Optimalisasi Limbah Peternakan Sebagai Pupuk Organik Dalam Mendukung Ketahanan Pangan Rumah Tangga Petani di Kabupaten Wonogiri

Oleh: Anding Sukiman*)

banner 468x60

Abstrak

Kabupaten Wonogiri merupakan wilayah agraris dengan potensi lahan pertanian yang cukup besar. Luas lahan sawah tercatat sekitar 32.569 hektar dan lahan tegalan atau kebun sekitar 88.638 hektar sehingga total luas lahan pertanian mencapai 121.207 hektare. Namun demikian, potensi tersebut belum sepenuhnya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

banner 300x250

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk Kabupaten Wonogiri pada tahun 2025 sekitar 1,057 juta jiwa dengan jumlah penduduk miskin sekitar 91.950 jiwa atau 9,59 % dari total penduduk. Garis kemiskinan di wilayah ini sebesar Rp479.566 per kapita per bulan.

Salah satu faktor yang mempengaruhi produktivitas pertanian adalah rendahnya kandungan bahan organik tanah. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kandungan karbon organik tanah di Kabupaten Wonogiri masih relatif rendah, yaitu berkisar antara 0,84% hingga 2%. Kondisi tersebut berdampak pada kesuburan tanah dan produktivitas tanaman padi yang masih tergolong sedang.

Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis potensi pemanfaatan limbah peternakan, khususnya kotoran sapi, sebagai pupuk organik dalam meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas pertanian. Berdasarkan data statistik tahun 2024, populasi sapi di Kabupaten Wonogiri mencapai sekitar 137.944 ekor.

Dengan asumsi produksi kotoran sapi sekitar 10 kg per ekor per hari, maka potensi kotoran sapi yang dihasilkan mencapai sekitar 503.496 ton per tahun. Setelah melalui proses pengomposan dengan penyusutan sekitar 50%, potensi pupuk kompos yang dihasilkan mencapai sekitar 250.000 ton per tahun.

Jumlah tersebut dapat digunakan untuk memupuk sekitar 25.000 hektare lahan sawah setiap tahun dengan dosis sekitar 10 ton per hektar. Pemanfaatan limbah peternakan secara optimal diharapkan dapat meningkatkan kesuburan tanah, meningkatkan produktivitas padi, serta memperkuat ketahanan pangan rumah tangga petani di Kabupaten Wonogiri.
Kata kunci: pupuk organik, kotoran sapi, kesuburan tanah, ketahanan pangan, Wonogiri.

Pendahuluan
Kabupaten Wonogiri merupakan wilayah terluas di Provinsi Jawa Tengah dengan luas wilayah sekitar 1.822 km². Karakter wilayahnya didominasi oleh lahan kering dan perbukitan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, luas lahan pertanian di Kabupaten Wonogiri mencapai sekitar 121.207 hektare yang terdiri dari lahan sawah sekitar 32.569 hektare dan lahan tegalan atau kebun sekitar 88.638 hektare.

Meskipun memiliki potensi lahan pertanian yang cukup luas, tingkat kesejahteraan sebagian masyarakat petani masih relatif rendah. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada tahun 2025 jumlah penduduk miskin di Kabupaten Wonogiri mencapai sekitar 91.950 jiwa atau 9,59 persen dari total penduduk dengan garis kemiskinan sebesar Rp479.566 per kapita per bulan.

Salah satu faktor yang mempengaruhi produktivitas pertanian adalah kondisi kesuburan tanah. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Machfiroh dkk (2014) tentang Penentuan Indek Kualitas Tanah Agroforestri berdasarkan sifat kimia tanah di Sub – Das Bengawan Solo Hulu Wonogiri mengandung C organic pada kisaran rendah hingga sedang antara 0,17 % hingga1,16 % .

Kemudian penelitian Supriyadi dkk (2016) di Sub -DAS Tirtomoyo Kabupaten Wonogiri menunjukan bahwa kandungan karbon organic tanah rekatif rendah, yaitu berkisar antara 1,4 % hingga 2%. Rendahnya kandungan bahan organik tanah dapat menutunkan kapasitas tukar kation, kemampuan tanah menahan air, sertaa ketersedian unsur hara bagi tanaman.

Portalika.com

Sedangkan hasil penelitian Supriyadi, Vera, dan Purwanto (2021) pada lahan sawah di Kecamatan Girimarto menunjukkan bahwa kandungan karbon organik tanah pada sistem pengelolaan organik, semi-organik, dan anorganik, C- organik masing-masing sebesar 2,0%, 1,9%, dan 1,4%.

Penelitian Mujiyo dkk. (2024) di Kecamatan Nguntoronadi juga menunjukkan bahwa kandungan C-organik pada lahan sawah konvensional berkisar antara 0,84–1,85%, sedangkan pada sistem semi-organik sekitar 1,31%.

Kondisi tanah pada kadar C organik tersebut berdampak pada produktivitas padi yang masih relatif sedang. Data statistik tahun 2025 menunjukkan bahwa produktivitas padi di Kabupaten Wonogiri sekitar 5,2 ton per hektare.

Data produksi padi 5,2 ton/ hektare, kalau dianalisa berdasar jumlah petani di Kabupaten Wonogiri hasil sensus pertanian tahun 2023 sebanyak 194.951 orang, maka mayoritas rumah tangga petani tergolong miskin. Sebagian besar merupakan petani gurem dengan penguasaan lahan kurang dari 0,5 hektar yaitu sekitar 129.967 orang.

