Portalika.com [YOGYAKARTA] – Dua dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta/Solo, Jateng, Dr Cia’ Syamsiar dan Dr Bagus Indrayana, menorehkan prestasi membanggakan dengan tampil dalam ajang bergengsi Pameran Seni Rupa Internasional MULTIFRAME#7.
Perhelatan akbar ini digelar di Jogja Gallery, Yogyakarta, dan sukses menarik perhatian pencinta seni rupa global.
Siaran pers yang diterima belum lama ini menyebutkan, keikutsertaan kedua akademisi ISI Solo tersebut merupakan bagian dari perhelatan internasional yang diinisiasi oleh Program Studi Seni Rupa, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo.
Mengusung tema besar “Cosmos as a Journey of Life and Visual Exploration”, pameran ini menghadirkan sebanyak 125 seniman dari 12 negara, yang terdiri atas 107 seniman lokal Indonesia dan 18 seniman mancanegara.
Lukisan “Sahabat dalam Senyap”
Dalam pameran internasional ini, Cia’ Syamsiar menampilkan karya seni lukis terbarunya berukuran 60 x 80 cm berjudul “Sahabat dalam Senyap” (2026).
Menggunakan medium campuran akrilik dan minyak di atas kanvas (Acrylic and Oil on Canvas), karya ini mengangkat kedekatan emosional antara manusia dan makhluk hidup lain yang terjalin tanpa membutuhkan kata-kata.
Cia’ memvisualisasikan hubungan tenang antara sosok perempuan dan kuda. Kuda dalam karyanya tidak sekadar direpresentasikan sebagai hewan, melainkan simbol kekuatan, kesetiaan, kebebasan, serta persahabatan yang menghadirkan kenyamanan tanpa penghakiman.
- Dominasi Warna Merah: Merepresentasikan energi, keberanian, gairah, dan gejolak perasaan.
- Gestur Lembut Perempuan: Menghadirkan keseimbangan lewat simbol kasih sayang dan ketenangan, di mana sentuhan tangan pada tubuh kuda mencerminkan ikatan batin yang kuat.
“Gagasan utama karya ini berangkat dari pemahaman bahwa persahabatan sejati tidak selalu membutuhkan percakapan. Kehadiran dan kesediaan menemani dalam keheningan adalah bentuk komunikasi paling bermakna,” ujar Cia’.
Sementara itu, Dr. Bagus Indrayana mempersembahkan karya seni kriya kayu bertajuk “Keseimbangan” (2026). Memiliki dimensi panjang 120 cm dan tinggi 60 cm, karya ini menggunakan material utama kayu jati yang sarat makna konseptual—merekam karakter alami pertumbuhan, kehidupan, serta relasi erat manusia dengan alam.
Karya ini dimaknai sebagai upaya manusia dalam mengelola berbagai dinamika kehidupan, mulai dari menyelaraskan kekuatan dan kelemahan, aktivitas dan ketenangan, hingga kebutuhan material serta spiritual.
Secara visual, “Keseimbangan” dibangun melalui komposisi elemen-elemen kayu yang saling menopang. Perbedaan bentuk, ukuran, tekstur, serta arah serat kayu diolah secara apik menggunakan teknik ukir dan sambung untuk memunculkan kontras sekaligus keharmonisan estetika.
Partisipasi Cia’ Syamsiar dan Bagus Indrayana dalam MULTIFRAME#7 membuktikan tingginya kualitas dan keberagaman praktik penciptaan seni di lingkungan perguruan tinggi seni Indonesia, khususnya ISI Solo.
Seni dipandang bukan sekadar ruang eksplorasi medium dan teknik, melainkan sarana artikulasi gagasan serta dialog lintas kebudayaan.
Kurator Bangladesh dan Thailand
Sebagai informasi, MULTIFRAME#7 merupakan kelanjutan dari ajang serupa yang pertama kali digelar pada Oktober 2017 di Sangkring Art Space, Yogyakarta. Edisi ketujuh ini semakin istimewa karena melibatkan tiga kurator internasional ternama, yakni Sudjud Dartanto (Indonesia), Md Imran Hossen (Bangladesh) dan Sompron Taemprasit (Thailand).
Selain akademisi dari berbagai universitas terkemuka—seperti Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Negeri Semarang, ISI Solo, ISI Yogyakarta, hingga FSRD UNS—pameran ini juga melibatkan mahasiswa, alumni, serta seniman profesional lintas negara.
Melalui keikutsertaan ini, ISI Solo kembali menegaskan kontribusinya dalam memperluas ruang apresiasi seni rupa, memperkuat jejaring kolaborasi global, sekaligus membawa kekayaan eksplorasi seni Indonesia ke dalam percakapan seni rupa internasional. (Iskandar)











Komentar