RG Sejarah Kebudayaan FIB UNS Latih Komunitas Sanggar Seni Tresna Budaya Kembangkan Ecoprint Ramah Lingkungan

banner 468x60

Portalika.com [GUNUNGKIDUL] — Keluarga besar Komunitas Sanggar Seni Tresna Budaya Kalurahan Kemiri, Kapanewon Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta diajari cara mengembangkan potensi budaya desa secara kreatif dan ekonomis melalui ecoprint.

Kegiatan itu dengan pendampingan dari Riset Grup (RG) Sejarah Kebudayaan, Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (FIB UNS), belum lama ini.

banner 300x250

Pelatihan diikuti lebih dari 70 peserta, terdiri dari murid dan wali murid Sanggar Seni Tresna Budaya, menghadirkan narasumber Dyah Yuni Kurniawati, dosen Program Studi Seni Rupa Murni, Fakultas Seni Rupa dan Desain UNS.

Materi pelatihan mencakup teknik dasar ecoprint sebagai salah satu bentuk Teknologi Tepat Guna (TTG) berbasis potensi lokal.

Kegiatan ini bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang mengusung semangat pemberdayaan dan pelestarian budaya lokal melalui inovasi ramah lingkungan.

Tundjung Wahadi Sutirto saat membuka pelatihan menyampaikan tujuan pelatihan ini adalah untuk mengembangkan potensi budaya desa secara kreatif dan ekonomis.

Portalika.com/Dyah

“Masyarakat Kalurahan Kemiri memiliki Sanggar Tresna Budaya yang aktif. Melalui pelatihan ecoprint ini, mereka dikenalkan pada teknik pewarnaan alami yang memanfaatkan sumber daya alam sekitar seperti daun jati dan tanaman lokal lainnya,” ujar Tundjung WS.

Sedangkan Ketua pelaksana kegiatan, Asti Kurniawati, menambahkan pelatihan ini diharapkan mampu meningkatkan kepekaan masyarakat terhadap kekayaan lingkungan dan mendorong kreativitas berkelanjutan.

“Kami ingin menggugah kesadaran bahwa budaya desa tidak hanya layak dilestarikan, tetapi juga bisa menjadi sumber ekonomi kreatif yang ramah lingkungan,” tuturnya.

Sementara itu, Dyah Yuni Kurniawati mengapresiasi semangat para peserta. “Sanggar ini memiliki potensi sumber daya manusia yang luar biasa, didukung kekayaan alam yang sangat mendukung, seperti daun-daun berwarna khas yang bisa dijadikan bahan utama ecoprint,” jelasnya.

Kegiatan ini mendapat sambutan dari masyarakat. “Saya senang sekali, karena baru pertama kali mengenal ecoprint. Ternyata seru dan bisa menghasilkan karya yang indah,” ujar Feni, salah satu peserta pelatihan.

Ketua Sanggar Seni Tresna Budaya, Sugiyono, menyatakan rasa terima kasih kepada tim pengabdian FIB UNS.

“Ilmu dan keterampilan yang diberikan sangat bermanfaat untuk perkembangan sanggar kami ke depan,” ungkapnya.

Selain Tundjung Wahadi Sutirto dan Asti Kurniawati, kegiatan ini juga dihadiri Yusana Sasanti Dadtun, Hayu Adi Darmarastri, dan Supariadi sebagai anggota RG Sejarah Kebudayaan.

Pelatihan ditutup dengan pertunjukan gamelan dan tari-tarian oleh murid-murid Sanggar Seni Tresna Budaya, menandai kolaborasi harmonis antara dunia akademik dan komunitas budaya dalam semangat pelestarian dan inovasi. (Dyah/*)
Editor: Triantotus

Komentar