Menghidupkan Kembali Denyut Budaya dan Wisata Pesisir: Peran Inovasi dan Teknologi dalam Pemberdayaan Desa Gempolsewu

Oleh: Triyono*)

banner 468x60

Kekayaan budaya nusantara sering kali tersimpan di desa-desa sebagai warisan leluhur yang agung. Namun, tanpa adanya sentuhan inovasi dan manajemen modern, potensi besar tersebut rentan mengalami stagnasi.

Tantangan inilah yang coba dijawab melalui program pengabdian masyarakat di Desa Gempolsewu, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal. Mengusung pendekatan strategis bertajuk Hilirisasi Budaya Berbasis Experience Tourism dengan metode Participatory Action Research (PAR), program ini mentransformasi aset budaya pasif dan pariwisata konvensional menjadi sektor industri kreatif yang mandiri dan berdaya saing tinggi.

banner 300x250

Mengatasi “Ekonomi Beaya Tinggi” di Sanggar Seni

Pada tahap awal identifikasi masalah, tim menemukan bahwa Mitra 1, yakni Paguyuban Seni Barongan “Putro Setyo Budoyo”, mengalami kendala serius. Kondisi instrumen gamelan mengalami korosi akibat tiupan angin laut (sea mist), ketidaklengkapan perangkat gamelan, serta ketiadaan kostum mandiri memaksa sanggar bergantung pada penyewaan luar.

Ironisnya, beaya sewa tersebut menghabiskan 40 hingga 50 persen dari total pendapatan pentas—sebuah bentuk high cost economy yang menghambat kesejahteraan seniman lokal.

Untuk memutus siklus tersebut, program ini menghadirkan intervensi Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa serah terima seperangkat gamelan besi dan baja, implementasi storage gamelan yang aman, hingga inovasi properti pementasan modern seperti kepala barongan custom bermata LED.

Dari sisi seni, format pementasan ritual tradisional yang berdurasi 4 jam dipadatkan secara kreatif menjadi paket wisata compact performance berdurasi ideal 60–90 menit, didukung penataan gending “Lancaran Pambuka” dan koreografi sendratari “Babad Alas Wengker”.

Implementasi Gamelan beserta tempat penyimpanannya, serta inovasi barongan bermata LED.

Transformasi Destinasi Wisata Pantai Moris

Tidak hanya menyasar seni pertunjukan, program ini juga mendampingi Mitra 2, yaitu Pokdarwis Tawang Laut selaku pengelola Kawasan Wisata Pantai Moro Istimewa (Moris). Selama ini, pengelolaan wisata pesisir tersebut sangat bergantung pada panorama alam semata (nature-dependency) tanpa adanya atraksi buatan (man-made attraction) dan fasilitas pendukung yang memadai.

Melalui program desa binaan, kawasan Pantai Moris disulap menjadi destinasi yang siap kunjung (ready-to-visit). Tim menghadirkan instalasi sound system outdoor profesional untuk menunjang pementasan dan event mandiri, membangun spot foto “I LOVE MORIS” berbasis ecobrick dengan lampu sensor cahaya, serta merancang fasilitas pendukung seperti sunset viewing deck, jalur pedestrian, hingga dermaga susur muara Kali Khuto.

Berbagai kegiatan rintisan seperti event juga sukses dihelat, seperti “Pasar Budaya” dan “Gugur Gunung Green Action” untuk menguji kesiapan ruang publik sekaligus merawat lingkungan pesisir.

Kegiatan PDB di Pantai Moris, seperti “Pasar Budaya” dan “Gugur Gunung Green Action” dan Implementasi Spot Foto.

Digitalisasi, Legalitas, dan Masa Depan Berkelanjutan

Transformasi di Desa Gempolsewu tidak berhenti pada aspek fisik semata. Guna menjamin keberlanjutan (sustainability), aspek manajerial dan digitalisasi digarap secara serius. Pengurus paguyuban dan Pokdarwis dibekali pelatihan tata kelola keuangan (kas opname dan templat Excel UMKM), manajemen inventaris, strategi branding, hingga pengelolaan media sosial.

Pembuatan Website Profil Pantai Moris, video sinematik, dokumen E-Press Kit, dan filter TikTok AR turut memperkuat digital branding pariwisata.

Dari sudut pandang legalitas, program ini berhasil mengantarkan kedua mitra memiliki landasan hukum yang kuat, mulai dari penyusunan AD/ART organisasi, penerbitan Surat Keputusan (SK) Disporapar, pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB) serta sertifikasi halal self declare bagi UMKM lokal (seperti UMKM Sekar Wilujeng), hingga pendaftaran Hak Cipta (HAKI) seni barongan guna melindungi warisan budaya lokal dari klaim eksternal.

Dampak nyata (impact) dari program ini langsung dirasakan oleh mitra: beban beaya sewa alat berhasil dipangkas, frekuensi latihan mandiri meningkat, dan integrasi atraksi seni visual di Pantai Moris terbukti mendongkrak durasi kunjungan wisatawan (length of stay) serta perputaran ekonomi lokal (spending of money).

Keberhasilan akselerasi pembangunan dan pemberdayaan masyarakat di Desa Gempolsewu ini tentu tidak terlepas dari dukungan nyata berbagai pihak. Tim Pengabdian Masyarakat menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, yang telah mendanai seluruh rangkaian kegiatan ini melalui skema Pemberdayaan Berbasis Wilayah Ruang Lingkup Desa Binaan Tahun Anggaran 2026, sesuai dengan kontrak pelaksanaan kegiatan: Nomor Kontrak Induk: 148/C3/DT.05.00/PM/2026 dan Nomor Kontrak Turunan: 255-3/UN7.D2/PM/IV/2026.

Dengan informasi Tim Pengusul:

Artikel ini disusun oleh Tim Pengabdian Masyarakat Skema Pemberdayaan Berbasis Wilayah Ruang Lingkup Desa Binaan kolaborasi Universitas Diponegoro (Undip) dan Universitas Wahid Hasyim (Unwahas), yang beranggotakan:

  • Triyono, SH, MKn*) Ketua Pengusul/Universitas Diponegoro
  • Dr Fuad Muhammad, SSi, MSi (Anggota/Universitas Diponegoro)
  • Yanuar Yoga Prasetyawan, SHum, MHum (Anggota/Universitas Diponegoro)
  • Dr Mastur, SH, MH (Anggota/Universitas Wahid Hasyim)

 

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Komentar