Pembahasan
Pemanfaatan Pupuk Organik Untuk Meningkatkan Produktivitas Padi
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesuburan tanah adalah dengan memanfaatkan limbah peternakan sebagai pupuk organik. Kotoran sapi merupakan sumber bahan organik yang cukup mudah diperoleh di wilayah pedesaan.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pupuk kompos sekitar 10–20 ton per hektare yang dikombinasikan dengan pupuk anorganik mampu meningkatkan produksi padi sekitar 10–30%. Dengan produktivitas padi di Kabupaten Wonogiri yang saat ini sekitar 5,2 ton per hektare, penerapan sistem pemupukan semi-organik berbasis kompos berpotensi meningkatkan produksi menjadi sekitar 6–6,8 ton per hektar.

Penelitian yang dilakukan oleh Atman dkk (2018) menunjukkan peningkatan dosis pupuk kandang sapi berpengaruh nyata terhadap produksi padi. Hasil analisis regresi menunjukkan adanya hubungan linear positif antara dosis pupuk kandang sapi dengan produksi padi. Setiap penambahan pupuk kandang sapi sebesar 1 ton per hektar dapat meningkatkan produksi gabah sekitar 0,097 ton per hektar.

Penelitian Mujiyo dkk (2024) juga menunjukkan bahwa sistem budidaya padi semi-organik memiliki tingkat kesuburan tanah yang lebih baik dibandingkan sistem konvensional serta menghasilkan produksi padi sekitar 5,5–6,5 ton per hektare.

Potensi Limbah Peternakan di Kabupaten Wonogiri
Berdasarkan data statistik tahun 2024, populasi sapi di Kabupaten Wonogiri mencapai sekitar 137.944 ekor. Secara umum satu ekor sapi dapat menghasilkan kotoran sekitar 10–15 kg per hari. Dengan asumsi rata-rata 10 kg per hari, maka dalam satu tahun total produksi kotoran sapi diperkirakan mencapai sekitar 503.496 ton.

Dalam proses pengomposan biasanya terjadi penyusutan bahan sekitar 50%. Dengan demikian potensi pupuk kompos yang dihasilkan mencapai sekitar 250.000 ton per tahun.

Apabila kebutuhan pupuk kompos untuk memperbaiki kandungan bahan organik tanah sekitar 10 ton per hektare, maka jumlah tersebut dapat digunakan untuk memupuk sekitar 25.000 hektar lahan sawah setiap tahun. Dengan luas lahan sawah di Kabupaten Wonogiri sekitar 32.569 hektar, maka sebagian besar lahan sawah di wilayah ini berpotensi dipupuk dengan pupuk kompos apabila limbah peternakan dapat dimanfaatkan secara optimal.

Kesimpulan
Pemanfaatan limbah peternakan, khususnya kotoran sapi, memiliki potensi cukup besar untuk meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas pertanian di Kabupaten Wonogiri.

Dengan populasi sapi sekitar 137.944 ekor, potensi pupuk kompos yang dapat dihasilkan diperkirakan mencapai sekitar 250.000 ton per tahun yang dapat digunakan untuk memupuk sekitar 25.000 hektar lahan sawah.

Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa setiap penambahan pupuk kandang sapi sebesar 1 ton per hektar dapat meningkatkan produksi gabah sekitar 0,097 ton per hektare, maka penggunaan kompos dengan dosis 10 ton per hektar berpotensi meningkatkan produksi sekitar 0,97 ton per hektar.

Apabila diterapkan pada lahan seluas 25.000 hektar, maka peningkatan produksi gabah diperkirakan dapat mencapai sekitar 24.250 ton. Peningkatan produksi tersebut diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan serta meningkatkan kesejahteraan rumah tangga petani di Kabupaten Wonogiri.

Daftar Pustaka
Atman, B., Bakrie, R., & Indrasti. (2018). Effect of cow manure dosages as organic fertilizer on the productivity of organic rice in West Sumatra, Indonesia. International Journal of Environment, Agriculture and Biotechnology (IJEAB), 3(2), 506–511.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Wonogiri. (2024). Kabupaten Wonogiri dalam Angka 2024. Wonogiri: BPS Kabupaten Wonogiri.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Wonogiri. (2025). Data Statistik Kemiskinan Kabupaten Wonogiri Tahun 2025. Wonogiri: BPS Kabupaten Wonogiri.
Machfiroh, Supriyadi, Sri hartati. (2014). Penentuan Indeks Kualitas Agroforestri Berdasarkan Sifat Kimia Tanah di SUB- DAS Bengawan Solo Hulu Wonogiri.
Mujiyo, M., Naaifah, M. I., Suntoro, & Maro’ah, S. (2024). A Comparative Study of Soil Fertility in Organic, Semi-Organic, and Conventional Rice Field Farming Systems (Case Study: Nguntoronadi District, Wonogiri, Indonesia).
Supriyadi, S., Widijanto, H., & Sumarno. (2016). Karakteristik sifat kimia tanah pada berbagai penggunaan lahan di Sub DAS Tirtomoyo Kabupaten Wonogiri. Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan.
Supriyadi, S., Vera, D., & Purwanto. (2021). Soil organic carbon under different rice field management systems in Girimarto District, Wonogiri. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan.
FAO. (2017). Soil Organic Carbon: The Hidden Potential. Rome: Food and Agriculture Organization of the United Nations.
Lal, R. (2004). Soil carbon sequestration impacts on global climate change and food security. Science, 304(5677), 1623–1627. (*)
Penulis: Anding Sukiman, Mahasiswa S3 Agribisnia Universitas Muhammadiyah Malang

Komentar