Pekikan kata MERDEKA!!! akan menggema di berbagai pelosok wilayah pada momentum rangkaian agenda tujuhbelasan. Tepatnya 17 Agustus 2025, rakyat Indonesia memperingati HUT Ke-80 RI. Pada HUT kali ini mengambil tema Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera Indonesia Maju. Secara pengakuan Indonesia sudah merdeka, namun apakah hakikat kemerdekaan itu sudah diraih?
Berdasarkan informasi yang dirilis www.worldbank.org pada 13 Juni 2025, untuk Indonesia, berdasarkan garis kemiskinan ekstrim internasional yang baru pada tahun 2024, maka 5,4 persen penduduk Indonesia tergolong miskin, 19,9 persen tergolong miskin berdasarkan garis kemiskinan yang umum digunakan di negara-negara berpendapatan menengah ke bawah (LMIC), dan 68,3 persen tergolong miskin berdasarkan garis kemiskinan yang umum digunakan di negara-negara berpendapatan menengah ke atas (UMIC).
Mengacu kepada data Badan Pusat Statistik di www.bps.go.id yang dirilis 25 Juli 2025, Persentase penduduk miskin pada Maret 2025 sebesar 8,47 persen, menurun 0,10 persen poin terhadap September 2024 dan menurun 0,56 persen poin terhadap Maret 2024.
Jumlah penduduk miskin pada Maret 2025 sebesar 23,85 juta orang, menurun 0,21 juta orang pada September 2024 dan menurun 1,37 juta orang di Maret 2024.
Sah-sah saja jika data BPS menyebutkan angka kemiskinan menurun karena sudah berdasarkan hasil survei. Namun, apakah sesuai realita di lapangan? Apakah rakyat Indonesia sudah sejahtera dan tidak berada di bawah berbagai ‘penindasan’? Negara Indonesia kaya raya. Sumber daya alamnya melimpah ruah.
Sebutan Zamrud Khatulistiwa menggambarkan betapa Negeri ini telah diakui kekayaannya yang luar biasa. Keindahan berbagai wilayah Indonesia pun sudah menyedot banyak wisatawan dalam dan luar negeri.
Di laman indonesia.go.id disebutkan bahwa Indonesia kerap dijuluki sebagai negeri serpihan surga yang terlempar ke dunia. Banyak pula yang berkata bahwa Indonesia adalah ‘Tanah Surga’. Bisa dibilang Indonesia merupakan negara dengan 1.001 pesonanya, dari mulai alam, budaya, kuliner, hingga kesenian dan adat istiadat yang beragam.
Keelokan yang dimiliki Indonesia membuat sebuah laman panduan perjalanan online asal Inggris, Rough Guides Ltd, mencatatkan nama Indonesia sebagai salah satu negara yang paling cantik di dunia bersama 10 negara lainnya, di antaranya Kanada dan Skotlandia.
Tak berlebihan jika Koes Plus dalam lirik lagu Kolam Susu menyebutkan orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Menggambarkan betapa tanah Indonesia tanah yang berlimpah potensi dan subur. Namun, saat ini justru kondisi yang tampak kerap menyedihkan. Betapa banyak rakyat Indonesia yang masih belum sejahtera.
Potret kemiskinan masih terlihat di berbagai wilayah, pendidikan yang belum merata, fasilitas kesehatan yang belum memadai di berbagai tempat dan faktor-faktor lain menjadi penyebab kesejahteraan di Negeri ini belum terwujud. Satu hal yang menjadi sorotan masyarakat dan banyak pihak yaitu korupsi yang merajalela di Indonesia.
Korupsi tumbuh subur dan Indonesia bak ilalang. Berbagai intansi muncul koruptor satu per satu. Kondisi banyaknya koruptor tentu memunculkan keprihatinan sendiri. Banyak kritikan demi kritikan dilayangkan masyarakat melalui berbagai media.
Salah satunya yang belum lama ini viral yaitu luapan kritik seorang aktivis, Sahat Safiih Gurning. Dalam status Facebook-nya, Sahat menulis ‘Pancagila’ dilengkapi dengan definisi sebagai berikut: 1. Keuangan Yang Maha Kuasa. 2. Korupsi Yang Adil dan Merata. 3. Persatuan Mafia Hukum Indonesia. 4. Kekuasaan Yang Dipimpin oleh Nafsu Kebejatan Dalam Persengkongkolan dan Kepurak-purakan. 5. Kenyamanan Sosial Bagi Seluruh Keluarga Pejabat dan Wakil Rakyat.
Aset bangsa yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan rakyat malah banyak yang dikorupsi para pejabat. Menjadi PR bersama agar Indonesia benar-benar zero korupsi. Semua pihak harus sama-sama mempunyai tekad dan aksi nyata untuk membebaskan negeri ini dari koruptor. Yaa Allah lindungi negeri kami, anugerahkanlah pemimpin yang amanah, arif, adil, dan menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. (*)
*) Penulis adalah Kaprodi Komunikasi dan Penyiaran Islam [KPI] Staimas Wonogiri












Komentar