Indonesia Raya Tiga Kali Berkumandang di Ichinomiya, Bukti Konsistensi Para Bulutangkis di Asian Para Games 2026

banner 468x60

Portalika.com [NAGOYA, JEPANG] – Lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang tiga kali di Ichinomiya City Municipal Gymnasium, Jumat, 23 Oktober 2026.

Di hari terakhir para bulutangkis Asian Para Games 2026 di Nagoya, tim Merah Putih memborong tiga medali emas sekaligus.

banner 300x250

Ketiganya lahir lewat perjuangan yang menguras fisik dan emosi. Emas pertama datang dari Leani Ratri Oktila/Hikmat Ramdani di ganda campuran SL3–SU5. Emas kedua dipersembahkan Rina Marlina/Subhan di ganda campuran SH6, dan emas ketiga oleh Suryo Nugroho/Muh Al Imran di ganda putra SL3–SU5.

Di hari yang sama, Fredy Setiawan dan Ratri menambah dua perak dari nomor tunggal SL4. Hari terakhir itu pun menutup perjalanan para bulu tangkis Indonesia di Nagoya dengan manis.

Secara keseluruhan, para bulutangkis Indonesia membawa pulang 12 medali dari Nagoya, terdiri dari tiga emas, tiga perak, dan enam perunggu.

BACA JUGA  Setelah Geopark Dieng Diakui Unesco, Kini Ritual Potong Rambut Gimbal Anak Bajang Dirintis Ke Unesco

Selain tiga emas dari nomor ganda, tiga perak disumbangkan Fredy di tunggal putra SL4, Ratri di tunggal putri SL4, serta Apriliyana Sulistyawati/Rina Marlina di ganda putri SH6.

Enam perunggu datang dari Dimas Tri Aji/Subhan di ganda putra SH6, Ratri/Khalimatus Sadiyah di ganda putri SL3–SU5, Imran di tunggal putra SL3, Qonitah Ikhtiar Syakuroh di tunggal putri SL3, Khalimatus Sadiyah di tunggal putri SL4, dan Rina di tunggal putri SH6.

Para bulutangkis adalah salah satu cabang paling konsisten bagi Indonesia di Asian Para Games. Sejak pertama kali dipertandingkan di Guangzhou 2010, Indonesia selalu menjadi penantang utama Tiongkok.

BACA JUGA  Selasa Besok, Pengukuhan Pengurus DPW Gapembi Jateng

Emas kedua lahir dari kisah ketangguhan. Sebulan sebelum berangkat ke Jepang, Rina mengalami cedera paha belakang yang membuatnya tidak bisa menekuk kaki. Hingga hari pertandingan, kondisinya belum seratus persen, padahal ia harus turun di tiga nomor sekaligus.

“Sebelum saya berangkat ke sini, sebulan sebelum berangkat, saya mengalami sakit di bagian paha belakang, dan itu nggak bisa nekuk. Apalagi kami mainnya tiga nomor. Sempat ragu sih, karena harus fokus di permainan, dan harus fokus dulu gimana kakinya,” ungkap Rina.

Di final, Rina/Subhan juga harus berdamai dengan trauma lama. Pasangan Tiongkok mengalahkan mereka di Paralimpiade Paris 2024, dan bayangan kekalahan itu masih terbawa hingga Nagoya. Melawan Lin Shuangbao/Zeng Qingtao, mereka merebut gim pertama 21-16, lalu dihajar 11-21 di gim kedua. Laga sepanjang 1 jam 13 menit itu akhirnya mereka tutup dengan kemenangan 21-15 di gim penentuan.

BACA JUGA  Hari Ibu 2023, Hari Jadi Jenderal Bagi Polwan Nurul Azizah

“Set kedua sudah kalah, sudah nge-down, bisa bangkit lagi dari teriakan-teriakan penonton yang ada di sini. Kami berdua tetap yakin, tetap fokus. Intinya yakin aja kalau kami masih bisa mempertahankan medali emas kami,” tutur Rina.

Rina pulang dengan medali lengkap, yakni emas ganda campuran, perak ganda putri, dan perunggu tunggal putri. Emas itu ia persembahkan untuk semuanya, terutama ibunya.

Subhan, yang juga meraih perunggu ganda putra SH6, mengaku punya alasan yang sama. “Buat keluarga, buat ibu. Karena di setiap langkah saya, beliau yang mendoakan,” ujar Subhan. (Ariyanto)

Komentar