Ratusan Mahasiswa Ikuti Studium Generale STIM Surakarta, Perkuat Arah Akademik di Era Transformasi Pendidikan

banner 468x60

Portalika.com [SUKOHARJO] – Sekolah Tinggi Islam Al Mukmin (STIM) Surakarta memperkuat komitmennya dalam mengembangkan pendidikan tinggi Islam yang adaptif terhadap perubahan zaman. Komitmen tersebut ditegaskan melalui kegiatan Studium Generale bertema “Penguatan Arah Pengembangan Akademik PTKI di Era Transformasi Pendidikan”, Sabtu, 12 September 2026, di Aula Darul Anshar Lantai IV (ADAN), Pondok Pesantren Islam Al Mukmin.

Kegiatan yang menghadirkan Dr Asro’i, MPd, Kasubdit Pengembangan Akademik Direktorat PTKI, sebagai narasumber tersebut diikuti sekitar 600 mahasiswa STIM Surakarta, baik secara langsung maupun secara daring melalui Google Meet yang disediakan oleh panitia.

banner 300x250

Sementara itu, Dr Zahrodin Fanani, MPI, Ketua STIM Surakarta, hadir sebagai keynote speaker. Kegiatan juga dihadiri Ketua Pembina beserta Tim Pembina Yayasan Pendidikan Islam Al Mukmin (YPIA), Pengawas Pendidikan YPIA, serta segenap dosen STIM Surakarta.

Kehadiran unsur yayasan, pimpinan, dosen, dan ratusan mahasiswa tersebut menunjukkan bahwa penguatan arah akademik bukan hanya menjadi agenda kelembagaan, tetapi menjadi bagian dari ikhtiar bersama seluruh sivitas akademika STIM Surakarta.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Alqur’an, kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars STIM Surakarta yang diikuti oleh seluruh hadirin.

Menguatkan Langkah Pengembangan STIM Surakarta

Dalam penyampaiannya sebagai keynote speaker, Dr Zahrodin Fanani menyampaikan apresiasi dan ucapan jazakumullah ahsanal jaza’ kepada Dr Asro’i yang telah berkenan hadir memberikan penguatan akademik bagi STIM Surakarta.

Zahrodin menjelaskan STIM Surakarta saat ini memiliki tiga program studi dan sedang menantikan terbitnya SK untuk Program Magister (S2) Studi Islam. Selain itu, STIM Surakarta terus melakukan berbagai ikhtiar pengembangan melalui pengajuan program studi baru sebagai bagian dari upaya memperluas kontribusi perguruan tinggi Islam dalam bidang pendidikan.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa pengembangan STIM Surakarta tidak berhenti pada penguatan program studi yang telah ada, tetapi diarahkan pada pengembangan kelembagaan secara berkelanjutan.

Pendidikan Bukan Sekadar Ijazah

Sementara itu, Dr Asro’i mengajak mahasiswa dan sivitas akademika melihat kembali hakikat pendidikan.

Menurutnya, pendidikan tidak boleh direduksi hanya menjadi persoalan ijazah atau legalitas akademik. Pendidikan harus melahirkan skill, keterampilan, keahlian, dan kompetensi yang dapat digunakan dalam kehidupan serta memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Pendidikan itu bukan ijazah ataupun legalitas. Namun pendidikan itu skill atau keterampilan, keahlian di bidang yang digeluti atau spesialisasinya,” katanya.

Pesan tersebut sekaligus menjadi refleksi penting bagi perguruan tinggi agar keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari selembar ijazah yang diterima lulusan, tetapi juga dari kemampuan dan kompetensi yang benar-benar melekat pada diri mereka.

Ia mengingatkan agar jangan sampai seseorang menyandang gelar sarjana, tetapi kompetensi yang dimilikinya tidak mampu memberikan kontribusi kepada masyarakat.

“Apakah gelar yang dimiliki sama dengan kompetensi yang dimiliki?” tanyanya.

Menurutnya, pilihan profesi bagi lulusan perguruan tinggi sangat luas. Menjadi PNS bukan satu-satunya pilihan. Dunia membutuhkan berbagai profesi dan keahlian yang lahir dari kompetensi serta spesialisasi masing-masing individu.

Mahasiswa Harus Menjadi Pembelajar yang Aktif

Asro’i juga mendorong mahasiswa untuk tidak hanya bergantung pada materi yang disampaikan dosen. Sebagai calon akademisi pada jenjang strata satu, mahasiswa harus aktif menggali ilmu melalui dosen, buku, jurnal, sumber akademik, serta berbagai sumber pengetahuan yang kredibel.

Ia mengajak mahasiswa menggunakan pola 5W+1H sebagai salah satu cara membangun tradisi berpikir akademik.

What — Apa? Mahasiswa harus bertanya tentang apa yang sedang dipelajari dan memahami substansi materi secara mendalam.

Who — Siapa? Mahasiswa perlu mengetahui siapa yang menjadi sumber suatu informasi. Dalam kajian hadis, misalnya, pengetahuan mengenai perawi menjadi bagian penting untuk menelusuri kualitas hadis.

When — Kapan? Mahasiswa perlu memahami konteks waktu dan sejarah, termasuk periode hadis serta asbabul wurud.

Where — Di mana? Informasi perlu ditelusuri berdasarkan konteks tempat dan latar belakangnya secara mendalam.

Why — Mengapa? Mahasiswa harus mampu menemukan alasan dan argumentasi. Mengapa sebuah hadis dinilai sahih atau dhaif? Mengapa disebut mutawatir?

How — Bagaimana? Mahasiswa tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi juga harus memahami bagaimana memperoleh pengetahuan tersebut dan bagaimana mengimplementasikannya dalam kehidupan.

Pendekatan 5W+1H tersebut dapat diterapkan dalam berbagai bidang keilmuan termasuk hukum perdata, hukum  maupun ketika mahasiswa menyusun makalah atau karya akademik. (Nadhiroh/*)

 

Komentar