Meski Indonesia Sedang Tidak Baik-Baik Saja, ISKA Karanganyar Tetap Siap Gelar Mlampah Ziarah HUT ke-81 RI

banner 468x60

Portalika.com [KARANGANYAR] – Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Dewan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (DPC ISKA) Karanganyar, Jateng bakal menggelar aksi jalan kaki spiritual bertajuk Mlampah Ziarah pada Jumat, 14 Agustus 2026 malam.

Siaran pers yang diterima Minggu, 2 Agustus 2026 menyebutkan, kegiatan mlampah ziarah sepanjang kurang lebih 13,5 kilometer ini dirancang menempuh rute dari halaman Gereja Paroki Santo Pius X di Jalan Lawu No 362 Karanganyar dan berakhir (finish) di Gereja Santo Fransiskus Xaverius, Matesih.

banner 300x250

Ketua ISKA Karanganyar, Bernadeta Setyoningsih, mengungkapkan, aksi spiritual ini tidak sekadar untuk memperingati kemerdekaan Indonesia, tetapi juga berangkat dari rasa keprihatinan atas kondisi bangsa yang dinilai sedang tidak baik-baik saja.

“Kami berharap dukungan penuh dari paroki, wilayah, maupun lingkungan untuk mensukseskan kegiatan mlampah ziarah ini,” papar dia yang akrab disapa Bu Ning, saat memberikan sosialisasi dalam pertemuan Paguyuban Pamong Wilayah/Lingkungan (PPL) di Gedung GPP Paroki Santo Pius X Karanganyar.

Rencana aksi mlampah ziarah tersebut mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari Pastor Paroki Gereja Santo Pius X Karanganyar, Romo Tri Widodo.

Dia menekankan pentingnya persiapan teknis serta perhatian ekstra bagi para peserta, terutama bagi umat atau masyarakat berusia lanjut (di atas 60 tahun) yang ingin bergabung melintasi rute 13,5 kilometer tersebut.

Romo Tri Ingatkan Refleksi Kritis Situasi Bangsa 

Lebih dari sekadar fisik, Romo Tri menyebutkan bahwa kegiatan spiritual ini harus menjadi momentum refleksi kritis atas situasi sosial dan politik bangsa saat ini.

“Kegiatan mlampah ziarah bersama ISKA ini bisa menjadi aksi dan refleksi nyata pada HUT Kemerdekaan RI tahun ini, terutama karena melihat fenomena banyaknya pejabat yang tidak mau lagi mendengar suara rakyat,” tegas dia di hadapan pengurus dan perwakilan pamong.

Dalam pertemuan sosialisasi tersebut, Sekretaris Jenderal (Sekjen) ISKA Karanganyar, Vladimir Langgeng Widodo, turut memaparkan profil serta rekam jejak sejarah berdirinya organisasi cendekiawan Katolik ini.

Dia menjelaskan, ISKA didirikan oleh para mantan aktivis PMKRI di Jakarta pada 22 Mei 1958 dengan nama awal Ikatan Katolik Sarjana (IKS). Organisasi ini dibentuk untuk menampung para sarjana Katolik maupun nonkatolik yang mempercayai asas-asas Katolik.

Perubahan nama menjadi Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) disahkan dalam Musyawarah Nasional (Munas) di Bandungan, Jawa Tengah, pada tahun 1964.

“ISKA adalah organisasi masyarakat [Ormas] Katolik yang diatur formal dalam AD/ART dan keberadaannya berada di luar struktur resmi gereja paroki, sejajar dengan ormas lain seperti Wanita Katolik RI [WKRI] yang berdiri 1952, Pemuda Katolik [1945], dan FMKI [2004],” jelas Langgeng.

ICMI Jadi Perbandingan 

Saat ini, Pengurus Pusat (PP) ISKA dipimpin oleh Lucky Yusgiantoro. Langgeng juga menyinggung perbandingan dinamika Ormas keagamaan di Indonesia. Menurutnya, perkembangan ISKA jika dibandingkan dengan organisasi cendekiawan lain seperti ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) yang berdiri 7 Desember 1990 menjadi bahan evaluasi bersama.

“Dinamika perkembangan tersebut tidak terlepas dari kecenderungan gereja di masa lalu yang kadang menjauh dari politik atau alergi terhadap ormas dan partai politik,” tambahnya.

Perjalanan DPC ISKA Karanganyar

Untuk tingkat daerah, DPC ISKA Karanganyar tergolong sebagai kepengurusan yang aktif dan responsif. DPC ISKA Karanganyar resmi dibentuk dan dilantik pada 7 Juni 2025 di Gereja Paroki Santo Antonius Purbayan Solo, bersamaan dengan pelantikan DPC ISKA Solo dan DPC ISKA Wonogiri.

Kepengurusan DPC ISKA Karanganyar dinahkodai Bernadeta Setyoningsih sebagai Ketua dan Vladimir Langgeng Widodo sebagai Sekretaris. Lewat kegiatan Mlampah Ziarah HUT RI ke-81 ini, ISKA Karanganyar berkomitmen untuk terus menghadirkan peran aktif sarjana dan cendekiawan Katolik di tengah isu kebangsaan dan masyarakat umum. (Iskandar)

Komentar