Tersisa Satu Titik Api di Gunung Lawu, Ahmad Luthfi: Tetap di Pos Masing-Masing dan Sisir Kawasan

banner 468x60

Portalika.com [KARANGANYAR] – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Lawu masih menyisakan satu titik api baru terpantau di atas Gondosuli, Karanganyar, Senin, 26 Oktober 2026, meski kebakaran sebelumnya telah dinyatakan padam.

Petugas dan relawan diminta tetap bertahan di pos masing-masing untuk menyisir kawasan dan mencegah api kembali meluas.

banner 300x250

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengatakan, pemadaman lanjutan melalui water bombing atau pengeboman air menggunakan helikopter BNPB disiapkan untuk menjangkau titik api tersebut. Namun, pelaksanaannya tetap bergantung pada kondisi cuaca di kawasan Gunung Lawu.

“Saya sudah koordinasi dengan Bupati dan BPBD. Nanti heli BNPB di Lanud Adi Soemarmo akan diterjunkan satu sorti lagi, tetapi melihat situasi cuaca. Satu titik api ini penting untuk kita evaluasi agar tidak timbul titik api lain,” kata Ahmad Luthfi saat meninjau lokasi dan menggelar rapat terbatas bersama Bupati Karanganyar Rober Christanto, BPBD, serta relawan di Pos Sakura Hills, Tawangmangu, Senin.

Gubernur Luthfi meminta seluruh personel tidak meninggalkan pos terlebih dahulu. Evaluasi dan penyisiran perlu dilakukan secara menyeluruh, mengingat api yang sempat padam masih berpotensi muncul kembali.

BACA JUGA  Kendalikan Inflasi Di Wonogiri, BI Solo Gandeng Ponpes Al Fatah Tanam Cabai

Menurut dia, penanganan karhutla di Gunung Lawu membutuhkan kerja bersama pemerintah, TNI-Polri, BNPB, BPBD, Perhutani, dan masyarakat. Selain pemadaman, langkah pencegahan harus diperkuat agar kebakaran serupa tidak kembali terjadi.

“Kita perlu lebih gencar melakukan tindakan pencegahan agar tidak terjadi kebakaran lagi. Hutan harus kita jaga bersama,” ujarnya.

Di tengah upaya pemadaman, Luthfi menekankan pentingnya mencegah kebakaran yang dipicu aktivitas manusia. Sosialisasi dan peringatan kepada masyarakat perlu digencarkan, terutama agar tidak membakar sampah sembarangan, membakar kawasan hutan, maupun membuang puntung rokok yang berpotensi memicu api.

Ia mengingatkan, tindakan sengaja yang mengakibatkan kebakaran hutan dan lahan dapat berujung pada proses pidana sesuai ketentuan hukum.

Luthfi juga meminta masyarakat setempat dilibatkan dalam pengawasan kawasan rawan kebakaran. Warga dinilai memiliki pengetahuan mengenai karakter wilayah dan kondisi lingkungan di sekitarnya yang penting untuk mendukung upaya pencegahan.

Adapun penyebab kebakaran di Gunung Lawu hingga kini masih diselidiki. Luthfi meminta proses penyelidikan diserahkan kepada kepolisian untuk memastikan apakah kebakaran dipicu kelalaian manusia, gesekan antarpohon, atau faktor lainnya.

BACA JUGA  Kapolda Jateng Bertemu Danlanud Adi Soemarmo

Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Karanganyar, Sugiharto, mengatakan, kebakaran di Gunung Lawu sempat dinyatakan padam pada Minggu. Namun, pemantauan pada Senin pagi menemukan titik api baru di atas Gondosuli.

Helikopter BNPB disiapkan untuk kembali melakukan water bombing, dengan mempertimbangkan kondisi cuaca terkini.

Sugiharto menyebut operasi pengeboman air sebelumnya telah dilakukan sebanyak 34 kali. Dengan kapasitas sekitar 2.000 liter air dalam setiap penyiraman, total air yang dijatuhkan untuk memadamkan kebakaran di kawasan tersebut mencapai sekitar 68.000 liter.

Meski demikian, upaya pemadaman menghadapi tantangan karena karakteristik lahan di Gunung Lawu. Pada sejumlah lokasi, lapisan ilalang yang menumpuk di permukaan tanah dapat mencapai ketebalan sekitar 30 sentimeter.

Kondisi ini membuat bara api berpotensi bertahan di bawah lapisan vegetasi meskipun api di permukaan telah padam.

“Karhutla Gunung Lawu ini kalau api padam bisa muncul lagi karena ada sebagian karakter tanah Lawu tertumpuk lapisan ilalang, bahkan ada yang sampai 30 cm seperti lahan gambut. Jadi perlu penanganan khusus,” kata Sugiharto.

BACA JUGA  Mahasiswa KKN Undip Sosialisasikan Bijak Kelola Sampah kepada Ibu-Ibu PKK Desa Kaliprau

Ia menambahkan, petugas telah mendapat cairan khusus untuk membantu memadamkan api hingga ke bagian dalam lapisan tersebut. Operasi modifikasi cuaca menjadi salah satu upaya yang belum dilakukan.

Selain penanganan darurat, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga menyiapkan langkah mitigasi jangka panjang. Luthfi meminta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kabupaten Karanganyar, serta Perhutani merancang pembangunan embung, tandon air, maupun saluran air di kawasan yang membutuhkan.

Infrastruktur tersebut diharapkan dapat menjadi sumber air cadangan ketika terjadi kebakaran, terutama saat musim kemarau panjang.

“Geografis wilayah kita sangat susah, ada gunung dan lereng. Apalagi kalau kemarau panjang,” ujar Luthfi.

Menurut dia, penyediaan sumber air harus menjadi bagian dari perencanaan mitigasi bencana, bukan hanya dilakukan setelah kebakaran terjadi. Dengan dukungan infrastruktur, kesiapsiagaan petugas, dan keterlibatan masyarakat, risiko kebakaran berulang di kawasan Gunung Lawu diharapkan dapat ditekan. (Hmjt/*)

Editor: Triantotus

Komentar