Para Panahan Indonesia Tambah Medali Perak di Asian Para Games 2026, Modal Bersaing Menuju Paralimpiade

banner 468x60

Portalika.com [NAGOYA, JEPANG] – Tim para panahan Indonesia meraih medali perak ketiga di Asian Para Games 2026. Keberhasilan menembus tiga partai final tetap patut disyukuri meski ada rasa kecewa ketika belum membawa pulang medali emas.

Tim para panahan berangkat ke Nagoya dengan catatan belum pernah meraih medali perak. Pada edisi 2022 di Hangzhou, para panahan hanya meraih dua medali perunggu.

banner 300x250

Prestasi pada edisi 2026 mengalami pengingkatan. Dari tujuh atlet yang lolos ke Nagoya, tim para panahan Indonesia hingga Jumat, 23 Oktober 2026 malam, sudah mendapatkan tiga perak dan satu perunggu.

Raihan medali perak pertama disumbangkan pasangan Ken Swagumilang dan Arif Firmansyah dari nomor men double compound. Ken juga berperan pada raihan perak kedua ketika turun di mixed team compound bersama Theodora Audi Ayudia Ferelly dan Arif Firmansyah.

Sementara medali perak ketiga disumbangkan pemanah senior, Kholidin saat berpasangan dengan Noviera Ross di nomor mixed team recurve. Kholidin juga melengkapi prestasinya dengan meraih perunggu saat berduet bersama Setiawan di nomor double men compound.

Indonesia masih memiliki peluang meraih dua medali perunggu lewat Kholidin di nomor individual men recurve dan Noviera Ross di nomor individual women recurve. Keduanya baru akan bertanding pada Sabtu hari ini.

BACA JUGA  Pemprov Jateng Ajak Warga Mutakhirkan Data Mandiri Penerima Bansos 2027

Pelatih para panahan Indonesia, Idya Putra Harjianto, menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas perjuangan para atlet di lapangan.

“Pertama-tama, saya ucapkan puji syukur Alhamdulillah kepada Tuhan Yang Maha Esa dan apresiasi untuk rekan-rekan yang terus bersemangat. Ini pertama kalinya kami berada di panggung final Asian Para Games dan Alhamdulillah diberikan tiga medali perak,” ujar Idya usai pertandingan, Jumat.

Melihat persaingan yang ketat di level Asia, Idya optimistis prestasi para panahan Indonesia akan terus meningkat. Menurutnya, peta kekuatan dunia untuk cabang olahraga panahan saat ini sebagian besar memang berpusat di benua Asia.

“Pesaingnya luar biasa, apalagi Tiongkok dengan kualitas yang sangat baik. Pertarungan level dunia di panahan itu ada di Asia. Kalau kita sudah bisa melewati Asia, Insya Allah kita bisa bersaing di Paralimpiade,” ungkap Idya.

Memasuki tahun depan, fokus utama tim pelatih adalah mengamankan tiket sebanyak-banyaknya menuju Paralimpiade 2028 di Los Angeles, Amerika Serikat. Tim pelatih mencatat ada enam nomor yang berpotensi meloloskan atlet.

BACA JUGA  Gubernur Ahmad Luthfi Minta Percepat Penanganan Longsor Brebes, KBM Tetap Jalan Walau Pindah Lokasi

“Kami memasang target untuk meloloskan atlet sebanyak-banyaknya karena kami mempunyai peluang di kategori individual compound dan individual recurve. Total ada empat nomor di situ, ditambah dua nomor dari mixed team. Jadi peluangnya ada enam,” jelasnya.

Performa Para Debutan

Atlet debutan Noviera Ross mengaku bersyukur atas raihan medali perak di ajang Asian Para Games pertamanya. Ia mendapatkan banyak pengalaman baru ketika bersaing dengan para pemanah terbaik di Asia.

“Alhamdulillah, ini Asian Para Games pertama saya dan diberi rezeki oleh Allah bisa tampil di mixed team bersama bang Kholidin. Ini menjadi ajang tertinggi yang pernah saya ikuti,” kata Noviera.

Saat ditanya mengenai pelajaran yang dipetik dari pertandingan, Noviera menekankan pentingnya ketenangan diri saat bertanding.

“Saya belajar untuk lebih tenang. Semua lawan sama jagonya dan kami sama-sama bersaing. Namun, yang terpenting adalah bagaimana kita mengendalikan diri sendiri di lapangan,” ujarnya.

Noviera masih berpeluang menambah pundi-pundi medali Indonesia mengingat ia masih akan bertanding pada perebutan medali perunggu nomor perorangan, Sabtu.

BACA JUGA  Di Hadapan Mahasiswa Undip, Menteri Nusron Tegaskan Distribusi Tanah Tidak Menguntungkan Segelintir Pihak

“Untuk nomor single, Alhamdulillah besok saya masih ada perebutan perunggu. Semoga ada rezeki juga di situ,” tutur Noviera.

Sementara itu, debutan lainnya, Theodora Audi Ayudia Ferelly, menyampaikan rasa syukurnya meski harus beradaptasi dengan perubahan cuaca yang ekstrem di Nagoya.

“Ini Asian Para Games pertama saya. Sangat bersyukur, tidak menyangka, dan senang,” kata Audi.

Audi menjelaskan bahwa dinamika cuaca di tempat pertandingan menjadi tantangan tersendiri bagi tim.

“Cuaca di sini berubah-ubah. Kemarin panas, hujan, dingin, dan sekarang berangin. Sempat ada tembakan yang kena angka 7 dua kali karena tertiup angin. Kami mohon maaf belum bisa memberikan yang terbaik,” ungkapnya.

Audi menjadikan laga tersebut sebagai motivasi untuk terus berkembang. Laga yang dimaksud adalah kekalahan atas India di final mixed team compound, Kamis kemarin. Indonesia takluk dengan skor 148-151.

“Target selanjutnya perlahan-lahan saja. Skor kekalahan juga sangat tipis. Ke depan, kami bertekad untuk bisa membalikkan keadaan dan mengalahkan mereka,” tandas Audi. (Ariyanto)

Komentar