Portalika.com [YOGYAKARTA] – Suasana hangat dan dinamis terasa saat 30 peserta wisata sejarah dari berbagai kota tiba pagi hari di Gedung Jl Gadjah Mada No 26 Yogyakarta, Minggu, 17 Mei 2026. Gedung bersejarah yang saat ini digunakan TK Al Husna ini merupakan rumah pertama Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara (KHD) yang dihuni antara tahun 1919-1935.
Gedung ini merupakan saksi bisu berdirinya Perguruan Nasional Taman Siswa pada 3 Juli 1922. Nampak menyambut rombongan dari komunitas Social Movement Institut (SMI) Yogyakarta itu drg Widyawati dan Purbo Wijaya (Cucu KHD), pemilik rumah pertama Ki Hadjar Retno W, Hary Sutrasno (cucu Mr. Kasman Singodimedjo) serta guru-guru TK Al Husna.
“Sebagai keluarga KHD, kami mengapresiasi kegiatan literasi sejarah kebangsaan Indonesia yang kami lihat pesertanya rata-rata anak muda. Mereka berinisiatif menelusuri jejak perjuangan para pendiri bangsa. Kali ini mereka datang dan berdiskusi untuk lebih mendalami perjuangan dan gagasan-gagasan kebangsaan KHD,” ucap cucu KHD, drg Widyawati.
Menurutnya spirit gagasan KHD adalah pendidikan yang memerdekakan dan berbasis budaya sendiri. Trikon gagasan KHD mengajarkan Pendidikan harus kontinyu (berkesinambungan), Konvergen (terbuka) dan Konsentris (berkarakter). Kami gembira mereka dengan semangat menyala mendalami hal ini.
“Sebuah bangsa akan mencapai kemajuan sejati jika mengusai ilmu pengetahuan dibarengi budi pekerti,” jelasnya.
Tentang kegiatan menelusuri jejak perjuangan para pendiri bangsa yang dilaksanakan di Yogyakarta ini sangat didukung oleh Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional (IKPNI) koordinator wilayah (korwil) Yogyakarta.
Hal ini disampaikan Bidang Komunikasi dan Informasi IKPNI korwil Yogyakarta yang sekaligus cucu Pahlawan nasional Mr Kasman Singodimedjo yang hadir dan memberi pengantar kegiatan, Hary Sutrasno.
“Kegiatan ini selaras dengan tugas kami sesuai UU No 20/2009 Tentang Gelar, Tanda Jasa, Dan Tanda Kehormatan. Pada norma pasal 34 ayat (1) disebutkan IKPNI memikul kewajiban formil untuk menjaga dan melestarikan perjuangan, karya, dan nilai-nilai kepahlawanan, serta menumbuhkan semangat kepahlawanan,” ucap Hary.
Sementara peserta kegiatan yang antusias tampak didampingi sejarawan JJ Rizal, Ketua Komunitas Social Movement Institut (SMI) Eko Prasetyo dan koordinator kegiatan Logo Situmorang dari Komunitas Bambu (Kobam) Jakarta.
Social Movement Institut (SMI) adalah lembaga nirlaba dan rumah bagi anak muda yang minat pada tumbuhnya pikiran maju, terbuka dan tidak berpihak. Komunitas didirkan tahun 2013 dan berjuang membentuk identitas anak muda yang setia kepada kebenaran dan keadilan serta merawat dan menyuburkan sikap berani dan kritis.
Untuk kegiatan wisata sejarah kali ini SMI berkolaborasi dengan KOBAM, sebuah lembaga penerbitan independen di Jakarta yang berfokus pada penerbitan buku sejarah, sosial dan humaniora.
Kegiatan menelusuri kembali jejak-jejak perjuangan para pendiri bangsa kali ini merupakaian rangkaian kunjungan situs dan diskusi yang menyasar gedung awal berdirinya Taman Siswa (Saat ini digunakan TK Al Husna), Pura Pakualaman, Museum Dewantara Kirti Griya, Pendapa Taman Siswa dan Makam Wijaya Brata.
Bertujuan mengedukasi generasi muda dengan literasi sejarah untuk memahami ide dan gagasan KHD. Pada sesi diskusi yang dinamis di pendopo Taman Siswa hadir para narasumber budayawan dan alumni Taman Madya Butet Kerterejasa, sejarawan pendiri KOBAM JJ Rizal, Aktivis dan pendiri SMI Eko Prasetyo nampak memberi masukan pula pendiri Laboratorium Sariswara Cak Listyo.
Sebagaimana dicatat sejarah, RM Soewardi Surjaningrat yang karena alasan egaliter kemudian merubah nama diri menjadi KHD adalah Aktivis revolusi Nasional Indonesia, guru, kolumnis dan politisi yang diakui sebagai pelopor pendidikan di Indonesia.
“Kegiatan wisata sejarah ini adalah yang ke 37 kalinya dan baru pertama kali dilaksanakan di Yogyakarta. Kita ingin anak muda tidak lupa dengan sejarah bangsa. Kita ingin anak muda meneruskan dan terus mengorbankan nilai-nilai kejuangan para pendiri bangsa,“ kata koordinator Logo Situmorang, yang merupakan putera penyair Sitor Situmorang. (Yuliantoro)












Komentar