Manusia Akan Diuji, Berikut 3 Kemungkinan Musibah Menurut Syaikh Abdul Qadir al-Jailani

banner 468x60

Portalika.com [Wonogiri] – Allah SWT di dalam firmannya QS Al Baqarah 155 menyebutkan, “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Demikian disampaikan Ustadz Muhammad Ainul Yaqin pada pengajian Ba’da Subuh, Sabtu, 28 Februari 2026 di Masjid Ali Samah al Harby, Perumahan Megatama Indah, Pokoh Kidul, Wonogiri.

banner 300x250

Penceramah yang biasa disapa Kang Yaqin itu menuturkan, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dalam Kitab Al-Fushulul Arbainiyyah menyebutkan bahwa ada tiga kemungkinan ujian yang dialami manusia yaitu
1. Ujian sebagai hukuman (teguran):
Ujian bisa datang sebagai bentuk peringatan atau “hukuman” ringan di dunia akibat kelalaian atau dosa yang dilakukan hamba. Menurut pandangan sufistik, ini adalah kasih sayang Allah agar hamba segera bertobat dan kembali ke jalan-Nya, bukan untuk menghancurkannya.
“Banyaknya bencana banjir itu bisa sebagai hukuman atas ulah manusia seperti penebangan hutan,”imbuh Kang Yaqin yang menjadi peserta Akademi Sahur Indonesia (AKSI) 2025.
2. Ujian sebagai penggugur dosa:
Setiap rasa takut, lapar, dan kesulitan yang dihadapi dengan ikhlas dan sabar oleh seorang mukmin, Syekh Abdul Qadir menekankan bahwa Allah akan menggunakannya untuk melebur (menghapus) dosa-dosa hamba tersebut.
3. Ujian untuk menaikkan derajat:
Ujian adalah alat untuk melemahkan hawa nafsu dan sifat hewani dalam diri manusia. Dengan melewati ujian melalui kesabaran dan keridaan (ridha) terhadap takdir, derajat seorang hamba akan dinaikkan oleh Allah di sisi-Nya, menjadikan mereka lebih dekat kepada Allah.

“Tanda musibah itu hukuman adalah tidak dapat sabar ketika mendapat musibah itu dan banyak mengeluh kepada orang lain. Tanda musibah sebagai pelebur kesalahan adalah sabar, tidak mengeluh, dan tidak merasa berat untuk melakukan ketaatan. Tanda musibah meningkatkan derajat adalah rida dengan musibah itu, hati tetap tentram, dan mudah melaksanakan amal kebaikan bagi hati dan badan,” jelas Kang Yaqin. (Nadhiroh)

Komentar