FSRD UNS Dorong Warga Bejiharjo Produksi Merchandise Wayang Sada Khas Gunungkidul

banner 468x60

Portalika.com [GUNUNGKIDUL] – Sebagai langkah konkret dalam pelestarian budaya lokal dan pengembangan ekonomi kreatif berbasis masyarakat, Grup Riset Pengkajian Seni Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk Pemberdayaan Masyarakat Bejiharjo Melalui Pendampingan Pembuatan Merchandise Bertema Wayang Sada Khas Gunungkidul.

Kegiatan berlangsung pada 4 dan 5 Juli 2026 di Balai Budaya Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul. Wayang Sada adalah warisan budaya unik dari Gunungkidul yang dibuat dari lidi (sada dalam Bahasa Jawa), dirangkai secara artistik membentuk tokoh-tokoh pewayangan khas.

banner 300x250

Kreasi ini merupakan transformasi dari mainan anak-anak tradisional berbahan rumput, yang dipopulerkan oleh Mbah Marsono, 77, seorang seniman lokal yang telah memperkenalkan Wayang Sada hingga di luar daerah dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul.

Namun sayangnya, meskipun memiliki nilai budaya yang tinggi, Wayang Sada belum mendapat tempat yang layak sebagai ikon kerajinan khas Gunungkidul, terutama di kawasan wisata populer seperti Gua Pindul. Produk oleh-oleh masih didominasi makanan dan belum banyak tersedia merchandise budaya seperti kaos, totebag atau suvenir berbasis kerajinan Wayang Sada.

Merespon  hal ini, tim dari FSRD UNS hadir untuk menghubungkan kekayaan budaya lokal dengan potensi ekonomi kreatif berbasis pariwisata. Ketua Grup Riset Pengkajian Seni, Nooryan Bahari, menegaskan pentingnya pelibatan masyarakat dalam upaya revitalisasi budaya.

“Kami ingin Wayang Sada tidak hanya hidup sebagai warisan, tetapi juga tumbuh sebagai peluang ekonomi. Melalui keterampilan desain dan produksi merchandise, budaya lokal bisa memiliki nilai tambah yang relevan dengan pasar saat ini,” ujarnya.

Kegiatan juga mendapat sambutan dari Purwo Winanto, Ketua Desa Mandiri Budaya Bejiharjo, yang menghadirkan peserta dari berbagai unsur warga, seperti Karang Taruna, pelaku UMKM hingga guru PAUD.

Inti kegiatan berupa workshop produksi merchandise yang dipandu oleh pelaku kreatif Bintang Ariesta, dengan pendampingan dari mahasiswa Prodi Seni Rupa FSRD UNS, Faraziah dan Hamada. Para peserta, yang seluruhnya adalah perempuan, belajar mencetak desain Wayang Sada pada kaos dan totebag menggunakan teknik sablon manual.

Hasil karya mereka tidak hanya menjadi kenang-kenangan, tetapi juga membuka wawasan baru tentang peluang usaha berbasis budaya lokal.

Suasana workshop berlangsung hangat dan penuh semangat. Beberapa peserta menyampaikan bahwa pelatihan ini memberi pengalaman pertama mereka dalam dunia desain sablon.

“Kami jadi tahu bagaimana cara membuat kaos sablon sendiri. Ternyata bisa menyenangkan dan bisa jadi usaha juga,” ujar salah satu peserta, ibu Latifah, pelaku UMKM lokal.

Sebagai simbol keberlanjutan program, kegiatan ditutup dengan penyerahan paket peralatan dan bahan sablon kepada Desa Mandiri Budaya Bejiharjo, agar proses produksi dapat dilanjutkan secara mandiri oleh warga.

Tujuan akhir kegiatan ini adalah memperkenalkan Wayang Sada sebagai ikon budaya Gunungkidul yang memiliki potensi ekonomi dan estetika tinggi, sekaligus membuka ruang kreatif yang inklusif dan berdaya saing bagi masyarakat lokal, khususnya di sekitar destinasi wisata Gua Pindul.

Dengan pendekatan kolaboratif dan praktik langsung, FSRD UNS berharap tercipta ekosistem kreatif berbasis budaya lokal yang mampu mengangkat citra Gunungkidul sebagai wilayah yang tidak hanya indah secara alam, tetapi juga kaya secara budaya dan inovatif secara ekonomi. (Triantotus/*)

Komentar