Portalika.com [WONOGIRI] — Membeli semangka di Agro Wisata Panggil, Kelurahan Jatipurno, Kecamatan Jatipurno, Kabupaten Wonogiri, kini bisa menjadi pengalaman berbeda.
Pengunjung tak hanya memilih dan membeli buah, tetapi juga bisa memetik semangka sendiri langsung dari kebun untuk dibawa pulang.
Konsep tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang ingin menikmati buah segar sekaligus merasakan suasana kebun dan melihat langsung proses budidayanya. Menariknya, pengunjung dapat datang tanpa dikenai tiket masuk maupun pungutan parkir.
Agro Wisata Panggil dikembangkan tidak sekadar sebagai tempat produksi semangka, tetapi juga sebagai ruang wisata dan edukasi pertanian. Pengunjung bisa melihat tanaman, memilih buah yang siap panen, hingga memetiknya langsung dari tanaman.
“Kami ingin menghadirkan suasana wisata edukatif yang memberdayakan petani. Jadi, pengunjung bukan hanya berwisata, tetapi juga bisa belajar,” kata Hartanto, staf Kelurahan Jatipurno sekaligus pengelola wisata agro, Selasa, 15 September 2026.
Wisata agro tersebut dikelola Kelompok Pos Penyuluh Kelurahan (Posluhkel) Makmur yang beranggotakan petani lokal. Mereka selama ini konsisten mengembangkan budidaya semangka di wilayah Jatipurno.
Petani Jadi Bagian dari Pengalaman Wisata
Konsep petik langsung dari kebun juga membuka ruang interaksi antara pengunjung dan petani. Masyarakat dapat mengenal proses budidaya semangka mulai dari penanaman, perawatan, hingga menentukan buah yang sudah layak dipanen.
Ketua Posluh Kelurahan Jatipurno, Joko Susilo, mengatakan budidaya semangka di wilayah tersebut bukan hal baru. Petani setempat telah mengembangkan komoditas itu sejak 2015.
Saat ini terdapat sekitar 15 petani yang tergabung dalam kelompok tersebut. Total lahan yang ditanami semangka mencapai sekitar 5.000 meter persegi.
Varietas yang dikembangkan cukup beragam. Di antaranya semangka inul, semangka bulat, serta golden red tanpa biji.
Bobot buah rata-rata mencapai 4–7 kilogram per buah. Untuk harga, semangka umumnya dipasarkan sekitar Rp8.000 hingga Rp10.000 per kilogram. Sementara varietas golden red tanpa biji berada di kisaran Rp15.000 per kilogram.
Dengan konsep penjualan langsung dari kebun, konsumen mendapatkan lebih dari sekadar buah. Mereka bisa melihat kondisi tanaman, memilih sendiri buah yang diinginkan, sekaligus merasakan pengalaman memanen hasil pertanian.
Panen Bergiliran, Aktivitas Kebun Terjaga
Salah satu hal yang membuat aktivitas di kawasan tersebut tetap berlangsung adalah pola tanam petani yang tidak dilakukan secara serentak.
Ketika sebagian petani memasuki masa panen, petani lainnya masih berada pada tahap perawatan tanaman. Pola tersebut membuat aktivitas budidaya berlangsung secara bergiliran.
Bagi petani, pemasaran langsung dari kebun juga membuka peluang memperpendek rantai pemasaran. Hasil panen yang baru dipetik dapat langsung dipertemukan dengan konsumen.
Di sisi lain, aktivitas tersebut menjadi sarana mengenalkan produk pertanian lokal kepada masyarakat. Pengunjung tidak hanya membawa pulang semangka, tetapi juga mendapatkan pengalaman berada di tengah lahan pertanian.
Tak Hanya Semangka
Potensi pertanian di Jatipurno juga tidak berhenti pada komoditas semangka. Di wilayah Pule, misalnya, puluhan petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Murni turut mengembangkan tanaman semangka dan mulai memasarkan hasil panen langsung dari lahan.
Sejumlah komoditas lain juga dikembangkan petani setempat, seperti bawang merah, cabai, aneka sayuran, tembakau, alpukat, hingga kakao.
Keragaman komoditas tersebut menunjukkan bahwa lahan pertanian Jatipurno memiliki potensi untuk terus dikembangkan sesuai kondisi lahan dan kebutuhan pasar.
Hartanto, yang juga menjabat Seksi Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Jatipurno, berharap pengembangan budidaya semangka dapat terus meluas.
“Kita berharap setiap tahun arealnya semakin berkembang dan tentunya dapat meningkatkan pendapatan petani,” ujarnya.
Pengembangan Agro Wisata Panggil sekaligus menunjukkan bahwa lahan pertanian dapat memiliki fungsi yang lebih luas. Kebun tidak hanya menjadi tempat produksi, tetapi juga dapat menjadi ruang edukasi, interaksi masyarakat, sekaligus pengalaman wisata berbasis potensi lokal.
Bagi masyarakat yang ingin membeli semangka atau merasakan langsung pengalaman memetik semangka dari kebun Agro Wisata Panggil, informasi dan koordinasi dapat dilakukan melalui ketua kelompok tani.
Dari Panggil, semangka bukan sekadar komoditas hasil panen. Buah tersebut menjadi bagian dari upaya mengenalkan potensi pertanian Jatipurno sekaligus membuka peluang baru bagi petani melalui wisata berbasis kebun. Kebun produktif, petani berdaya, wisata pun tumbuh. (Tarmin)












Komentar