Portalika.com [SURAKARTA] – Pekan Seni Rupa dan Digital Art Sura RT 2025 ditutup pada Selasa, 29 Juni 2025 di Gedung Kesenian, Taman Balekambang, Kota Surakarta.
Kegiatan digelar sejak 21 Juni dan penutupan dihadiri Walikota Surakarta, Respati Ardi, Direktur Art Sura, Adrian Zakhary, para Seniman, komunitas, kolektif dan studio serta ratusan pengunjung dari berbagai daerah.
Pekan seni mengusung tema Wedangan, Rindu dan Kenangan, Art Sura 2025 by La Palapa: Indonesia Art Summit menyedot perhatian masyarakat Kota Surakarta, Solo Raya, Jawa Tengah. Bahkan para pengunjung dari Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Yogyakarta hingga Mancanegara seperti Brazil, Amerika Serikat, Singapura, Malaysia dan Korea Selatan.
Art Sura 2025 bukan sekadar panggung pertunjukan karya seni rupa dan digital melainkan ruang yang bisa dinikmati bersama para pengunjung seni yang tidak hanya bisa dilihat tapi juga dirasakan.
Mereka bisa menyentuh karya-karya interaktif, menyelami karya-karya digital dan merasakan pengalaman menjadi seniman.
Pada Art Sura 2025, pengunjung menikmati lukisan karya seniman terkenal dan berprestasi seperti Ni Nyoman Sani, pemenang UOB Painting of The Year 2023, Bernandi Desanda atau Berbrain, seniman muda berbakat yang baru menyelesaikan Solo Exhibition bersama Tang Contemporary Art Thailand pada Juni 2025.
Lukisan Apel Hendrawan yang dikenal dengan ekspresionisme dan spiritualisme Bali, dengan ciri khas penggunaan aksara Bali sebagai aksen dalam karyanya, ada juga Onar Bermano seorang seniman muda dari Bengkulu yang tinggal di Jogja yang dikenal dengan karya Doodle Art-nya, hingga Gigih Wiyono seorang seniman senior patron dari Solo.
Lalu ada Art Toys karya Redmiller Blood by Peter Rhian yang sedang hangat dikoleksi para kolektor dan tokoh nasional, lukisan maestro Lukis dari Bali Made Wianta yang direspons dengan Teknologi Virtual Reality (VR) dimana pengunjung bisa berinteraksi seakan berseluncur dengan Roller Coaster masuk ke dalam lukisan “The Flying Triangle”.
Dihadirkan juga Augmented Reality (AR) Fashion dimana pengunjung bisa mencoba pakaian digital dihadapan layar besar, ada juga seniman art fashion Vonazsar dengan Project Rework Fashion FTW yang mengajak para pengunjung menuangkan bakat seninya di jaket jins bekas.
Direktur Art Sura, Adrian Zakhary mengatakan melalui Art Sura ingin menjadikan Surakarta sebagai Episentrum Seni Rupa dan Budaya Nusantara.
Selain Seni Rupa dan Digital juga menampilkan seni pertunjukan Tari Sus Scrofa: “The Human Boar” dan Tari Bambangan Cakil dari SMKN 8 Surakarta serta ditutup penampilan dalang muda Kota Surakarta, Ki Amar Pradopo.
“Selamat kepada Art Sura, sebuah langkah berani dan luar biasa, ini kan 60 persen seniman-seniman dari Surakarta. Saya lihat juga kebanyakan anak muda ke sini karena mereka juga ingin ngerti, tahu dan belajar, menikmati dan mengapresiasi karya seni.” Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha.
Seniman dan influencer seni, Bill Mohdor menyatakan Art Sura menjadi pameran seni rupa yang berbeda dan unik karena memiliki akar seni dan budaya yang kuat di Surakarta. Ia menyebutkan banyak seniman besar lahir dari Surakarta seperti Dullah dan Melati Suryodarmo.
Selain itu, tokoh seperti Helmy Yahya Ketua Asosiasi Kreator Konten Kreatif, Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, Mangkunegara X KGPAA Bhre Sudjiwo, juga mengapresiasi kehadiran Art Sura 2025 dan optimis kesuksesan ajang seni rupa ini.
Sementara itu, Walikota Surakarta, Respati Ardi menyampaikan sebuah monolog seni rupa, “Sembilan hari kita rayakan ini. Tapi dampaknya ingin kami jaga jauh lebih lama. Kami tidak sedang membuat festival. Kami sedang membangun ingatan bersama. Art Sura adalah nafas seni rupa dan budaya yang lahir dari kota Surakarta.”
Menurutnya, Art Sura 2025 melibatkan 172 seniman, lebih dari 300 karya seni, pelajar pun turut berpartisipasi, ruang diskusi kesenian dihidupkan, penyebarannya tak hanya di studi, namun Museum Keris, Museum Radya Pustaka, Lokananta, Rumah Budaya Kratonan, hingga Headroom Coffee turut merayakan peristiwa budaya ini. (Ariyanto/*)












Komentar