Portalika.com [YOGYAKARTA] Sekumpulan anak muda duduk mengelilingi meja dan berdiskusi hangat di perpustakaan Museum Dewantara Kirti Griya (MDKG) yang masih terasa teduh di pagi hari. Ya, mereka anak muda usia 18-25 tahun dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta.
Komunitas ini menamakan diri Cakra Dewantara, dan tertarik mendalami gagasan besar para pendiri negara. Pagi itu mereka sedang mendalami gagasan-gagasan besar kebangsaan dari Ki Hadjar Dewantara yang dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia No 305 Tahun 1959 tanggal 28 November 1959 telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional.
“Puji syukur anak-anak muda itu bersemangat sekali menggali nilai-nilai gagasan kebangsaan Ki Hadjar. Mereka dengan sukarela dan mandiri telah berkontribusi kepada Tamansiswa, termasuk membantu tugas melayani pengunjung museum. Mereka juga mengadakan pelatihan penulisan dan memuatnya dalam website komunitas. Melalui berbagai media sosial dan pembangunan jaringan dengan berbagai pihak, mereka ingin gagasan kebangsaan Ki Hadjar lebih dikenal dan dipahami dan harapannya diimplementasikan masyarakat,” ucap pemandu museum Ki Agus Purwanto.
MDKG berlokasi di Jalan Tamansiswa No.l 31 Yogyakarta. Nama museum diberikan seorang ahli bahasa Jawa, Hadiwidjono, yang artinya Rumah yang berisi hasil kerja Ki Hajar Dewantara. Dari nama itu diharapkan para pengunjung dapat mempelajari, memahami, dan mewujudkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya ke dalam tata kehidupan berbangsa dan bernegara.
Rumah ini bergaya Indis (perpaduan arsitektur Eropa dan Jawa) dan dibangun pada tahun 1915. Pada tahun 1938-1957 bangunan ini merupakan rumah tinggal Ki Hajar Dewantara dan keluarga.
Dalam catatan, bangunan MDKG dibeli pada 14 Agustus 1934 oleh Tamansiswa atas nama Ki Hadjar Dewantara, Ki Sudarminto, Ki Supratolo seharga f 3.000,00 (tiga ribu gulden). Luas tanah seluruhnya 5.594 m². Di rumah yang kemudian menjadi museum inilah lahir pula Badan Musyawarah Museum (Barahmus) DI Yogyakarta tahun 1971 yang sekarang tercatat memiliki anggota 41 museum.
“Menurut pengunjung, MDKG termasuk yang paling mudah diakses daripada museum lainnya. Kami juga berbesar hati, saat ini sepertinya baru MDKG yang memiliki komunitas mandiri dan sukarela dan fokus pada MDKG. Semoga hal ini menjadi harapan baik untuk masa depannya,” tambah Ki Agus Purwanto.
Menurutnya MDKG merupakan museum memorial khusus yang menyimpan benda-benda peninggalan terkait asal-usul, perjuangan dan kehidupan Ki Hajar Dewantara. Koleksinya tercatat berupa dokumen terkait perjuangan Ki Hajar Dewantara, diantaranya surat penangkapan RM Suwardi Suryaningrat (nama Ki Hadjar sebelumnya) di Semarang tahun 1920.
Kemudian surat Wilde School Ordonantie (larangan sekolah yang dikelola tokoh pergerakan) tahun 1932 dan surat penangkapan “Tiga Serangkai” (Douwes Dekker, Cipto Mangunkusumo, dan RM Suwardi Suryaningrat) tahun 1931. Selain itu, koleksi berupa benda perjuangan dan rumah tangga, foto, film, buku serta manuskrip berusia ratusan tahun.
Benda perlengkapan perjuangan dan rumah tangga antara lain baju penjara Pekalongan tahun 1921 akibat Ki Hadjar dikenai delik bicara. Kemudian artikel di De Expres berjudul Alas Ik Eens Nederlander Was (seandainya saya orang Belanda) tahun 1913 yang dianggap sangat provokatif dan berbahaya sehingga Ki Hadjar dibuang ke negeri Belanda.
Untuk koleksi film diantaranya “Ki Hajar Dewantara, Pahlawan Nasional” diproduksi oleh Perum PFN tahun 1960. Untuk koleksi lainnya, tercatat historika sejumlah 1.207 buah dan Filologika yang bertema kebudayaan, politik, penddikan dan ketamansiswaan sejumlah 2.050 judul buku.
Tentang perlunya revitalisasi nilai-nilai Ki Hadjar dikemukakan antara lain oleh pendiri laboratorium Sariswara Cak Listyo. Sariswara berkomitmen menjadi pusat dokumentasi, penelitian dan pengembanan metode pendidikan Ki Hadjar melalui kesenian, yang fokus pada membangun karakter yang holistik.
“Pada peristiwa Gestapu 1965 banyak sekali kader didikan langsung Ki Hadjar gugur. Para pinisepuh juga banyak yang telah wafat, Ada keterputusan pengkaderan hingga sekolah Tamansiswa dirasakan seperti sekolah biasa. Padahal menurut Ki Hadjar pendidikan tidak hanya kecerdasan intelektual tetapi juga keindahan jiwa. Saat ini perlu nyali seluruh komponen berkonsolidasi mengembalikan jatidiri Tamansiswa,” ucap Cak Listyo. (Yuliantoro)












Komentar