Mahasiswa KKN Unisri Edukasi Temanku Bukan Cuma Gadget

banner 468x60

Portalika.com [KLATEN] – Gadget sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak generasi sekarang. Namun di balik manfaatnya, penggunaan berlebihan berpotensi mengganggu konsentrasi belajar, menurunkan interaksi sosial, bahkan memicu kecanduan digital.

Hal inilah yang melatarbelakangi Raihan Lutfiah Fajrin, mahasiswi Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta, untuk menggagas program kerja individu bertajuk Sosialisasi Edukasi Temanku Bukan Cuma Gadget.

banner 300x250

Kegiatan yang dilaksanakan Kamis, 7 Agustus 2025 di SD Negeri Sukorini 2, Kecamatan Manisrenggo, Kabupaten Klaten, berlangsung meriah dan interaktif.

Berbeda dari sosialisasi konvensional, Raihan mengemas program ini melalui pendekatan kreatif. Selain pemaparan ringan mengenai dampak positif dan negatif penggunaan gadget, siswa diajak mengikuti permainan edukatif membuat bentuk dari clay polimer.

Aktivitas ini tidak hanya melatih kreativitas dan motorik halus, tetapi juga memberikan pengalaman nyata bahwa kebersamaan dan kesenangan bisa diciptakan tanpa harus menatap layar gawai.

Portalika.com/Ist

“Anak-anak terlihat sangat antusias. Banyak dari mereka yang awalnya cenderung pasif, jadi lebih berani berinteraksi dan bereksplorasi,” ujar Raihan.

Apresiasi dari Guru dan Pihak Sekolah

Kepala SD Negeri Sukorini 2, menyambut baik program ini. Menurutnya, kebiasaan siswa yang terlalu sering bermain HP memang menjadi salah satu tantangan utama dalam proses belajar mengajar.

“Materi yang dibawa mahasiswa KKN ini sangat relevan. Kami memang sering menghadapi kasus siswa yang kurang fokus belajar karena terlalu sering bermain gim. Pendekatan kreatif seperti ini sangat membantu membuka wawasan mereka,” tutur Siti.

Sebagai calon konselor, Raihan menekankan pentingnya edukasi preventif sejak dini. “Siswa sekolah dasar adalah generasi yang sedang membangun kebiasaan. Kalau sejak awal mereka sudah diarahkan untuk menggunakan gadget secara bijak, mereka akan lebih siap menghadapi tantangan digital di masa depan,” jelasnya.

Menurutnya, sosialisasi seperti ini bukan hanya tentang melarang, tetapi memberi pilihan aktivitas positif.

“Anak-anak jadi tahu bahwa teman mereka bukan cuma gadget, tapi juga teman sebaya, permainan tradisional, aktivitas seni, dan banyak hal lain yang lebih seru,” katanya.

Psikolog pendidikan anak, Dr Santi Wardani, MPsi dalam kesempatan terpisah menilai program semacam ini sangat penting. “Anak-anak belajar paling baik melalui pengalaman nyata. Aktivitas seperti clay polimer akan membantu mereka menumbuhkan keterampilan sosial, kesabaran, serta daya imajinasi,” ungkapnya.

Dengan adanya program ini, suasana kelas di SD Negeri Sukorini 2 terasa lebih hidup. Anak-anak belajar sambil bermain, berani bertanya, sekaligus menemukan keseruan baru di luar layar ponsel. (*)

Penulis: Raihan Lutfiah Fajrin, mahasiswi Bimbingan dan Konseling FKIP Unisri Surakarta

Editor: Suryono

Komentar