Cerita Heroik Padamnya Titik Api Gunung Sumbing

banner 468x60

Portalika.com [TEMANGGUNG] — Perjuangan panjang melawan kebakaran hutan di Gunung Sumbing akhirnya membuahkan hasil setelah seluruh titik api dinyatakan padam seratus persen. Di balik keberhasilan tersebut, tersimpan cerita keringat dan kerja keras para petugas serta relawan yang tak kenal lelah melakukan pemadaman.

Mereka berjibaku malakukan pemadaman dengan peralatan seadanya. Salah satunya diceritakan Jumari atau akrab disapa Petruk saat ditemui di Basecamp Pendakian Bimawari, Minggu, 25 Oktober 2026.

banner 300x250

Wakil Ketua Basecamp Bimawari di Desa Wonosari, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung ini merupakan salah seorang relawan yang ikut memadamkan api saat kebakaran di Gunung Sumbing.

Jumari bercerita, begitu mendapat kabar kawasan Gunung Sumbing di sisi wilayah Wonosobo terbakar, ia bersama rekan-rekannya di Basecamp Pendakian Bimawari langsung bergerak cepat. Apalagi saat mendapat kabar bahwa api mulai menjalar ke sisi wilayah Temanggung.

“Mulai kebakaran itu kan jam 4 sore hari Senin. Di sini dapat kabar dari Wonosobo. Jadi hari Selasa itu kami melakukan penyisiran pendaki yang di atas atau di Segoro Wedhi. Lalu hari Rabu kami mengamankan aset dulu seperti patok [penanda] dan CCTV di sepanjang rute pendakian,” ujarnya memulai cerita.

BACA JUGA  Terjun Langsung Ke Rumah Warga, Mahasiswa KKN-PPM Unisri Surakarta 2026 Dampingi Pelaku UMKM Desa Doyong Susun RAB
Portalika.com/Aisya

Pada Kamis, 22 Oktober 2026, personel Basecamp Bimawari bergabung dengan Basecamp Batursari untuk memadamkan titik api di sana. Selanjutnya pada Jumat, 23 Oktober, personel Basecamp Bimawari bergabung dengan Basecamp Banaran untuk memadamkan api di Jalur Cepit dan Glapansari.

“Lalu pada hari Sabtu api sudah padam semua dan kami melakukan pendinginan di Segoro Wedhi,” katanya.

Jumari menyampaikan, pemadaman api di Gunung Sumbing tidak mudah karena menghadapi beberapa kendala. Di antaranya angin kencang yang membuat titik api mudah menjalar, kemudian medan terjal yang ada di titik kebakaran. Selain itu juga sarana memadamkan api yang masih menggunakan cara manual.

“Proses pemadaman kita manual, pakai kayu,” tuturnya.

Jumari juga menuturkan bahwa kebakaran Gunung Sumbing pada 2026 ini bukan kali pertama. Sebelumnya juga pernah terjadi kebakaran besar yang melanda Gunung Sumbing pada 2019.

BACA JUGA  Presiden Prabowo: Jaga Integritas, Jadilah Pelindung Rakyat, Tegakkan Hukum Secara Adil Dan Tanpa Pandang Bulu

Kepala Desa Wonosari, Agus Parmuji menuturkan, kebakaran di Gunung Sumbing memiliki siklus delapan tahun sekali. Maka dari itu, ia meminta kepada Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi dan stakeholder terkait untuk menyiapkan infrastruktur di wilayah Gunung Sumbing.

“Kalau bisa dibuatkan embung di kawasan Perhutani, karena untuk minum saja kadang susah waktu kemarau. Lalu jalur penyelamatan untuk percepatan pemadaman api,” katanya.

Seorang warga Desa Wonosari, Muhadi, juga meminta agar ada bantuan infrastruktur dan beberapa alat yang bisa dikelola oleh masing-masing basecamp di wilayah Gunung Sumbing. Di antaranya drone untuk memantau titik api dan jalur untuk mempercepat pemadaman api.

“Jadi kami minta beberapa alat agar kami dapat memetakan lebih awal, tidak hanya soal kebakaran tetapi juga hal lain termasuk pencarian kalau ada pendaki yang hilang atau tersesat,” ujarnya.

Gubernur Ahmad Luthfi menyatakan kebakaran di Gunung Sumbing sudah padam. Ia juga meminta seluruh instansi terkait, mulai dari pemerintah daerah, pemerintah desa, masyarakat, dan relawan untuk tetap waspada. Pantauan dan evaluasi harus dilakukan secara tepat agar tidak terulang kembali.

BACA JUGA  Mahasiswa PPG BK Unisri Gandeng Karang Taruna Bhakti Manunggal Papahan Cegah Cyberbullying melalui Art Therapy

Menurut Luthfi, evaluasi dampak bencana kebakaran tersebut sangat penting. Data harus faktual dan tepat. Mulai dari dampak lingkungan berkaitan dengan vegetasi, hewan liar, hingga luasan petak yang terbakar di wilayah Wonosobo, Magelang, dan Temanggung.

Saat ini, tim di kawasan Sumbing diminta melakukan evaluasi, patroli, dan mempercepat rehabilitasi pasca-kebakaran.

“Banyak pipa-pipa kita yang terbakar atau rusak itu harus kita recovery [pulihkan]. Kemudian lakukan reboisasi terkait dengan pascabencana. Beberapa masyarakat mengusulkan untuk diberikan tanaman-tanaman yang siap untuk direboisasi kembali. Reboisasi kita lakukan bersama,” kata Luthfi usai meninjau dan bertemu dengan relawan di Basecamp Bimawari, Desa Wonosari, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung, Minggu, 25 Oktober 2026.

Langkah berikutnya yang harus dilakukan adalah melakukan pencegahan dengan menggencarkan imbauan kepada masyarakat agar peristiwa serupa tidak terulang kembali. Misalnya imbauan untuk tidak membuang puntung rokok sembarangan, tidak membakar sembarangan di wilayah gunung, dan lainnya. (Hmjt/*)

Editor: Triantotus

Komentar