Mahasiswa KKN Unisri Gagas Program Anti-Bullying di SMPN 1 Jatinom Klaten

Edukasi “Sahabat Tanpa Bully” Dorong Sekolah Ramah Teman

banner 468x60

Portalika.com [KLATEN] – Persoalan bullying atau perundungan masih menjadi ancaman serius di lingkungan pendidikan, khususnya di kalangan pelajar. Untuk mengatasi hal ini, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) PPM Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta, Nur Muhammad Yusuf, menggelar program edukasi bertajuk “Sahabat Tanpa Bully: Membangun Sekolah Ramah Teman” di SMPN 1 Jatinom, Klaten, 23 Juli 2025.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran siswa, guru, dan orang tua terhadap bahaya perundungan serta membangun budaya sekolah yang inklusif dan saling menghargai. Dalam sesi edukasi, Yusuf memaparkan definisi, bentuk, dan dampak bullying.

banner 300x250
Siswa SMPN 1 Jatinom antusias mengikuti sesi edukasi “Sahabat Tanpa Bully” yang digelar mahasiswa KKN Unisri. (Foto: Dok.)

Ia menjelaskan bahwa perundungan dapat berupa tindakan fisik seperti memukul, verbal seperti ejekan, sosial seperti pengucilan, hingga cyberbullying melalui media sosial. “Korban bullying berisiko mengalami luka fisik, gangguan psikosomatik, hingga masalah psikologis seperti kecemasan, depresi, dan penurunan kepercayaan diri,” ujar Yusuf, mengutip data dari Journal of Child Psychology and Psychiatry (2023).

Ia juga menyoroti dampak jangka panjang, seperti penurunan prestasi akademik dan keterasingan sosial, yang dapat menghambat perkembangan anak. Selain itu, Yusuf mengajak siswa untuk peka terhadap tanda-tanda perundungan, seperti perubahan perilaku, enggan berangkat ke sekolah, atau kemunculan cedera tanpa sebab jelas.

Ia menegaskan bahwa penyebab bullying sering kali berakar dari tekanan sosial, kurangnya empati, pengaruh lingkungan, atau keinginan menunjukkan dominasi. “Pemahaman ini penting agar siswa bisa mengenali dan mencegah bullying sejak dini,” tambahnya, merujuk pada laporan UNICEF Indonesia (2024) yang menyebutkan 1 dari 3 anak di Indonesia pernah mengalami perundungan.

Program ini juga menawarkan solusi praktis untuk mencegah bullying. Yusuf mendorong sekolah untuk mengintegrasikan pendidikan anti-bullying dalam kurikulum, menerapkan sanksi tegas bagi pelaku, dan menyediakan layanan konseling bagi korban maupun pelaku.

Ia juga menekankan peran guru dan orang tua dalam memantau interaksi anak, baik di dunia nyata maupun daring. “Media sosial sering menjadi ladang subur cyberbullying. Orang tua perlu lebih proaktif memantau aktivitas anak di internet,” ujarnya, didukung temuan Komnas Perlindungan Anak (2025) yang mencatat peningkatan kasus cyberbullying di kalangan remaja.

Kegiatan ditutup dengan pesan kuat dari Yusuf: “Bullying adalah tanggung jawab bersama. Sekolah, guru, siswa, dan orang tua harus bersinergi menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung.” Program ini diharapkan menjadi langkah awal bagi SMPN 1 Jatinom untuk memperkuat budaya saling menghormati dan menumbuhkan empati, sehingga siswa dapat belajar dan berkembang tanpa tekanan sosial.

Penulis: Nur Muhammad Yusuf, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) PPM Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta.

Komentar