Portalika.com [YOGYAKARTA] – DPD Asosiasi Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (Askopis) Jateng-DIY menyeleggarakan Workshop Nasional dengan tema Membongkar Trik Menulis AI Tetap Original dan Bebas Plagiasi, Kamis, 21 Agustus 2025 di Gedung KH Ibrahim (E7) Lantai 5 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Empat dosen Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam STAI Mulia Astuti Wonogiri ikut hadir dalam kegiatan ini yaitu Atik Nurfatmawati, SE, MIKom, Nadhiroh, SSosI, MIKom, Achmad Zaky Faiz, MSos dan Muhammad Umar Khadafi, MSos.
Workshop nasional ini sekaligus merupakan rangkaian dari kegiatan pelantikan, workshop dan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Dewan Pengurus Daerah (DPD) Askopis Jawa Tengah-DIY di Gedung KH Ibrahim Lantai 5 UMY pada Kamis lalu.
Workshop menghadirkan pemateri ahli dalam bidang IT yang juga dosen di Universitas Muhamadiyah Yogyakarta, Dr Ir Dwijoko Purbohadi MT. Sementara itu moderator kegiatan ini yaitu Kholifatul Fauziah, SSosI, MA. Peserta kegiatan workshop ini merupakan dosen-dosen yang hadir dari Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam di kampus Jawa Tengah-DIY.
Dwijoko selaku pemateri dalam materinya memberikan penjelasan bahwa AI merupakan alat bantu bagi mahasiswa dan tidak terkecuali dosen dalam proses pengajaran. Adanya AI tuntunan pekerjaan yang banyak justru bukan menjadi halangan bagi para dosen ataupun mahasiswa untuk menyelasaikan tugas dengan tepat waktu.
Dwijoko menjelaskan ada begitu banyak tools atau web yang dapat membantu pekerjaan seorang dosen dan mahasiswa. Chat GPT, Scispace, Quillboth dan Open router merupakan empat link web yang Dwijoko sampaikan dalam kesempatan tersebut.
Ia juga memperjelas bahwa penggunaan tools tersebut sebaiknya berlangganan supaya mendapatkan hasil yang sesuai dengan kebutuhan dari masing-masing pengguna.
“Penting bagi masing-masing Prodi untuk berlangganan dengan aplikasi AI untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Butuh jam terbang untuk bisa memanfaatkan AI dengan tepat sehingga bisa menghasilkan artikel yang bisa tembus scopus. Kehadiran AI mempermudah dan memperlancar banyak pekerjaan” ujar Dwijoko.
Ia menegaskan kepada seluruh peserta untuk tidak mengambil sepenuhnya narasi yang dihasilkan oleh AI, masih dibutuhkan resoning dari seorang manusia untuk dapat menelaah kembali sebelum menerbitkan karya yang dihasilkan.
“Yang perlu diingat ketika membuat artikel yaitu tidak menelan mentah-mentah apa yang disajikan AI. Tetap perlu dicek ulang untuk kevalidannya” tambah Dwijoko.
Dwijoko juga menjelaskan kepada segenap dosen supaya mau terus belajar mengenai perkembangan teknologi saat ini. sementara bagi mahasiswa Ia menjelaskan supaya penggunaan AI lebih baik bagi mahasiswa akhir untuk memudahkan mereka dalam menyelesaikan tugas akhir.
“Mau tidak mau suka tidak suka harus belajar AI. Bagi mahasiswa semester I dan II “haram” semester III, IV hukumnya mubah dan V-VIII hukumnya wajib,”pungkas Dwijoko. (Muhammad Umar Khadafi/*)
Editor: Triantotus












Komentar