dalam museum, melainkan memberinya ruang agar terus berkembang dan relevan dengan generasi muda.
“Kami ingin batik tidak berhenti sebagai warisan yang kita kenang, tetapi menjadi budaya yang terus kita menghidupi, kembangkan, dan wariskan dengan cara yang relevan kepada generasi berikutnya. Karena itu, MBI Cultural Festival 2026 kami hadirkan sebagai ruang kolaborasi antara perempuan, budaya, kreativitas, pariwisata, dan ekonomi kreatif,” ujar Sendang Kusumastuti.
Selain Cultural Summit, MBI 2026 menghadirkan Cultural Festival sebagai ruang perjumpaan publik. Acara ini akan mempertemukan unsur busana (fashion), batik, seni pertunjukan, komunitas lokal, hingga penguatan ekonomi kreatif.
Sekitar 30 booth UMKM akan menyemarakkan kawasan festival untuk memberikan ruang promosi bagi pelaku usaha lokal, pengrajin batik tradisional, hingga pelaku kuliner khas daerah. Hal ini diharapkan mampu mendorong perputaran ekonomi kreatif dan pariwisata di Kota Solo.
Gandeng Desainer Tyas Santhi Fatmasari dan Mahasiswa FSRD UNS
Sisi visual dan artistik Grand Final Miss Batik Indonesia 2026 berada di bawah komando Tyas Santhi Fatmasari. Desainer ternama di balik brand Ariesanthi ini dipercaya sebagai Lead Project sekaligus Direktur Grand Final Miss Batik Indonesia 2026.
Menariknya, perancangan busana (wardrobe) para finalis untuk ajang panggung utama melibatkan kolaborasi langsung dengan mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo.
“Kami ingin panggung MBI menjadi ruang bagi karya dan gagasan generasi muda untuk tampil. Kolaborasi dengan mahasiswa FSRD UNS mempertemukan pengalaman profesional dengan energi kreatif generasi baru, sehingga batik dapat terus berkembang tanpa kehilangan akar budayanya,” ungkap Tyas.
Jadwal dan Lokasi Grand Final Miss Batik Indonesia 2026
Puncak rangkaian acara penobatan akan berlangsung megah di jantung Kota Solo. Berikut rincian jadwal pelaksanaannya:
• Acara: Grand Final Miss Batik Indonesia 2026
• Hari/Tanggal: Jumat, 9 Oktober 2026
• Lokasi: Pendapi Ageng, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Solo
Pada malam puncak tersebut, para finalis akan melalui babak penyisihan mulai dari Top 10 hingga Top 3 untuk menentukan pemenang utama Miss Batik Indonesia 2026 serta 2nd Runner Up dan 3rd Runner Up.
Selain itu, panitia juga membagikan sejumlah penghargaan atribut bagi finalis yang menunjukkan karakter dan bakat istimewa.
Melalui ajang MBI Cultural Festival 2026 bertajuk “Women, Culture, and Sustainable Values: Celebrating Batik as a Living Culture”, mahkota pemenang bukan sekadar simbol kecantikan, melainkan bentuk tanggung jawab untuk memajukan warisan budaya bangsa. Sebab, warisan budaya tak cukup hanya dikenang, melainkan harus terus dihidupkan. (Iskandar)












Komentar