Portalika.com [SURAKARTA] – Pemerintah Kota Surakarta terus berkomitmen menjaga dan melestarikan warisan budaya sebagai bagian dari identitas Kota Solo.
Komitmen itu diwujudkan melalui penyelenggaraan Kirab Budaya dan Tradisi Jamasan Wayang Orang Sriwedari yang digelar di Kompleks Taman Sriwedari, Selasa, 7 Juli 2026.
Kegiatan itu dalam rangka menyambut Bulan Sura sekaligus memperingati Hari Ulang Tahun ke-116 Wayang Orang Sriwedari.
Wakil Walikota Surakarta, Astrid Widayani, hadir mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari kirab budaya dari Plaza Sriwedari menuju Gedung Wayang Orang Sriwedari, wilujengan, hingga prosesi jamasan Patung Nyai Denok, Patung Kyai Bagus, dan perangkat gamelan (gangsa).
Astrid juga turut mengikuti prosesi penyiraman air bunga sebagai simbol penghormatan terhadap warisan budaya yang telah dijaga secara turun-temurun.
Menurut Astrid, tradisi jamasan bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan, melainkan bentuk penghormatan kepada para leluhur sekaligus doa agar kesenian Wayang Orang Sriwedari tetap lestari dan terus berkembang di tengah masyarakat.
“Ini merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata sebagai bentuk penghargaan sekaligus doa untuk kegiatan yang telah berlangsung sejak era Pakubuwana X. Jamasan ini menjadi bagian dari ikhtiar kita mendoakan agar seluruh aktivitas kesenian di Wayang Orang Sriwedari dapat terus lestari,” ujar Astrid.
Tradisi jamasan diawali dengan doa bersama yang dipimpin Abdi Dalem Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, dilanjutkan dengan pembersihan Patung Nyai Denok, Patung Kyai Bagus, serta perangkat gamelan yang menjadi pengiring pertunjukan Wayang Orang Sriwedari.
Sejumlah pemain Wayang Orang Sriwedari turut menampilkan pertunjukan sebagai bagian dari rangkaian acara.
Astrid menegaskan, pelestarian budaya tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri. Keterlibatan komunitas seni, paguyuban, pelaku budaya, hingga masyarakat menjadi kekuatan utama agar tradisi yang telah diwariskan selama lebih dari satu abad tetap hidup dan diminati generasi muda.
“Kegiatan ini juga melibatkan berbagai komunitas budaya, paguyuban pedagang, dan masyarakat di sekitar Sriwedari. Kami berharap kolaborasi seperti ini terus terjalin sehingga tradisi yang menjadi identitas Kota Solo dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya,” katanya.
Tradisi Jamasan Gangsa sendiri merupakan agenda rutin setiap Bulan Sura sebagai bentuk penyucian dan perawatan benda-benda seni yang memiliki nilai sejarah tinggi.
Selain menjaga kelestarian perangkat kesenian, tradisi ini juga menjadi sarana memperkuat nilai-nilai budaya Jawa sekaligus mempertahankan eksistensi Wayang Orang Sriwedari sebagai salah satu ikon seni pertunjukan Kota Solo.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan pembagian gunungan hasil bumi kepada masyarakat yang hadir. Antusiasme warga terlihat saat berebut berbagai hasil bumi yang telah didoakan sebagai simbol rasa syukur dan harapan akan keberkahan.
Kehadiran masyarakat dalam tradisi tersebut menunjukkan bahwa budaya bukan hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga ruang kebersamaan yang terus hidup dan berkembang di tengah kehidupan Kota Solo. (Ariyanto)












Komentar