KWT Sumber Urip Bagikan Puluhan Paket Bibit Tanaman dan Lele, Dukung Ketahanan Pangan Warga

banner 468x60

Portalika.com [SUKOHARJO] – Kelompok Wanita Tani (KWT) Sumber Urip II, Desa Sugihan, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, membagikan puluhan paket bibit tanaman dan ikan lele kepada warga sebagai upaya mendukung program ketahanan pangan masyarakat, Minggu, 27 September 2026.

Selain membagikan bibit, kegiatan ini menjadi bagian dari pengembangan kebun atau pekarangan percontohan yang dikelola KWT Sumber Urip II dengan konsep pertanian berkelanjutan dan terintegrasi.

banner 300x250

Kepala Desa Sugihan, Kecamatan Bendosari, Sukardi, mengatakan kegiatan tersebut telah dilakukan secara rutin. Menurutnya, program itu tidak hanya bertujuan menghasilkan tanaman pangan, tetapi juga memastikan kegiatan dapat memberikan manfaat dan berkelanjutan.

“Awalnya kegiatan ini memang sudah rutin. Ini juga untuk persiapan desa binaan. Intinya, apa yang kita laksanakan harus bermanfaat dan ada tindak lanjut seterusnya, tidak hanya berhenti,” ujar Sukardi.

Ia menjelaskan, berbagai jenis tanaman dikembangkan di kebun KWT, mulai dari labu, pare, labu madu hingga berbagai sayuran seperti kangkung, tomat dan terong.

Menurut Sukardi, pengelolaan tanaman secara bersama-sama di kebun dinilai lebih mudah dalam hal pengawasan dibandingkan apabila seluruh bibit langsung ditanam secara mandiri di rumah warga.

BACA JUGA  Polresta Pati Ungkap Fakta Dibalik Pengrusakan Kaca Rumah Warga, Ditemukan 14 Gotri

“Kalau ditanam di rumah-rumah sejak awal kan sulit untuk mengawasi. Makanya dikerjakan bersama di kebun. Kebetulan akan ada monitoring, kemudian hasilnya kita bagikan kepada warga untuk ditanam di rumah masing-masing, sehingga pengawasannya juga lebih aman,” jelasnya.

Selain pengembangan tanaman pangan, Desa Sugihan juga mendorong kegiatan pendukung lainnya, salah satunya melalui bank sampah yang telah berjalan di tengah masyarakat.

Sementara itu, Ketua KWT Sumber Urip II, Cici Aprilia, mengungkapkan keberadaan kebun tersebut merupakan hasil perjuangan yang dilakukan secara bertahap selama sekitar dua tahun.

“Sedikit demi sedikit kalau dilihat sekarang sudah seperti ini. Dulu luar biasa perjuangannya. Lahan ini sebelumnya tidak ada apa-apanya, kemudian selama sekitar dua tahun dibenahi tahap demi tahap,” kata Cici.

Berbagai jenis tanaman telah dikembangkan

Namun, menurut Cici, kangkung menjadi salah satu komoditas unggulan KWT Sumber Urip II karena memiliki masa panen relatif cepat dan permintaan pasar cukup tinggi.

“Kangkung di sini benar-benar menjadi primadona. Pemasarannya paling banyak dan juga menghasilkan paling banyak untuk kita. Jadi bisa dikatakan kangkung naik kelas,” ujarnya.

BACA JUGA  Antisipasi Lonjakan Kendaraan Libur Akhir Tahun Jasa Raharja Tinjau Kesiapan Pelabuhan Merak

Cici menjelaskan, satu petak tanaman kangkung dapat menghasilkan sekitar Rp100.000. Dengan masa panen sekitar 22 hingga 25 hari, komoditas tersebut memiliki perputaran produksi dan ekonomi yang cukup cepat.

“Perputaran uang kita cepat dari kangkung sendiri. Belum lagi dari ternak lainnya. Ada ayam yang menghasilkan telur, ada lele yang selain dikonsumsi sendiri juga bisa dipasarkan, kemudian buah-buahan,” jelasnya.

KWT Sumber Urip II juga mengembangkan konsep integrated farming atau pertanian terintegrasi. Dalam konsep tersebut, hasil dari satu kegiatan dimanfaatkan kembali untuk mendukung kegiatan lainnya sehingga limbah dapat ditekan.

Cici mencontohkan sisa tanaman dan bonggol sayuran tidak langsung dibuang. Bahan tersebut dikembalikan ke kebun untuk diolah menjadi kompos dan selanjutnya dimanfaatkan sebagai nutrisi tanaman.

“Sayuran yang kita tanam kemudian kita konsumsi. Kalau ada sisa atau bonggolnya, tidak kami buang, tetapi kami kembalikan ke kebun untuk dikomposkan.

Hasil pupuknya kemudian dikembalikan lagi untuk nutrisi tanaman,” terangnya.

BACA JUGA  Kecelakaan Karambol di Giriwoyo, Seorang Meninggal Dunia 3 Luka

Konsep tersebut juga diterapkan dengan mengintegrasikan tanaman dan peternakan. Sisa hasil tanaman dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak, sementara hasil dari peternakan dapat kembali dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pertanian.

Menurut Cici, pola tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekonomi sirkular di tingkat masyarakat.

Kembangkan Pengairan Semi Otomatis dan Sistem Kapiler

Untuk menjawab persoalan pengairan, terutama saat cuaca panas, KWT Sumber Urip II juga melakukan berbagai inovasi sederhana.

Cici mengatakan, pengelolaan pengairan selama ini banyak dilakukan oleh ibu-ibu yang juga memiliki aktivitas rumah tangga. Karena itu, dibutuhkan sistem pengairan yang lebih praktis dan efisien.

“Kita belajar dari masalah kita sendiri. Contohnya pengairan yang dikelola ibu-ibu. Mereka juga punya banyak pekerjaan di rumah, sementara cuaca sedang panas. Kami mencari cara bagaimana pengairan bisa dibuat mudah dan praktis,” katanya.

Dari kebutuhan tersebut, KWT kemudian mengembangkan sistem pengairan semiotomatis. Dengan sistem tersebut, ketika pompa dinyalakan, pengairan dapat berjalan dan menyebar ke area tanaman. (Naharudin)

Komentar