Portalika.com [SURAKARTA] – Program Studi Hubungan Internasional (Prodi HI) Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta/Solo, Jateng dan Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA), Malaysia menandatangani implementasi perjanjian kerja sama untuk memperkuat pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Siaran pers dari Unisri belum lama ini menyebutkan selain kuliah tamu, kunjungan akademisi UniSZA juga menjadi momentum penguatan kerja sama kelembagaan. Kerja sama ini diharapkan membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara kedua institusi, baik melalui kegiatan akademik bersama, penelitian dan publikasi kolaboratif, pertukaran mahasiswa dan dosen, maupun program pengembangan kapasitas lainnya.
“Kehadiran akademisi UniSZA dan penandatanganan kerja sama ini merupakan langkah nyata Prodi HI Unisri dalam memperluas jejaring akademik internasional dan menghadirkan pengalaman belajar yang dekat dengan dinamika hubungan internasional di kawasan Asia Tenggara,” ujar perwakilan Prodi HI Unisri.
Dengan semangat kolaborasi lintas negara, HI Unisri berkomitmen terus menghadirkan narasumber internasional dan program kerja sama untuk menyiapkan lulusan yang kompeten dan berwawasan global.
Prodi HI Unisri berfokus pada pengembangan kajian diplomasi, politik internasional, dan studi kawasan Asia Tenggara. Prodi ini aktif menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi luar negeri untuk meningkatkan mutu pendidikan dan riset.
Selain penandatanganan kerja sama, sejumlah dosen dan mahasiswa Prodi HI Unisri mengikuti kuliah yang diberikan akademisi dari Malaysia dalam agenda Kuliah Tamu Internasional.
Soroti Perbatasan Sabah–Kalimantan
Kegiatan yang berlangsung di Lab Diplomasi Unisri Kampus II ini menghadirkan Assoc. Prof Dr Suyatno Ladjqi dari Department of International Relations, Faculty of Law & International Relations, Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA), Malaysia.
Kuliah yang menghadirkan dosen tamu ini diikuti oleh mahasiswa dan dosen Prodi HI Unisri dengan mengangkat tema “Dinamika Diplomasi Indonesia dan Malaysia”.
Dalam pemaparannya, Suyatno menyoroti hubungan Indonesia–Malaysia khususnya di kawasan perbatasan Sabah–Kalimantan. Dia menjelaskan bahwa hubungan kedua negara tidak hanya berlangsung melalui jalur diplomasi formal antarpemerintah, tetapi juga dibentuk oleh mobilitas masyarakat, jaringan kekerabatan, perdagangan, tenaga kerja, serta peran pemerintah daerah.
“Perbatasan tidak semata-mata menjadi garis pemisah wilayah negara, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial, ekonomi, dan politik yang melibatkan berbagai aktor, termasuk aktor subnasional dan non-negara,” papar dia.
Perspektif tersebut memberikan pemahaman baru bagi mahasiswa HI Unisri mengenai praktik hubungan internasional yang semakin multidimensional dan tidak terbatas pada negara sebagai satu-satunya aktor. (Iskandar)












Komentar