Portalika.com [SURAKARTA] – Guna melestarikan Wayang Kulit Gagrak Surakarta yang adi luhung, salah seorang dalang muda berbakat asal Kota Solo, Ki Jatmiko Anom Saputro (JAS) menyatakan siap menggelar rangkaian pergelaran Wayang Kulit di dua daerah Jateng.
Dua daerah itu masing-masing di Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, pada Sabtu Pon 25 Juli 2026 dan Minggu Wage 26 Juli 2026 di Kabupaten Semarang.
Jatmiko, salah seorang putra almarhum dalang kondang Kota Solo, Ki Anom Suroto ini mengemukakan, dua pertunjukan tersebut merupakan bagian dari komitmennya dalam melestarikan seni wayang kulit.
Dia berharap kegiatan ini sekaligus bisa menghadirkan pertunjukan budaya yang tetap relevan bagi masyarakat lintas generasi.
“Pergelaran pertama pada Sabtu Pon dalam rangka Bersih Desa Dusun Ngelo, bertempat di Gedung Serba Guna Dusun Ngelo, Desa Jendi, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri mulai pukul 20.00 WIB hingga selesai dengan lakon ‘Wahyu Cakraningrat’,” papar dia yang mengidolakan tokoh Hanuman saat konferensi pers di Kerten, Laweyan, Solo, Kamis, 23 Juli 2026 siang.
Lakon ini, ungkap dia, mengandung pesan tentang kepemimpinan, amanah, kebijaksanaan, dan tanggung jawab dalam menjalankan kekuasaan demi kesejahteraan rakyat. Pergelaran juga akan dimeriahkan oleh penampilan Uut Salsabila sebagai bintang tamu.
Selanjutnya, pada Minggu Wage dia akan kembali menggelar Wayang Kulit dengan lakon “Wisanggeni Krama”. Pakeliran ini digelar dalam rangka resepsi pernikahan Egi Astuti dan Agung Indra Sulistyono yang di Dusun Ngasinan, Desa Timpik, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang.
Pergelaran akan berlangsung mulai pukul 19.00 WIB hingga selesai, sebagai hiburan budaya bagi keluarga besar kedua mempelai dan masyarakat sekitar.
Kedua pementasan di bawah JAS Manajemen ini akan diiringi oleh Sembodo Grup Karawitan (Sedyo Mangesthi Ngrembokoning Budoyo Grup), kelompok karawitan yang akan mengiringi jalannya pertunjukan dengan sajian gendhing-gendhing Jawa sehingga menghadirkan suasana pergelaran wayang yang sarat nuansa tradisi.
Melalui kedua pergelaran tersebut, JAS Manajemen ingin menegaskan bahwa wayang bukan sekadar tontonan, melainkan juga tuntunan yang sarat nilai-nilai kehidupan.
Dia menjelaskan setiap lakon menghadirkan pesan moral mengenai kepemimpinan, kejujuran, pengabdian, toleransi, dan kebijaksanaan yang tetap relevan dengan tantangan kehidupan masyarakat saat ini.
Jatmiko menilai wayang menjadi ruang refleksi sekaligus media pendidikan karakter yang mampu menjembatani nilai-nilai budaya dengan perkembangan zaman.
Dia menegaskan bahwa menjaga keberlangsungan wayang merupakan tanggung jawab bersama. “Wayang adalah warisan budaya yang mengajarkan nilai kehidupan. Melalui setiap pergelaran, kami ingin menghadirkan hiburan yang berkualitas sekaligus mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk semakin mengenal, mencintai, dan melestarikan budaya bangsa.”
Seperti diketahui Ki Jatmiko Anom Saputro merupakan dalang Wayang Kulit Purwa Gagrak Surakarta yang mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan seni pedalangan sebagai warisan budaya bangsa.
Putra maestro pedalangan almarhum Ki Anom Suroto ini, menempuh perjalanan panjang dalam mendalami dunia wayang melalui proses belajar yang berjenjang, bersama keluarga besar pedalangan.
Dibimbing Ki Warseno Slenk
Jatmiko mengutarakan sejak kecil telah tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan nilai-nilai budaya Jawa. Dia diasuh oleh kakeknya, Ki Sadiyun Hardjodarsono, dalang senior yang menanamkan dasar-dasar budi pekerti dan kecintaan terhadap wayang.
Setelah itu, dia memperdalam teknik pedalangan bersama pamannya, Ki Warsena Slenk, khususnya dalam aspek teknis pakeliran seperti dhodhogan, keprakan, dan pengaturan iringan.
Perjalanan belajarnya kemudian berlanjut di bawah bimbingan langsung Ki Anom Suroto melalui tradisi nyantrik, sekaligus menempuh pendidikan seni di Pasinaon Dalang Mangkunegaran (PDMN) Surakarta/Solo, Jateng dan Universitas Indraprasta PGRI (Unindra).
Debutnya sebagai dalang berlangsung tahun 2004, membawakan lakon Bima Suci di Solo. Pengalaman belajar dari tiga generasi tersebut membentuk karakter kepedalangan Ki Jatmiko yang kokoh pada pakem Gagrak Surakarta, namun tetap terbuka terhadap perkembangan zaman.
Dalam setiap pementasan, ia menghadirkan wayang sebagai media hiburan, pendidikan karakter, sekaligus sarana penyampaian nilai-nilai luhur yang tetap relevan bagi kehidupan masyarakat masa kini.
“Tentu saja sebagai dalang muda sesuai eranya, saya juga suka melontarkan kritik kepada berbagai pihak termasuk pemerintah. Terutama jika ada hal yang tidak sesuai dengan norma atau nilai-nilai kebenaran,” tegas dia.
Wejangan Ki Anom Suroto
Pada bagian lain dia juga mengklaim sempat mendapat wejangan atua pesan dari alamarhum ayahandanya Ki Anom Suroto sebelum tutup usia. Pesan itu di antaranya agar dirinya terus menjaga marwah seni tradisi Wayang Kulit Gagrak Surakarta dan menjadikan wayang bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan hidup yang sarat makna.
Karena itu amanah tersebut kini dia wujudkan melalui berbagai pementasan di berbagai daerah, dengan semangat melestarikan budaya, sekaligus memperkenalkan wayang kepada generasi yang lebih luas.
Bersama JAS Manajemen, Ki Jatmiko juga aktif membangun kolaborasi dengan pemerintah, dunia pendidikan, komunitas budaya, media, dan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat ekosistem seni pertunjukan yang profesional.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan pergelaran wayang, kegiatan edukasi budaya, serta berbagai inovasi yang bertujuan menjaga agar wayang tetap hidup dan dicintai oleh generasi masa kini maupun mendatang.
Jatmiko mengutarakan JAS Manajemen merupakan manajemen profesional yang menaungi kegiatan, pengembangan program, serta komunikasi publik Dalang Ki Jatmiko Anom Saputro.
“JAS Manajemen berkomitmen membangun ekosistem seni pertunjukan yang profesional melalui pengelolaan pergelaran wayang, kemitraan dengan pemerintah, dunia pendidikan, dunia usaha, media, dan komunitas budaya,” kata dia.
“Dengan semangat kolaborasi, JAS Manajemen berupaya menghadirkan seni wayang sebagai media pelestarian budaya, pendidikan karakter, diplomasi budaya, sekaligus penggerak ekonomi kreatif berbasis tradis,” tandas Jatmino. (Iskandar)












Komentar