Diwarnai Adu Mulut, Keraton Surakarta Peringati Malam 1 Sura 2026 dengan 2 Acara Berbeda

banner 468x60

Portalika.com [SURAKARTA] – Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar peringatan Hajad Dalem Kirab Pusaka Malam 1 Sura, Rabu Kliwon, 17 Juni 2026 dini hari dengan dua cara berbeda. Ini terjadi gara-gara tak lepas dengan buntut konflik dua raja yang bertahta di Keraton Surakarta, yang masing-masing mengklaim sebagai yang sah.

Perbedaan itu di antaranya mulai dari tempat hingga agenda yang dilaksanakan. Informasi yang dihimpun dari berbagai sumber menyebutkan, di dalam tembok keraton terdapat dua kegiatan yang berbeda, dan diikuti oleh dua pihak yang berbeda pula.

banner 300x250

Satu kegiatan bertempat di Sasana Parasdya di mana Paku Buwono (PB) XIV Purubaya melangsungkan ritual sakral tersebut. Posisi duduknya di tempat duduk rendah dengan kaki bersila.

Satu kegiatan lainnya bertempat di Pelataran Sasana Sewaka, di mana PB XIV Hangabehi juga melaksanakan ritual 1 Sura dengan posisi duduk di kursi sehingga tidak duduk bersila.

Yang menarik abdi dalem masing-masing kubu ungkur-ungkuran atau saling membelakangi satu sama lain. Abdi dalem PB Purbaya menghadap ke barat sedangkan abdi dalem PB Hangabehi menghadap ke timur dengan sebagian menghadap ke barat.

Suasana Memanas 

Bukan hanya itu, pintu masuk yang dilalui keduanya juga berbeda, yakni Kori Talang Paten (kubu Purbaya) dan Kori Kamandungan. Di sela-sela acara, suasana sempat memanas karena dari kubu Hangabehi, bersama GRAy Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng dan GRAy Koes Indriyah, mendatangi tempat acara kubu Purbaya.

Keruan saja insiden ini memicu reaksi dari putri-putri PB XII yang juga merupakan kakak dari Purbaya. Adu mulut kedua pihak tak terhindarkan, terjadi beberapa saat sebelum kedua pihak berpisah dan suasana kembali tenang.

“Kami berusaha sebaik mungkin untuk saling menahan diri, saling menjaga diri, harkat, martabat nama keraton, nama besar keraton Indonesia, nama besar orang Jawa yang katanya santun dan penuh nilai–nilai luhur. Jangan tercederai masalah-masalah yang tidak penting,” papar Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Kasunanan Surakarta, KPH Eddy Wirabhumi.

Ribuan warga menunggu rombongan kirab pusaka Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat di kawasan Gladag, Solo, Jateng. (Portalika.com/Iskandar)

Di bagian lain kehadiran kubu Hangabehi didampingi Kanjeng Gusti Pangeran Hariyo Panembahan Agung (KGPHPA) Tedjowulan di Pelataran Sasana Sewaka tempat upacara lebih awal yaitu sekitar pukul 19.30 WIB. Sekitar 30 menit kemudian kubu Purbaya muncul di Sasana Parasdya.

Selanjutnya mereka duduk di tempat masing-masing dan para abdi dalem dari kedua pihak terus berdatangan hingga kawasan dalam keraton itu penuh sesak. Acara inti peringatan malam 1 Sura baru mulai digelar Selasa Wage 16 Juni 2026 sekitar pukul 23.00 WIB.

Kubu Purbaya memulai dengan Haul Dalem PB X, dilanjutkan dengan wilujengan, doa bersama, serta kembul bujana atau makan bersama. Di sela-sela acara dia mengajak para abdi dalem berdoa di tempat.

Purbaya memanjatkan doa agar semua diberi kesehatan, dilapangkan rezeki, kelanggengan Keraton Surakarta, dan persatuan serta kejayaan Republik Indonesia. Doa ini diamini oleh para abdi dalem. Dia juga sempat mengajak mereka yang hadir untuk makan bersama.

Kirab Keliling Keraton

Dalam waktu bersamaan, kubu Hangabehi bersiap melakukan kirab peringatan Malam 1 Sura keluar keraton. Mereka menyusuri rute kirab beberapa jalan seperti biasanya sejauh kira-kira 6 kilometer.

Pada bagian lain ratusan abdi dalem mulai berbaris di saat Purbaya memanjatkan doa. Tepat sekitar pukul 24.00 WIB, kirab dilakukan dengan mengarak sedikitnya 14 pusaka Keraton Surakarta didahului dengan tiga ekor kebo bule keturunan Kiai Slamet.

Pada kirab itu, tampak pula ratusan abdi dalem turut menyertai pusaka-pusaka yang diarak. Puluhan orang bertugas membawa lampu, perdupaan, pusaka, dan pengawal dibariskan sebelum pelepasan kirab.

Tepat pukul 24.00 WIB, iring-iringan kirab dilepas langsung oleh KGPH Hangabehi dari pelataran Sasana Sewaka menuju Kori Kamandungan. Di luar kori atau pintu tersebut, telah menunggu tiga ekor kebo bule keturunan Kiai Slamet.

Kerbau yang ikut kirab sebagai cucuk lampah atau yang terdepan memang hanya tiga ekor, tidak sebanyak dari biasanya yang bisa sampai lima atau enam ekor. Karena kerbau lainnya sedang ada masalah kesehatan sehingga tak bisa disertakan kirab.

Dalam iring-iringan kirab, selain petugas pembawa pusaka dan sebagainya juga turut menyertai para abdi dalem yang jumlahnya seribuan orang. Mereka mulai berjalan dari dalam keraton menuju ke Jl Supit Urang menuju ke Alun Alun Utara, Gapura Gladag, Jl Jenderal Sudirman.

Sampai Kantor Telkom ke timur, Jl Mayor Kusmanto ke kanan ke Jl Kapten Mulyadi. Sampai Perempatan Baturono belok ke kanan Jl Veteran. Sampai Perempatan Gemblegan ke kanan Jl Yos Sudarso sampai Perempatan Nonongan di Jl Slamet Riyadi ke timur sampai Bundaran Gladag belok kanan, Jl Pakoe Boewono kembali ke Alun Alun Utara dan masuk area keraton lagi sejauh sekitar 6 kilometer.

Tedjowulan yang ditemui awak media menyampaikan rasa syukurnya, karena agenda tahunan malam itu dinilai berjalan lancar. “Selesai semuanya. Sudah, aman, dan baik-baik, nggih,” ujar laki-laki yang oleh Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) didapuk sebagai Pelindung Cagar Budaya Keraton Surakarta tersebut.

Dia juga mengemukakan sedikitnya ada 14 pusaka dalam bentuk keris dan tombak yang diarak pada kirab malam itu. Dia berharap di masa mendatang, Keraton Surakarta bisa berjalan dengan baik tanpa halangan berarti demi kelanggengan penerus Mataram Islam.

“Acara ini kan sudah dijalankan bertahun-tahun, ya begini. Kita doakan semuanya juga sesuai rencana,” tegas dia. (Iskandar)

 

Komentar